
Ethan yang sudah kembali tenang langsung berjalan sambil memegang beberapa tisu. Ia berjongkok hendak mengelap tetesan darah Hamilton yang menetes ke lantai.
Dengan rasa menyesal ia membersihkan bekas darah putranya dengan sepenuh hati.
"Tuan besar, biar saya saja," ucap salah seorang pelayan yang masuk karena disuruh oleh pengurus rumah.
"Kakek buyut, kapan kakek buyut pulang?" sapa Ezra ketika masuk bersama salah seorang pelayan.
Ethan langsung menghampiri Ezra dan menggendongnya.
Ethan menoleh dengan senyuman hangat, "Tolong ya, bersihkan dengan baik."
Pelayan yang disuruh pun mengangguk patuh sembari tersenyum tipis. Sedangkan Ethan, pergi mengajak Ezra bermain.
Sudah sangat lama ia tak bertemu dengan Ezra. Cucu mendiang putra keduanya itu tumbuh menjadi anak yang sangat periang dan baik hati.
"Uyut, kapan-kapan bawa Ezra ke Jepang ya, uyut. Ezra mau bikin kebun buah uyut bangkrut," ucap Ezra sambil tertawa tanpa dosa.
Ethan ikut tertawa mendengar ide licik Ezra yang dilontarkan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia persis seperti putra keduanya yang sangat licik.
"Dengan perut kecilmu itu kau tak akan bisa membuatku bangkrut, anak nakal," sahut Ethan sambil menoel-noel perut imut Ezra yang sedikit buncit.
Ezra langsung memasang wajah cemberut karena merasa Ethan meremehkan dirinya dan perut menggemaskan miliknya itu. Ethan sontak tertawa keras.
Zicho yang sedang lewat bahkan hingga terkejut mendengar suara tawa Ethan. Zicho yang hampir marah setelah melihat itu Ethan dan Ezra pun tak jadi dan memilih pergi diam-diam daripada dijajah Ethan untuk terus bekerja.
"Kau mau kemana?" tanya Ethan menatap Zicho dari atas hingga bawah.
"A-aku.... "
"Tak usah bermain lagi, selesaikan pekerjaanmu itu dulu."
Zicho langsung terdiam. Ia menggerutu di dalam hati mengapa ia harus ketahuan Ethan disaat ia ingin menemui Hanna.
Dengan berat hati Zicho berbalik hendak kembali ke ruang kerjanya.
"Zicho," panggil Ethan.
Zicho langsung kembali berbalik, "Kenapa ?"
"Grandpa menentang perjodohanmu," ucap Ethan tiba-tiba.
Zicho langsung tersenyum cerah karena dengan begitu, ia masih memiliki kesempatan untuk mengejar Hanna.
__ADS_1
"Nah! Kalau begitu, aku mau pergi mencari pacar dulu grandpa," ucap Zicho bersiap kabur.
"Pekerjaan itu biar grandpa saja yang kerjakan.... " teriak Zicho sambil berlari.
Ethan langsung mengomel dengan berteriak. Ia bahkan lupa bahwa ada Ezra.
"Uyut, jangan teriak-teriak. Telinga Ezra sakit," omel Ezra dengan nada menggemaskan.
Ethan tertawa kikuk dan hanya bisa mengalihkan perhatian Ezra. Ia mengajak Ezra pergi ke taman untuk menangkap capung.
Ezra yang polos pun hanya menurut asal kakek buyutnya tidak teriak-teriak lagi seperti tadi meneriaki Zicho.
Sambil ngedumel, Ethan menuntun Ezra hati-hati.
"Uyut, di sekolah Ezra ada kakak cantik loh. Uyut mau lihat nggak?"
"Wah, iya? Ezra suka ya sama kakak cantik?"
Ezra terus berceloteh menceritakan banyak hal. Ethan dengan setia mendengarkan celotehan Ezra yang seolah tak ada habisnya.
Ethan yang mulai lelah mendengarkan cicitnya ngoceh pun menyuruh Ezra agar tidur siang. Ia masih memiliki banyak pekerjaan yang belum selesai. Ditambah lagi pekerjaan yang tadinya ia limpahkan ke Zicho.
"Cucu nggak ada akhlak," gerutu Ethan.
Setelan rapi lengkap dengan jas membuat Hamilton tampak sangat berwibawa. Bahkan ia terlihat lebih muda dari umurnya.
