
"Lex! Dimana kakakku!" Teriak Zahra yang tiba-tiba sudah ada di vila.
"No-nona!" Alex membeku di tempat.
"Kakakku di mana Lex? Ini juga, siapa yang datang?" Tanya Zahra melihat cangkir kopi milik Sam tadi.
Zahra berdecak mendapati Alex yang tak kunjung menjawab. Zahra pun mencoba menghubungi Nicholas.
"I-itu milik Sam," jawab Alex tiba-tiba.
Mendengar jawaban Alex, Zahra langsung beralih menelepon Sam. Akan sangat berbahaya jika Sam memberitahu semua yang terjadi kepada dirinya ketika di Eropa sebelumnya.
Ketika Sam mengangkat panggilan Zahra, ia langsung dicecar ribuan pertanyaan oleh Zahra. Zahra tipe orang yang suka memojokkan orang jika ia menginginkan sesuatu dari orang tersebut.
Sam yang mulai terpojok pun dengan terpaksa mempertaruhkan bonusnya bulan ini dengan memberitahukan keberadaan Nicholas kepada Zahra. Dengan secepat kilat, Zahra berlari keluar untuk menyusul Nicholas menggunakan mobil Alex.
Melihat Nicholas yang tengah menggerutu dan sibuk dengan ponselnya, Zahra pun berniat menjahilinya. Ia mendekat dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan Nicholas.
"May I help you, sir?" Bisik Zahra di telinga Nicholas dari belakang.
Nicholas langsung membeku mendengar bisikan dari seorang wanita. Bulu kuduknya langsung berdiri semua.
"What are you looking for here, sir?" Bisik Zahra lagi sambil mengelus bahu Nicholas dengan manja.
Perlahan Nicholas berbalik dan terkejut setengah mati mendapati Zahra yang ada di belakangnya.
"Ka-kamu! Bagaimana bisa kamu di sini? Aku sudah memblokir akses ke Eropa!" Ucap Nicholas.
Zahra tersenyum miring sembari menunjukkan sebuah kartu. Dengan bangga ia tunjukkan kartu penyelamat hidupnya kepada Nicholas.
"Kakak ngapain di sini?"
"Hei anak kecil, harusnya kau yang menjelaskan kepada kakak tentang surat dari rumah sakit ini yang ada di meja riasmu itu," sahut Nicholas.
Zahra terkejut dan mundur satu langkah. Ia mengira Nicholas sudah membaca surat hasil pemeriksaan itu. Akan tetapi, Zahra harus bersikap pura-pura bodoh.
"Kan kakak sudah baca. Lalu, ngapain nanya?"
Pletakkk
Sebuah jitakan mendarat di dahi Zahra.
Zahra langsung menggerutu karena Nicholas bersikap kasar padanya. Ia pun mengancam akan mengadukan Nicholas kepada papanya nanti.
"Jangan banyak bicara! Cepat minta hasil pemeriksaanmu," sergah Nicholas.
Dengan bibir manyun dan langkah yang sengaja ia hentak-hentakkan, Zahra berjalan menuju meja administrasi dengan wajah kesal.
"Excuse me,"
"Yes, may I help you ma'am?"
__ADS_1
"I want the results of my medical report about three months ago, please."
"Sure. Please your name, ma'am?"
"Zahra Zafarani Wijaya."
"Oke, wait for a second."
Sembari menunggu, Zahra kembali menghampiri Nicholas yang sedang asyik makan cemilan sambil duduk.
"Gimme some," ucap Zahra langsung merebut cemilan yang ada di tangan Nicholas.
Nicholas hendak marah, tapi ketika melihat wajah bad mood Zahra ia langsung menghela napas dan mengalah.
Baru juga mencicipi cemilan, Zahra sudah dipanggil oleh perawat yang bertugas. Sebelum menerima hasil laporan kesehatan itu, Zahra memastikan kepada perawat jika yang terlampir hanya laporan kesehatan rutin miliknya atau ada hasil lab terakhir kali Zahra melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Perawat menjawab hanya ada laporan kesehatan rutin. Zahra tentu tidak bisa membuka amplop yang tersegel itu duluan. Nanti Nicholas pasti mengira jika ia memberikan laporan palsu kepadanya.
"Okay, thank you."
"My pleasure, ma'am."
Zahra langsung memberikan laporan itu kepada Nicholas.
"Nih!"
Melihat Zahra yang masih kesal dan berbicara dengan nada jutek, Nicholas hanya diam tak berani cari masalah dengan adiknya itu.
Perlahan-lahan Nicholas baca laporan kesehatan Zahra. Sedang Zahra sibuk menikmati cemilan yang dibelikan Nicholas. Hingga tanpa Zahra safari, Nicholas kembali menghampiri perawat di meja administrasi.
