
Pagi-pagi sekali Hanna sudah sangat sibuk mondar-mandir di kantor Nicholas. Ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum jam makan siang karena ia harus mengembalikan dompet Zicho ke Hamilton company.
"Mr, ini berkas yang anda minta."
"Oh iya Mr, pekerjaan saya hingga setelah jam makan siang sudah selesai semua. Saya ingin izin untuk pergi sebelum jam makan siang," izin Hanna sedikit takut sebenarnya.
"Ke mana?"
Hanna diam mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Nicholas. Karena tak memungkinkan jika Hanna menjawab hendak pergi ke Hamilton company.
"Ah, sudahlah. Pergilah," ucap Nicholas pasrah karena tak ingin berdebat.
Hanna pun keluar ruangan Nicholas dengan senang hati. Namun, ada satu orang yang sedang menatapnya dengan seram. Siapa lagi jika bukan Alex. Ia sedang menyelidiki kenapa Hanna keluar ruangan Nicholas dengan wajah yang sumringah. Padahal Nicholas hari ini sedang begitu kejam karena moodnya buruk.
"Kau terlihat senang sekali," celetuk Alex.
Hanna hanya nyengir kuda menanggapinya.
Alex sedikit cemburu karena Nicholas memperlakukan Hanna dengan sangat baik. Berbanding terbalik jika kepada dirinya.
"Kau bekerja giat sekali hari ini? Ada apa?" Tanya Alex penasaran.
Hanna yang sudah mendapat izin dari Nicholas pun membereskan tasnya dan hendak bergegas pergi.
"Kau mau ke mana?" Tanya Alex kebingungan karena hari ini tak ada jadwal di luar kantor.
"Aku mau pergi sebentar dan aku sudah mendapat izin dari Mr. Nicholas," jawab Hanna dengan tersenyum.
"Hei, pergi kemana?" Teriak Alex.
"Jangan kepooo," sahut Hanna setengah berlari mengejar lift.
Alex yang belum puas dengan jawaban Hanna langsung nyelonong masuk ke ruangan CEO.
"Pak bos, Nona Hanna mau kemana?" Tanya Alex sambil menunjuk arah pintu.
"Apa sekarang profesimu berubah Lex? Aku rasa, aku tak pernah mempunyai jabatan tukang kepo di perusahaan ini," ucap Nicholas dengan nada dingin.
"Bu-bukan begitu, tapi ini kan masih jam kerja."
Nicholas menatap Alex tajam tanpa berkata apa-apa. Alex yang menyadari tatapan Nicholas pun langsung berhenti bicara dan menelan ludah.
"Ah iya, aku baru ingat! Aku masih punya setumpuk berkas yang harus ku kerjakan," ucap Alex sambil berjalan mundur perlahan.
"Pa-pamit dulu bos," sambungnya ngacir keluar dari ruangan Nicholas.
Nicholas benar-benar tidak mengerti Alex sedang kesambet apa hingga menanyakan Hanna pergi kemana. Padahal yang menyukai Hanna kan dirinya.
"Oh iya, dia belum laporan padaku," gumam Nicholas langsung mencari ponselnya.
Nicholas meraba semua saku celana dan jas nya. Namun, hasilnya nihil. Tak ada satu pun saku yang berisi ponselnya. Nicholas bahkan mencarinya hingga ke setiap sudut di ruangannya.
Karena tak kunjung ketemu, Nicholas keluar dan meminta tolong Alex untuk membantu mencari poselnya. Nicholas yang sudah sangat frustasi hanya berdiri sambil berusaha mengingat-ingat terakhir kali ia meletakkan ponselnya.
Sedang Alex mencoba mencari sambil menelepon ke ponsel bosnya yang tidak ada akhlak itu. Kecerobohan Nicholas sudah sangat biasa bagi Alex. Jadi, ia pun sudah siap sedia mengantisipasi kejadian tak terduga lainnya yang disebabkan oleh Nicholas.
__ADS_1
"Bos, ini apa? Apa bos mencarinya menggunakan mata kaki?" Tanya Alex sambil mengacungkan ponsel Nicholas yang ternyata berada di sela-sela berkas yang menumpuk di mejanya.
Nicholas tersenyum tak ikhlas dan langsung mengusir Alex untuk kembali bekerja.
"Baiklah, selesaikan berkasmu sebelum jam 2 siang ini. Tidak ada bantahan."
Alex langsung menggerutu, "Bos, habis ditolong itu bilang terima kasih. Bukan malah nyuruh kerja rodi."
"Oke, selesaikan sebelum jam 1 siang ini."
Alex menghela napas berusaha menahan emosi dan memilih berlalu pergi daripada Nicholas makin menjajahnya.
Di lain sisi ketika Alex sedang frustasi karena memiliki bos seperti Nicholas, Hanna baru turun dari taksi di depan gedung Hamilton company.
"Wah, kenapa aku baru tahu ada perusahaan sebesar dan sebagus ini?"
Hanna terkesima dengan arsitektur Hamilton company yang begitu megah.
"Sadar Hanna, kamu ke sini mau kembaliin dompet," ucap Hanna sembari menepuk pipinya agar tersadar.
Hanna langsung masuk dan menuju ke meja resepsionis, "Permisi mbak."
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Sahut seorang resepsionis cantik dibalik meja.
"Pak Zicho ada? Saya ingin bertemu," ucap Hanna sambil tersenyum.
