
"Nicholas , berhentilah mempermainkanku!" teriak Hanna yang sudah sangat kesal.
"Kamu menyerah, sayang?" tanya Nicholas menggoda.
"Ish! Siapa juga yang menyerah!" sahut Hanna sewot langsung meninggalkan Nicholas.
Nicholas tertawa puas melihat Hanna yang sudah sangat kesal. Tapi ia juga menahan Hanna untuk pergi. Karena menurutnya, ia belum selesai menghukum Hanna yang kabur seenaknya.
"Sayang, siapa yang mengizinkanmu pergi?" tanya Nicholas tegas.
"Aku belum selesai menghukummu loh," sambung Nicholas.
Hanna pun mematung menyadari Nicholas tahu bahwa dirinya tadi pergi tanpa izin. Ia mulai keringat dingin melihat Nicholas yang semakin mendekat dengan senyum miring. Hanna juga menelan ludahnya kasar.
Nicholas pun mengunci ruang gerak Hanna. Sorot mata dan raut tegang Hanna terlihat sangat jelas. Nicholas semakin tersenyum miring dengan ekspresi sangat puas.
Hanna yang merasa tak nyaman mulai memikirkan cara agar terlepas dari Nicholas. Hanna pun perlahan berhjongkok berharap bisa melarikan diri. Akan tetapi, Nicholas yang menyadarinya langsung mengikuti pergerakan Hanna.
"Apa lagi? Tak bisakah melepaskanku kali ini saja?" tanya Hanna dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Boleh, tapi ada syaratnya. Syaratnya adalah..... "
Dengan mata berbinar, bibir yang tersenyum dan kedua tangan yang menangkup di depan dada, Hanna menatap Nicholas meminta jawaban.
Melihat Hanna yang demikian, Nicholas malah merasa kesal. Dengan kecepatan kilat Nicholas membatalkan syarat yang hendak ia ajukan.
"Kerjakan semua berkas itu!" seru Nicholas menunjuk meja kerja Hanna.
Hanna melongo melihat sudah ada setumpuk tinggi berkas di mejanya. Hanna melotot menatap Nicholas penuh amarah. Dalam hatinya ingin sekali mengumpat, tetapi ia tahan karena takut kena karma. Kan tidak lucu jika ada berita dengan headline akibat mengumpat suaminya, seorang sekretaris ZN Group tiba-tiba menjadi bisu.
Hanna tertawa singkat, " Baiklah tuan muda."
Dengan serius Hanna mulai mengerjakan setiap berkas yang ada. Nicholas pun melirik dan tersenyum melihat Hanna yang tengah serius bekerja. Nicholas juga mulai beranjak menuju mejanya.
Jam yang menunjukkan hampir jam makan siang membuat Nicholas pergi ke luar.
"Sayang, berikan berkasnya jam 2 nanti."
Baru juga Hanna hendak protes, Nicholas sudah memotong.
__ADS_1
"Saya tidak menerima komplain dalam bentuk apapun."
Setelah itu Nicholas pergi begitu saja tanpa memberitahu Hanna ia hendak kemana. Hanna pun sebenarnya tidak terlalu peduli dengan Nicholas.
...****************...
"Bagaimana perkembangan informasi mengenai DNA Alexa?"
"Ma-maaf Tuan, mengenai DNA Nona Alexa kami kesulitan menganalisanya karena sudah rusak."
Ethan mengepalkan tangannya di atas meja. Ia sangat marah dengan kinerja orang kepercayaannya itu di Jepang. Padahal, ia biasanya selalu menyelesaikan tugasnya dengan baik tanpa celah sedikitpun.
Informasi pasti tentang Alexa yang hilang pun belum bisa ia pastikan dengan bukti nyata. Sampel yang susah payah ia dapatkan kini malah rusak tanpa menghasilkan apa-apa.
"Mark, begini saja. Kau datang kemari. Lalu, akan aku berikan sampel baru. Aku juga akan menyiapakan lab untukmu," ucap Ethan kepada orang kepercayaannya itu.
"Baik tuan, izinkan saya membawa 2 orang asisten terbaik saya."
"Kau atur saja. Tapi ingat, jangan sampai siapapun tahu tentang identitas kalian termasuk keluargaku." sahut Ethan.
__ADS_1
Mark pun hanya mengiyakan perintah tuannya itu. Sedang disisi lain, Mark mengomeli habis-habisan anak buahnya yang tak becus bekerja hingga sampel yang dikirim Ethan rusak.