Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 18


__ADS_3

"Alex, tolong urus berkas magang untuk Hanna. Tuan putri Zahra akan menghabisimu jika terlambat diurus," ucap Nicholas kepada Alex.


Dengan nada lemas Alex mulai mengurus berkas Hanna. Karena akan lebih menyeramkan jika Zahra yang mengamuk.


Nicholas yang tengah santai dikejutkan oleh dering ponsel.


"Zahra? Mau minta apa lagi dia?" gumam Nicholas.


"Wait! Tumben Zahra chat di grup keluarga," ucap Nicholas menyadari Zahra mengirim pesan di grup.


"Uhukkkk..."


Nicholas tersedak ketika melihat apa yang Zahra kirim di grup dan langsung menghubunginya secara pribadi.


"Zahra, kau sudah gila?"


"Apa? Aku kan tidak melakukan apa-apa," jawab Zahra bingung.


"Buka matamu dengan benar. Mengapa kau mengirimkannya ke grup keluarga?" sahut Nicholas frustasi.


Zahra pun membuka grup keluarga. Ia tak bereaksi apapun karena memang Zahra sengaja mengirimkannya untuk memperlihatkan seperti apa sahabatnya itu.


"Oh itu. Lalu kenapa? Kenapa kakak terdengar sangat kesal?" ucap Zahra dengan polosnya.


"Ah, sudahlah."


Nicholas menutup telepon dengan perasaan dongkol.


Zahra tersenyum puas melihat papa dan mamanya merespon foto yang ia kirim di grup keluarga. Foto yang ia beri caption 'seperti tupai' itu benar-benar terlihat lucu hingga papanya yang kaku juga tertawa.


[Itu siapa sayang?]


[Temen Zahra ma,]


[Kok lucu sekali, nanti kenalin sama mama yaaaa]


Melihat pesan dari mamanya itu, Zahra menghela napas karena ia tahu jika ia memperkenalkan Hanna kepada mamamnya pasti akan panjang urusannya. Belum lagi, mamanya yang sedang mencarikan jodoh untuk Nicholas. Pasti Hanna tak lepas dari penilaian mamanya.


Meski Zahra yakin Hanna akan lolos dari penilaian mamanya, ia tetap tak ingin Hanna disulitkan oleh mamanya sendiri.


[Lain kali saja ma.]


Zahra langsung mematikan ponselnya karena ia sedang malas mendengarkan ocehan mamanya.


"Hanna, sudah habis?"


"Sudah," sahut Hanna menoleh ke arah Zahra.


"Kau, sudah bertemu bosmu?" tanya Zahra penasaran dengan reaksi Hanna.


"Belum. Memangnya kenapa?"


"Tak apa, nanti kita nonton bioskop ya. Aku sudah membeli tiketnya," ajak Zahra sambil memamerkan dua buah tiket.


Hanna menghela napas berat dan tersenyum agak kaku.


Zahra memang selalu begitu, seolah-olah energinya tidak bisa habis. Ia sangat sering mengajak Hanna pergi bermain. Ia tidak akan berhenti sebelum merasa puas.


Setelah Zahra selesai mengajar, mereka langsung pergi menuju bioskop. Bukan Zahra Zafarani Wijaya namanya jika tidak menyetir dengan ugal-ugalan.

__ADS_1


Hanna saja sampai mual jika Zahra sedang kumat gilanya. Sedang Zahra hanya nyengir kuda melihat Hanna begitu tersiksa oleh ulah dirinya.


Nicholas bahkan hingga menyerah ketika Zahra sedang menggila. Jangankan untuk protes, membuka mulut saja ia tak akan berani.


...****************...


Pagi-pagi sekali Hanna sudah bersiap rapi. Sedikit gugup, tapi ia harus terlihat profesional ketika nanti berada dihadapan bosnya.


"Pagi Mr. Alex," sapa Hanna ramah ketik melihat Alex sudah ada di meja kerjanya.


"Pagi."


"Ah, Hanna! Tolong buatkan aku kopi di pantri. Gulanya satu sendok saja," sambung Alex dengan wajah lelah.


"Baik, Mr."


Ketika Hanna sedang membawa kopi yang diminta Alex, saat itu bertepatan dengan Nicholas yang datang menuju ruangannya. Hanna sangat terkejut hingga menjatuhkan kopi yang dipegangnya.


"Selamat pagi Bos!" sapa Alex


Prang...


Nicholas sontak menoleh kearah suara itu.


"Kamu!" seru Hanna.


Nicholas yang memasang tampang datar andalannya.


"Alex, tolong nanti antarkan laporan keuangan bulan ini ke ruanganku."


"Juga berkas magang miliknya," ucap Nicholas sambil melirik Hanna.


Hanna yang masih mematung belum sadar jika Alex terus menatapnya agar ia membersihkan kopi yang ia tumpahkan di lantai.


"Kau mau sampai kapan berdiri di sana?" tanya Alex.


Hanna langsung tersadar dan membersihkan lantai.


Hanna kembali ke meja kerjanya dan karena ia belum diterangkan mengenai jobdesknya, ia hanya bisa menunggu Alex keluar dari ruangan Nicholas.


Hanna menatap pintu ruangan Nicholas dengan penuh rasa kesal. Bisa-bisanya ia tak bertanya kepada Zahra terlebih dahulu kepada siapa ia akan bekerja.


"Sial... Sial... Sial..." gerutu Hanna.


"Hanna! Masuklah," panggil Alex yang menyembulkan kepalanya dari pintu ruangan Nicholas.


Hanna yang terkejut refleks langsung berdiri.