"Mohon maaf, apa sebelumnya sudah membuat janji?"
"A-anu, belum mbak. Apa bisa menemui Pak Zicho sekarang? Ini penting mbak,"
"Sebentar ya, saya coba tanyakan dulu," sahut si resepsionis.
"Maureen," sahut Hanna.
Setelah menunggu resepsionis berbicara di telepon, Hanna pun tetap tak bisa mengembalikan dompet itu secara langsung kepada Zicho.
"Baiklah, saya titip ini ya mbak untuk Pak Zicho. Bilang saja dari Hanna," ucap Hanna kepada resepsionis dan langsung berlalu pergi karena Hanna harus kembali bekerja.
Siang terik membuat perut Hanna mulai meronta-ronta minta diisi.
Tak lama setelah Hanna pergi, Zicho turun hendak makan siang dan mengetahui Hanna yang belum jauh ia langsung berlari mencoba menyusul Hanna.
"Hanna!" Panggil Zicho sembari berlari menghampiri Hanna.
"Eh, tadi bukannya kau bilang sibuk?" Tanya Hanna keheranan.
"Iya kah? Tapi tak ad yang bilang kau datang," sahut Zicho ikut bingung.
"Oh, jangan-jangan Nona Maureen itu kamu?" Sambung Zicho.
Hanna hanya menjawab dengan ekspresi kikuk dan mengangguk pelan.
"Ah, rupanya. By the way, makasih ya dompetnya."
"Boleh aku traktir kamu makan siang?"
__ADS_1
Hanna terdiam sejenak lalu setuju untuk pergi makan siang bersama Zicho. Entah mengapa, setiap Zicho mengajak pergi Hanna selalu bimbang hendak menerima atau menolaknya.
Mereka pun pergi menuju restoran di dekat perusahaan Nicholas agar Hanna tidak terlalu jauh dan Zicho sekalian mengantar Hanna kembali.
Restoran yang cukup mewah di dekat ZN Group memang terkenal makanannya enak-enak.
Zicho memesan hampir semua menu yang menjadi best seller. Hal tersebut sukses membuat Hanna melongo meski ia tahu bahwa Zicho bukanlah orang yang kekurangan uang.
"A-apa ini tak terlalu banyak?" Tanya Hanna pada Zicho sedikit berbisik.
Zicho tersenyum penuh arti. Hanna malah jadi kebingungan melihat Zicho yang seperti itu.
"Makanlah yang Kamu suka, aku yang traktir."
Dengan rasa sedikit tak enak hati, Hanna memilih makanan yang menarik perhatian yang ingin dicobanya.
Jam yang menunjukkan hampir pukul 1 siang memaksa Hanna mengakhiri makannya karena jam makan siang sudah hampir usai. Meski pekerjaannya sudah selesai, Hanna tentu tidak mau disebut makan gaji buta.
Zicho pun berinisiatif mengantar Hanna hingga lobby ZN Group. Awalnya Hanna menolak, tetapi ketika ia mendapat pesan dari Alex agar segera kembali ia berubah pikiran dan menerima tawaran Zicho yang ingin mengantarnya kembali.
"Terima kasih untuk makan siangnya," ucap Hanna sebelum turun dari Mobil Zicho.
Zicho tersenyum puas, "Ah tidak, tidak. Aku sebelumnya kan berhutang makan siang yang tenang kepadamu."
"Ah! Waktu di restoran milikmu itu? Baiklah, aku terima ganti ruginya. Kalau begitu, aku permisi dulu."
Baru satu langkah Hanna memasuki lobby, ponselnya terus saja berdering dan ternyata Alex meneleponnya.
"Ha-"
"Kau di mana? Kau sudah gila ya? Cepatlah kembali!" serobot Alex langsung mematikan panggilan.
Hanna pun keheranan mengapa Alex bersikap demikian, "Ah sudahlah. Sebaiknya aku bergegas."
Hanna terus saja melirik arloji kecil di lengan kanannya. Sedikit khawatir karena nada bicara Alex yang terdengar marah.
Setelah lama menunggu lift, Hanna langsung menuju ruang kerjanya. Baru keluar dari lift, ia melihat Alex yang menunduk dalam di hadapan Nicholas.
Terlihat jelas raut tak sedap Nicholas dari samping. Nyali Hanna pun menciut melihatnya. Dengan pelan Hanna melangkahkan kaki menuju mejanya.
Sedang Nicholas yang mendengar suara sepatu Hanna yang beradu dengan lantai memilih untuk menyudahi amarahnya kepada Alex dan masuk kembali ke ruangannya.
Hanna mendekat, "Ada apa? Kenapa pak CEO marah?"
Alex langsung menatap Hanna tajam.
"A-ada apa?" tanya Hanna sedikit terbata.
Alex langsung menyambar sebuah berkas bermap biru di mejanya.
"Ini apa? Kamu bisa kerja kan?" tanya Alex dengan nada sedikit menusuk.
Hanna menatap Alex bingung dan langsung memeriksa berkas tersebut.
"I-ini bukan bagianku," ucap Hanna dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bagianmu atau bukan aku tidak mau tahu. Nyatanya, berkas itu ada dalam pekerjaan yang kamu serahkan kepada CEO pagi ini," sahut Alex yang sudah sangat marah.
"Kalian ribut sekali!"