
Hanna terus mondar-mandir gelisah.
"Ini di luar rencanaku," ucap Hanna pelan.
"Apa dia hanya menggertakku? Tapi bagaimana jika dia benar-benar memiliki buktinya?"
Pikiran Hanna berperang begitu hebatnya. Semua kekhawatiran menekan dirinya untuk terus berpikir.
Nicholas yang melihat Hanna begitu cemas pun mendekat.
"Ada apa?"
"K-kau. Bukankah ini pelecehan?" tanya Hanna gugup.
Bagaimana tidak gugup, itu pertama kalinya Hanna dipeluk laki-laki. Pikirannya melayang kemana-mana.
"Biarkan begini sebentar saja," ucap Nicholas mengeratkan pelukannya.
Tubuh Hanna membeku, merasakan tubuh Nicholas yang begitu kekar tapi terasa nyaman dan juga hangat. Untungnya Nicholas memeluk dari belakang, jadi wajahnya yang memerah tak akan ketahuan oleh Nicholas.
"A-ah. Aku haus," ucap Hanna lalu kabur ke dapur.
Nicholas menyeringai melihat tingkah Hanna. Selang tak berapa lama, Nicholas menghampiri Hanna di dapur.
"Aku pulang dulu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu," pamit Nicholas.
Hanna hanya mengangguk mengiyakan Nicholas.
Apartemen kembali sunyi. Beberapa kali Hanna melirik pintu masuk. Ia juga melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.25. Hanna terus menatap pintu sembari menelan ludah.
Ia meresa akan ada sesuatu yang datang. Benar saja, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan sangat keras dan cepat.
Hanna pun mendekat ke monitor untuk melihat siapa yang ada di depan pintu. Namun, ketika Hanna melihat monitor tidak terlihat ada siapapun.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar ketika Hanna hendak kembali ke kamar. Hanna mematung mulai merasa takut dan terancam.
Hanna menoleh ke arah monitor, ia melihat seseorang yang mengenakan topeng tengah mengetuk pintunya dengan sangat keras.
"Si-siapa sebenarnya dia?" gumam Hanna lemas.
"Nicholas! Ya, aku harus menghubungi Nicholas."
Hanna berlari ke kamar mencari ponselnya.
Hanna memang bisa bela diri, tapi ia juga tak semahir itu. Ia pun lebih memilih meminta bantuan Nicholas.
"Ni-nicho.... " panggil Hanna dengan suara bergetar.
Nicholas yang mendengar pun tanpa pikir panjang langsung berlari menuju apartemen. Di dalam mobil ia juga menghubungi anak buahnya yang seharusnya berjaga di sekitar Hanna.
"Sial! Aku kecolongan!"
Nicholas mulai semakin gelisah lantaran anak buahnya tak ada yang bisa dihubungi satupun.
"Hanna, bertahanlah."
Nicholas pun semakin menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di apartemen. Ia bahkan tak lagi mempedulikan keselamatan dirinya.
Disisi lain, ada seseorang yang tengah tersenyum puas melihat ekspresi ketakutan Hanna dari CCTV.
"Oh, rupanya tuan putri masih hidup." gumamnya.
"Panggil Damian kemari!" teriaknya marah.
Damian pun menghadap tuannya dengan menunduk. Tuannya pun melayangkan sebuah belati kecil hingga sedikit menggores pipi Damian.
Damian sangat terkejut melihat beberapa helai rambutnya yang terpotong melayang di depan matanya. Ia langsung berlutut.
__ADS_1
"A-ampuni saya tuanku," ucap Damian tergagap.
Dengan santainya ia berjalan mendekati Damian dengan membawa segelas anggur di tangannya.
"Minum," perintahnya memaksa Damian.
Damian pun menerima gelas itu dengan terpaksa karena ia tak bisa menolak perintah tuannya itu. Ia menenggak habis anggur itu dantak lama kemudian ia merasa tercekik.
Tuannya pun tersenyum puas melihat ekspresi ketakutan Damian.
"P-psiko-pat."
"Walter, buang sampah ini."
Ia pun berlalu pergi setelah memerintah Walter untuk membuang mayat Damian.
Ruangan gelap di depannya ia masuki dengan santai. Ruangan favoritnya itu selalu menjadi tujuan dikala ia sedang bosan.
"Tuan putri, apa akhirnya kau ingin terlibat dalam hak waris?" tanyanya pelan kepada sebuah foto di depannya.
Memikirkan hal itu membuatnya merasa kesal hingga meninju dinding sebelah foto itu.
...****************...
"Tuan, ada yang menyerang Nona Alexa!"
Hamilton sontak meminta orang merentas CCTV dan mengirim lebih banyak bodyguard ke apartemen yang ditempati Hanna. Hamilton masih memiliki keyakinan bahwa Hanna adalah putrinya meski ia sudah ditunjukkan ke makam seorang bayi mungil yang kata Hanna adalah putrinya Alexa.
Feeling seorang ayah terhadap putrinya itu sering kali benar, jadi ia masih akan tetap menjaga Hanna sebelum ada bukti pasti yang mengatakan bahwa Hanna memang bukan putrinya.
"Bagaimana? Bisa kau tembus keamanan apartemen itu?" tanya Hamilton.
"Belum tuan, saya butuh waktu lebih lama dari biasanya karena apartemen ini milik keluarga Wijaya yang terkenal dengan sistem keamanan mereka yang kuat."
Hamilton terus menunggu sampai anak buahnya berhasil merentas CCTV apartemen itu. Dengan was-was ia terus berharap tidak terjadi apa-apa dengan Hanna.