Ia dengan penuh kepercayaan diri pergi ke ZN Group membawa harapan bisa bertemu dengan Nicholas secara langsung atau bertemu dengan Wijaya pun tak masalah. Tapi sayangnya, tak satupun diantara keduanya yang bisa ia temui. Ia hanya melihat Hanna yang duduk di salah satu meja kerja sekretaris.
"Hanna?"
Hanna langsung mendongak memeriksa siapa yang memanggil dirinya.
"Ah, anda. Bagaimana bisa anda di sini?" tanya Hanna ramah.
Hanna berusaha bersikap dan berekspresi senormal mungkin. Ia tak ingin di curigai oleh ayahnya Zicho.
"Aduh, maaf sekali. Mr. Nicholas sedang tidak ada di tempat. Jadwalnya penuh hingga minggu depan," sahut Hanna ketika ditanya keberadaan Nicholas oleh Hamilton.
"Ah, begitu. Ya sudah, tak apa."
"Oh iya, sekarang sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama di kantin?" tawar Hamilton.
Di otaknya terbesit ide licik untuk mengorek informasi mengenai Hanna. Hanna yang sudah lapar pun setuju saja dengan penawaran Hamilton. Lagi pula mereka makan di kantin perusahaan.
__ADS_1
Hamilton tersenyum bangga, ia akan memanfaatkan waktu tersebut dengan sangat baik.
Hanna terus saja memasang wajah polos seolah tak menyadari ada siasat tersembunyi dibalik ajakan Hamilton.
"Ayo, sebelum jam makan siang habis," ajak Hamilton mengulurkan tangan.
Hanna tersenyum dan berjalan sendiri. Ia sangat enggan mengulurkan tangannya dan memberikannya kepada Hamilton. Alhasil, mereka hanya berjalan beriringan.
Sembari menyantap makan siang, Hamilton terus saja mengoceh membicarakan mendiang istrinya, Emily. Sesekali Hanna merasa tak nyaman. Terlebih lagi, ketika Hanna sudah selesai makan tiba-tiba Hamilton mengatakan bahwa dirinya adalah putrinya yang hilang.
"Saya tidak mengerti maksud anda," sahut Hanna.
"Iya, kamu itu putriku yang hilang. Kamu sangat mirip dengan ibumu dalam segala hal," ucap Hamilton.
Lalu Hamilton mengulurkan sebuah foto bayi yang begitu cantik. Mata Hanna membulat membuat Hamilton semakin yakin bahwa Hanna adalah putrinya.
"Ssa-saya ... "
"Hanna! Kamu dipanggil bagian marketing," panggil salah seorang sekretaris.
"Saya permisi dulu tuan Hamilton," pamit Hanna bergegas pergi.
Hanna memang memiliki janji meeting dengan tim marketing setelah makan siang. Tapi siapa sangaka mereka ingin meeting dilakukan lebih awal.
Hamilton menghela napas penuh kecewa. Akan tetapi, bukan Hamilton namanya jika menyerah begitu saja. Ia langsung menuju meja resepsionis dan meminta kontak Hanna di sana.
Hamilton pulang dengan ekspresi kecewa. Ia akan terus mencari bukti untuk membuktikan bahwa Hanna adalah putri kandungnya yang telah lama hilang.
"A-ayah. Ayah ngapain di sini?" tanya Zicho yang baru datang.
"Ah, ayah mencari Nicholas tadi. Tapi dia tak ada," sahut Hamilton santai.
"Oh, Nicholas. Tadi Nicholas bersamaku di restoran. Coba tadi ayah bilang," sahut Zicho sangat menyayangkan.
Hamilton yang sudah tak memiliki kepentingan apapun langsung pamit pulang kepada putranya.
Ditengah perjalanan pulang, Hamilton baru ingat sesuatu, "Aih, kenapa aku lupa tanya anak nakal itu ngapain keluyuran. Bisa-bisa kena amuk Daddy nanti dia," ucap Hamilton frustasi.
Tapi masih sudah jadi bubur. Hamilton yang yang menghawatirkan putranya tiba-tiba tersenyum.
"Sepertinya nanti akan ada tontonan bagus jika di ketahuan Daddy keluyuran," ucap Hamilton tertawa jahat.
Sudah sangat lama ia tak melihat ayahnya marah karena kelakuan cucunya yang bandel itu. Ia sangat menantikan pertunjukan seperti apa yang akan menghibur malam ini.
__ADS_1