Ini pertama kalinya Hanna memasuki ruangan Nicholas. Ia begitu terkesima dengan interiornya yang sederhana namun sangat elegan dan nyaman.


Tidak diragukan lagi, seorang bos dari perusahaan besar pastilah punya selera yang bagus dalam hal apapun.


"Hanna, ini Mr. Nicholas. CEO perusahaan ini. Kedepannya kamu akan menjadi asistennya. Kamu bertanggungjawab atas semua jadwal kegiatannya," jelas Alex panjang lebar.


Hanna hanya mengangguk sambil berusaha mencerna apa yang dibicarakan Alex.


"Baiklah, ini berkas magangmu yang sudah disetujui Mr. Nicholas. Kamu serahkan ke bagian administrasi, lalu berkas ini tolong kamu serahkan kebagian keuangan di lantai 5."


Hanna masih plonga-plongo belum berhasil mencerna ucapan Alex sepenuhnya. Namun, ketika melihat Nicholas berdiri dan berjalan kearahnya ia sedikit memundurkan badannya.

__ADS_1


"Selamat bekerjasama dengan ZN Group. Mohon bantuannya," ucap Nicholas mengulurkan tangan minta berjabat tangan dengan Hanna.


Dengan perasaan kesal dan terpaksa, Hanna menyambut uluran tangan Nicholas sambil tersenyum kaku.


"Baik Mr, saya juga mohon bantuannya. Kalau begitu saya permisi dulu Mr." pamit Hanna.


"Baiklah, aku harus menyerahkan berkas ini dulu. Eh! Tapi kantor administrasinya di mana ya?"


"Ah! Bodohnya aku..."


Karena belum tau letak kantor administrasi, Hanna pun memutuskan untuk menyerahkan berkas ke bagian keuangan terlebih dahulu.


Ditengah Hanna yang kebingungan, Alex dan Nicholas asik mengghibahi Hanna di ruangan Nicholas. Alex sangat puas menggoda Nicholas yang tadi terlihat gugup dengan daun telinga yang memerah ketika ada Hanna.


"Pak bos, kalau suka itu dikejar. Hahaha..."


"Diamlah, setan! Aku punya caraku sendiri. Kalau pakai caramu itu sesat," sahut Nicholas kesal.


"Jadi sebenarnya Pak bos itu maunya bagaimana? Kalau Pak bos aja nggak pasti, gimana Nona Hanna mau sama Pak bos," tanya Alex yang terkadang bingung melihat sikap bosnya yang plin-plan.


Nicholas mulai kesal dengan ocehan Alex yang tak berguna. Ingin rasanya ia mengikat mulut Alex yang begitu cerewet.


"Kerjakan itu! Siang ini aku ada meeting," ucap Nicholas memberikan setumpuk berkas kepada Alex.


Alex menelan ludah, ia baru baru saja selesai lembur malah sudah disuruh lembur lagi.


"Pak bos kejam sekali, aku kan baru selesai lembur. Aku mengantuk Pak bos," tawar Alex.


Melihat wajah memelas Alex, Nicholas pun berbiak hati, "Oh. Baiklah, berkas ini sekalian. Sama-sama Lex."


Melihat tumpukan berkas yang begitu tinggi membuat Alex menelan ludah dan hanya mengambil berkas pertama yang sodorkan kepadanya. Jika bosnya sedang PMS memang begitu. Sangat kejam. Tapi kalo sama Nona Zahra pasti tak akan berani dia begitu. Yang ada habis dia ditangan Nona Zahra.


Setelah mengambil berkas, Alex langsung ngibrit keluar dari ruangan Nicholas. Lalu, terselip ide jahil di otaknya untuk meminta bantuan Hanna mengerjakan berkas-berkas menyebalkan itu.


Sembari ia mengajari Hanna tetang tugasnya, Hanna juga harus praktek secara langsung agar cepat terbiasa dengan perkejaannya. Terlebih, Nicholas gila itu memberi bayaran yang tak main-main untuk Hanna. Padahal Alex yang sudah bekerja lama dengannya malah tak pernah ada kenaikan gaji.


"Sudah kamu serahkan berkasmu?" tanya Alex ketika melihat Hanna keluar dari lift.


Dengan raut sedikit lesu dan lelah Hanna mengangguk pelan. Alex hanya menatapnya bingung tanpa bertanya apa-apa.


"Bantu aku kerjakan berkas ini, siang ini akan dipakai meeting Mr. Nicholas."


Hanna langsung mengambil berkas dari tangan Alex dan berusaha memahami isi berkasnya. Setelah 15 menit memahami berkas itu, Hanna langsung mengerjakannya dengan kecepatan kilat.


"Mr. Alex, berkasnya sudah selesai. Harus kuletakkan dimana?" tanya Hanna.


Alex mengerutkan kening meminta berkas itu untuk ia periksa. Dengan serius Alex membolak-balik lembaran berkas itu.


"Ka-kamu kerjain ini cuma 20 menit? Ko-kok bisa?" tanya Alex sangat terkejut.


"Memangnya berkas itu sesulit itu ya?" tanya Hanna balik.


Alex memijit pangkal hidungnya pelan. Ia tak habis fikir dengan kemampuan Hanna yang tak beda jauh dengan Nona Zahra.


"Baiklah, kamu serahkan berkasnya ke Mr. Nicholas."


Hanna mengangguk dan berlalu pergi untuk menyerahkan berkas tersebut.


"Oh iya, Hanna. Tolong ingatkan Mr. Nicholas bahwa nanti malam ada pertemuan dengan Tuan muda Hamilton."

__ADS_1


Hanna mengangguk lagi dan menghilang dibalik pintu ruangan Nicholas.


__ADS_2