Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 56


__ADS_3

"Nicholas," teriak Hanna melihat orang yang bolak-balik masuk ke ruangan dengan membawa banyak makanan.


Meja sofa di ruangan sampai penuh, bahkan makanannya masih ada yang baru datang. Hanna pun dengan sigap mengambil alih makanan yang masih belum di letakkan karena mejanya sudah tidak muat lagi. Hanna yang geram keluar mencari Nicholas.


"Hanna, Mr Nicholas menitipkan ini tadi." Ucap seorang sekretaris di depan ruangan Nicholas.


Hanna membolak-balik secarik kertas itu dengan tatapan bingung dan penasaran.


Hanna masuk lagi dan membaca tulisan yang terdapat dalam secarik kertas itu.


"Sayang, bukankah kamu sangat suka makan? Aku memesankan semuanya khusus untukmu," tulis Nicholas dengan tanda hati dibelakangnya.


Hanna merasa mual ketika membaca tulisan itu. Dan semakin mual melihat makanan sebegitu banyaknya terhidang di depan mata. Akan tetapi, bukan Hanna namanya jika tak bisa menghabiskan semua itu.


"Kak, boleh tolong bantu aku?" Tanya Hanna yang hanya menjulurkan kepalanya keluar pintu ruangan Nicholas.


"Bantu apa memangnya?"


"Bantu aku bagikan semua makanan ini kepada yang lain. Bos kakak itu sangat menyebalkan," rengek Hanna dengan tampang memelas.

__ADS_1


Setelah makanan selesai di bagikan, Hanna yang bodoh malah lupa mengambil bagiannya sendiri. Alhasil, Hanna harus pergi ke kantin untuk makan.


Dengan sangat terpaksa, Hanna harus makan dengan cepat karena berkas yang harus ia serahkan kepada Nicholas belum selesai ia kerjakan. Naasnya, Hanna malah berpapasan dengan Nicholas di lift.


Tentu saja, Nicholas menanyakan Hanna hendak kemana, berkasnya sudah selesai atau belum dan tak lupa juga menanyakan makanan yang tadi pesankan untuk Hanna.


Hanna terdiam sejenak mencari jawaban yang tepat agar Nicholas tidak banyak bicara dan Hanna bisa secepatnya makan siang di kantin.


"Ah, a-aku mau menemui seseorang. Iya, aku mau menemui seseorang di lobby."


"Siapa?" Tanya Nicholas dengan tatapan menyelidik.


"Kamu tidak perlu tahu," teriak Hanna sambil berlari.


Dengan sangat cepat Hanna berlari menyusuri tangga darurat menuju kantin. Ketika smpai di kantin Hanna sudah ngos-ngosan kehabisan napas.


"Kamu ngapain ke sini?"


"Tentu saja mau ma-," ucapan Hanna terpotong ketika melihat siapa yang bertanya.

__ADS_1


Hanna langsung mematung dan luruh ke lantai.


"Sa-sayang? Kamu kenapa bisa di sini?"


"Ini kan perusahaanku, mengapa aku tak bisa di sini?" Tanya Nicholas dengan raut bingung.


"A-ah iya juga," sahut Hanna kaku.


"Lalu, Nyonya Wijaya sedang apa berlutut di lantai?" Bisik Nicholas di telinga Hanna.


Hanna menelan ludah kasar, suara Nicholas yang begitu lirih juga hembusan napas di telinganya membuat pikirannya tak fokus. Bahkan pipi Hanna pun merona dibuatnya.


"Nanti pulang kerja, aku akan baik-baik menghukummu di kamar," bisik Nicholas lagi.


Wajah Hanna semakin merah mendengar bisikan Nicholas yang terdengar semakin menggoda. Bahkan telinga Hanna pun ikut merah.


Setelah itu, Nicholas pergi meninggalkan Hanna sendirian. Karena Ia harus segera menemui investor di ruang tunggu. Sedangkan Hanna masih mematung di lantai mencoba mencerna apa yang barusan terjadi pada dirinya.


Setelah beberapa detik, Hanna mulai sadar dan menepuk-nepuk pipinya agar cepat sadar dan menyingkirkan pikiran kotornya. Ia lalu bangkit dan langsung menuju kantin untuk makan siang dengan cepat.

__ADS_1


Hanna memilih menu lalu memakannya dengan lahap. Ia tak peduli jika itu sudah lewat dari jam makan siang, karena yang terpenting bagi Hanna adalah perutnya kenyang supaya bisa bekerja dengan baik. Ia terlalu malas jika harus mendengarkan omelan dari Nicholas lagi. Apalagi ancamannya yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.


__ADS_2