
Di dalam kamar, Hanna berpikir keras mengapa ia diculik oleh Bella. Belum lagi, tatapan dokter Emily terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Tatapan dengan sorot mata yang aneh.
Hanna yang terkurung dalam kamar tanpa jendela berkali-kali mengetuk pintu ingin menanyakan jam kepada bodyguard yang berjaga di depan pintu karena barang-barang miliknya tak ada.
Setiap jam makan, Emily masuk mengantarkan makanan dan menemani Hanna makan. Sesekali mereka juga mengobrol. Hanya obrolan ringan yang Emily jawab karena ia hanya boleh melakukan apa yang diperintahkan oleh orang yang menyuruhnya.
"Emily, kamu mengenal Bella?"
"Tentu saja, kenapa?" Tanya Emily balik.
Sembari menghabiskan makanannya, Hanna terus bertanya kepada Emily tentang apa-apa yang ingin dia ketahui.
"Emily, dari sejak aku sadar aku terus bertanya-tanya mengapa aku dibawa kemari. Sebenernya apa tujuannya?"
"Mmmm, itu ya.... " Ucap Emily sambil berpikir.
"Itu, rahasia." sambung Emily sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi membawa piring-piring kotor itu untuk dicuci.
Hanna kembali duduk termenung sendirian. Ia harus mencari cara untuk segera keluar dari sana. Ia tahu itu sedikit mustahil, tapi suara batinnya lagi-lagi menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat itu.
Disaat-saat genting seperti itu otak Hanna malah mendadak tumpul. Hanna bahkan sudah berusaha keras menyusun rencana pelarian dirinya, tapi tetap saja otaknya tak memunculkan ide satupun. Hanna sampai hampir putus ada, tetapi tiba-tiba ia mendapatkan sebuah ide gila.
"Iya, begini saja. Sepertinya bisa," gumam Hanna penuh harap.
Sudah hampir dua malam Hanna terjebak disana, tapi tak ada tanda-tanda orang yang memerintahkan untuk menculik dirinya muncul.
"Sialan, sebenarnya siapa sih yang menculikku begini?" gerutu Hanna kesal.
Tak lama ketika Hanna sedang mondar-mandir meyakinkan diri dengan rencana pelarian dirinya itu Emily datang membawa makanan seperti biasanya.
__ADS_1
Sesekali Hanna menatap Emily menyelidik. Ia merasa ada yang berbeda dengan Emily, tapi entah apa. Hanna pun mulai melahap makanan yang Emily bawakan. Di tengah-tengah ia makan, kesadaranya memudar perlahan. Samar-samar ia melihat Emily tersenyum jahat ke arahnya.
"E-mi-ly, A-p.... " kesadaran Hanna pun hilang sepenuhnya.
"Tidurlah Hanna, aku hanya perlu darahmu sedikit saja." ucap Emily.
Dua bodyguard yang berjaga di luar pintu segera masuk telah dipanggil Emily. Ia menyuruh mereka untuk merebahkan Hanna di kasur. Sementara ia bersiap untuk mengambil darah Hanna.
Tak terasa, Emily sudah mengambil darah Hanna sebanyak satu kantong.
Dengan senyum puas, Emily memandangi sekantong darah Hanna di tangannya itu. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Emily meninggalkan Hanna begitu saja.
Hari-hari berikutnya pun sama, Hanna dijadikan bank darah hidup oleh Emily. Rencana pelarian dirinya pun gagal.
...****************...
Nicholas mulai frustasi, lantaran Hanna tak kunjung ditemukn dan ini sudah lewat 3 hari.
"Ma, jangan kasih tau Zahra soal hal ini. Jika dia tau pasti aku langsung dibunuhnya nanti," rengek Nicholas kepada Rosa.
Rosa sontak memukul lengan Nicholas karena ia merasa sia-sia mengkhawatirkan putranya yang tengah kalut karena istrinya menghilang. Tapi rupanya, putranya itu lebih takut dibunuh adik perempuannya sendiri.
Nicholas yang dipukul malah hanya nyengir tanpa dosa.
"Bos, kami menemukan jejak mobil yang menculik Nona," laporan salah seorang anak buah Nicholas.
"Kirimkan lokasinya dan pusatkan pencarian di sekitar sana," sahut Nicholas tegas.
Rosa menghela napas lega mendengar laporan itu. Sedang Wijaya mungkin terkesan cuek, tapi justru ia lah yang berkorban banyak karena ia yang menggantikan Nicholas mengerjakan sebagian besar urusan perusahaan.
__ADS_1
Sekarang saja Wijaya masih di ruang kerja. Tapi meski demikian, Wijaya tetap tau kabar pencarian menantunya karena ia juga menyuruh tangan kanannya untuk turun mencari keberadaan menantunya yang diculik.
"Ma, Nazriel pamit ke lokasi dulu. Tolong bilangin papa, Nazriel titip soal perusahaan dulu sebentar."
"Bye, Ma." Nazriel mencium pipi Rosa lalu berlari keluar.
"Hati-hati, sayang." Teriak Rosa tanpa beranjak dari duduknya.
Nicholas merespon dengan mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh. Ia harus buru-buru sampai di lokasi karena sangat khawatir dengan kondisi Hanna. Hanna pasti lah ketakutan sendirian.
Di tengah perjalanan menuju lokasi, Nicholas mendapatkan sinyal dari ponsel Hanna. Nicholas pun melacak lokasi sinyal ponsel Hanna.
"Kirimkan satu kelompok ke lokasi ini," ucap Nicholas menelepon anak buahnya.
Anak buahnya pun langsung mengirim satu kelompok orang untuk mengecek lokasi dimana sinyal ponsel Hanna berada. Sedang Nicholas tetap pergi ke lokasi dimana jejak taksi yang menculik Hanna ditemukan. Terlebih lagi disana ditemukan jasad seseorang yang kemungkinan adalah sopir taksi itu.
"Bagaimana kondisinya?"
"Tidak terlalu bagus. Wajahnya rusak sebagian. Mungkin agak sulit dikenali. Kami sudah menyuruh orang untuk memanggil beberapa forensik kita untuk investigasi."
Nicholas mendengarkan penjelasan anak buahnya sambil memakai sarung tangan lateks medis. Ia perlu memeriksa beberapa hal dari jasad itu. Anak buahnya tentu membiarkan bosnya melakukan pengecekan.
"Benar, ini dia. Perkiraan kematian?" Tanya Nicholas.
"Kemungkinan dua hari lalu. Kapan pastinya kami belum tahu."
Nicholas menghela napas. Ia masih harus sabar menunggu tim forensik tiba. Sesekali Nicholas memeriksa sekitar dan juga mobil taksi itu. Dengan teliti ia amati satu demi satu.
Dashboard mobil juga ia buka-buka. Berharap ia menemukan petunjuk keberadaan Hanna. Tapi malah ia menemukan sebuah kamera kecil di dekat kaca spion. Ia pun langsung memanggil salah satu anak buahnya untuk memeriksa kamera itu lebih lanjut.
__ADS_1
Pencarian Hanna kini semakin banyak titik terang. Ada banyak celah yang penculik itu tinggalkan.
"Hanna, tunggu aku. Aku pasti akan menemukanmu secepatnya." Nicholas bergumam mengepalkan tangannya dengan kuat. Raut penuh kebencian itu terlihat semakin menakutkan.