Nicholas menoleh pada Zahra. Ia tampak tak sadar Nicholas tak duduk di sampingnya lagi.
Setelah menunggu, Nicholas berlalu pergi ke ruangan Dr. Smith. Ia menghujani Dr. Smith dengan pertanyaan meminta penjelasan.
"Dr, what's going on with my sister? I found something strange in this medical report. It's a mix-up, right?"
"Nee Nicho, nee. It belongs to your sister, Zahra. Good thing, I found it early. Everything written there is true, according to your comprehension." Sanggah Dr. Smith dengan logat Belandanya yang begitu kental.
Mendengar penjelasan Dr. Smith membuat Nicholas terduduk lemas. Ia masih tak percaya dengan hasil pemeriksaan itu.
Meski demikian, ia harus berusaha tenang di depan Zahra yang juga bisa tetap tenang di depan semua orang meski sudah tahu hal tersebut.
Dengan terhuyung-huyung Nicholas keluar dari ruangan Dr. Smith. Ia mendekati Zahra dengan perlahan. Ia tak ingin mengganggu adik kecilnya yang masih asik memakan cemilan.
"Ara," panggil Nicholas lembut.
Zahra menoleh dan mendapati kakaknya tersenyum. Zahra menyipitkan mata menyelidik karena tak biasanya Nicholas begitu.
"Ayo kita pulang," ajak Nicholas.
Zahra yang malas meladeni kakaknya yang entah sedang kerasukan setan mana pun pergi sendiri menuju mobil.
__ADS_1
Nicholas yang ditinggal Zahra hanya bisa pasrah. Ia berusaha untuk bersikap seperti biasanya agar Zahra tak curiga bahwa ia sudah tahu.
Zahra dan Nicholas pulang dengan mobil masing-masing.
"Alex! Urus bosmu, sepertinya dia gila!" Teriak Zahra ketika sampai di vila.
Alex pun penasaran dan berlari keluar. Tepat setelah Nicholas sampai, Alex bingung karena Nicholas tampak seperti biasanya. Ia berpikir bahwa Zahra menipunya untuk bersenang-senang.
"Bos, kata Nona bos gila. Tapi aku tak melihat apa-apa," adu Alex sambil menatap Nicholas heran.
Dukkk
Nicholas menendang tukang kering Alex yang sembarangan bicara.
"Kau itu yang gila," sahut Nicholas.
"Bos, itu apa?" Tanya Alex yang melihat Nicholas memegang amplop cokelat.
"Rahasia Zahra."
Nicholas menatap jendela kamar Zahra di lantai 2. Alex pun ikut menoleh penasaran dengan apa yang bosnya lihat dengan tatapan serius.
Alex yang menyadari sesuatu langsung merebut amplop cokelat di tangan Nicholas.
"La Sierra hospital."
"I-ini ... " Ucap Alex menatap Nicholas meminta persetujuan untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
Dengan tergesa-gesa ia buka amplop itu. Kata demi kata dibacanya tanpa terlewat satu pun. Nicholas hanya diam membiarkan Alex membacanya.
Lembar demi lembar di periksanya. Tak ada yang aneh, akan tetapi ketika ia mencapai lembar terakhir, ia harus kecewa dengan sangat.
"Bo-bos! I-ini.... "
"Diamlah Lex, jangan rusak hari yang menyenangkan ini," ucap Nicholas masih terus menatap jendela kamar Zahra.
Entah apa yang ada dipikiran Nicholas. Tapi, mata satunya menyiratkan semua kesedihan tengah berkecamuk dalam dirinya.
"Pfttttt, hahaha ... " Alex tertawa terbahak-bahak.
"Bos, ini kenapa bentuknya begini? Lucu sekali," ucap Alex sambil terus tertawa.
Sebuah jitakan mendarat di kepala Alex dengan sempurna dan membuatnya langsung diam. Nicholas pun mengomeli Alex habis-habisan.
Ditengah omelan Nicholas, tiba-tiba terdengar Zahra yang muntah-muntah diiringi suara benda jatuh. Nicholas langsung panik.
"Hubungi Dr. Smith dan Sam! Suruh datang secepatnya!" Teriak Nicholas berlari menyusul Zahra di kamarnya.
"Ara! Buka pintunya!" Nicholas terus menggedor-gedor pintu kamar Zahra yang dikunci dari dalam.
Zahra yang sudah tak berdaya tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu kakaknya mendobrak pintu.
__ADS_1
Butuh 3 dobrakan agar pintu kamar Zahra benar-benar terbuka.
"Zahra.... !"