"Hanna!" Nicholas terus berteriak sepanjang koridor lantai apartemen yang ditempati Hanna.
"Hanna.... ! Hanna.... ! Buka pintunya.... !"
Dengan tangan gemetar Hanna membuka pintu. Melihat Nicholas di depannya ia langsung luruh ke lantai. Kakinya lemas seolah tak bertulang.
Dengan hati-hati Nicholas membopong Hanna ke sofa. Ia juga menutup pintu.
"Minumlah, sekarang sudah aman. Ada aku di sini, tak apa."
Nicholas terus menenangkan Hanna yang masih ketakutan. Dengan tatapan tajam Nicholas melihat sekeliling apartemen. Ia tak menemukan sesuatu yang aneh karena itu apartemen miliknya.
Namun, ada sedikit keraguan di hati Nicholas hingga akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan memindai seluruh ruangan. Benar saja, ia menemukan CCTV asing yang tak pernah ia pasang sebelumnya.
Ia pun langsung menghubungi Alex dan pengelola apartemen.
"Hanna, tunggu sebentar ya," pamit Nicholas hendak keluar.
Hanna langsung menahan ujung baju Nicholas.
"Tak apa, aku hanya di depan pintu. Ada sesuatu yang harus kupastikan," bujuk Nicholas.
Hanna masih enggan melepaskan ujung baju Nicholas. Ia masih merasa tak tenang seolah-olah ada yang sedang mengawasinya.
Nicholas dengan lembut duduk di samping Hanna untuk meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Baiklah, akan aku buka pintunya selagi aku di luar. Kau bisa melihatku ada di depan pintu."
Hanna pun akhirnya mau melepaskan ujung baju Nicholas. Ia duduk menatap punggung Nicholas sambil meminum cokelat panas buatan Nicholas.
Cokelat panas itu terasa sangat menenangkan. Hanna yang mulai merasa tenang dikejutkan oleh ponselnya yang berdering. Sebuah pesan masuk ia buka dengan santainya.
[Nona, bagaimana hadiah yang kuberikan? Apa kau menyukainya?]
__ADS_1
"Aaaaaa!" teriak Hanna.
Nicholas yang mendengar Hanna berteriak langsung masuk dan menutup pintu.
"Ada apa? Kenapa?" tanya Nicholas dengan panik.
Hanna pun menunjuk ponsel yang yang ia lempar ke karpet. Nicholas memungut ponsel itu.
[Wah, kau bersama pangeran kuda putih ya, Nona?]
Satu lagi pesan masuk tepat ketika Nicholas memegang ponsel Hanna.
Nicholas terkejut dan langsung tolah-toleh ke seluruh penjuru apartemen.
[Ada apa? Kau mencariku ya?]
[Aku bukan orang yang bisa kau gapai, Nicholas Nazriel Wijaya.]
Nicholas marah, tapi ia tak ingin membuat Hanna takut. Jadi ia berpura-pura baik-baik saja.
"Kau mengenalnya?"
Hanna menggeleng.
"Baiklah, ponsel ini biar aku yang urus. Besok aku beri ponsel baru," ucap Nicholas.
Hanna mengangguk setuju. Nicholas juga akan menemaninya lagi malam ini.
Malam panjang yang menakutkan ini ingin segera Hanna akhiri. Ia benar-benar menjadi sangat gelisah hingga tak berani tidur sendirian.
Ia juga masih tak mengerti mengapa ia diganggu hingga seperti itu.
"Besok, aku akan mengirimmu ke Eropa untuk sementara. Jangan khawatir, di sana ada Zahra dan Alex."
Hanna hanya mengangguk menurut. Keadaan yang semakin kacau dan diluar kendalinya itu membuatnya merasa sangat bersalah karena merepotkan Nicholas.
"Mr, kenapa Mr mau membantu saya?"
Nicholas mendekat, mengikis jarak antara dirinya dengan Hanna.
"Menurutmu karena apa?" tanya Nicholas dengan nada sedikit menggoda.
Hanna langsung memalingkan wajahnya. Ia tak berani menatap mata Nicholas yang tatapannya begitu dalam hingga mampu membuat orang tenggelam di dalamnya.
Melihat reaksi Hanna, Nicholas sedikit menjauh lalu mencubit pipi Hanna.
"Apa yang kau pikirkan? Aku begini karena kau sahabat adikku," sahut Nicholas.
"Adik?" ucap Hanna bingung.
"Kamu nggak tau ya?"
Hanna semakin bingung dibuatnya. Bagaimana bisa ia bersahabat dengan adik Nicholas sedang ia saja tak pernah tahu dan bertemu dengan adiknya.
"Sudah, tak usah dipikirkan. Takutnya nanti kamu stroke jika tahu faktanya," ucap Nicholas sambil tertawa.
Hanna mendengus kesal karena Nicholas memberitahu, tapi sebenarnya juga tidak memberitahu.
"Ah, entahlah. Aku tidak peduli," ucap Hanna frustasi.
"Tidurlah, aku akan menemanimu." ucap Nicholas sambil menyiapkan alas tidur untuk dirinya di lantai.
Hanna sedikit iba, tapi juga tak mungkin ia menyuruh Nicholas tidur di ranjang yang sama dengannya.
Hanna menggigit bibirnya bimbang.
"Ada apa? Kau mau aku tidur disampingmu ya?" tanya Nicholas menggoda.
"M-mana ada!" sahut Hanna gugup.
__ADS_1
Hanna langsung memunggungi Nicholas saking malunya karena Nicholas tahu apa yang ia pikirkan.