
Hanna menatap mobil Zicho yang semakin menjauh. Ia baru menyadari ada gantungan di mobil itu. Ada sebuah foto yang sama seperti yang ia lihat di dompet Zicho.
"Apa sebaiknya ku tanyakan saja lain kali?" Gumam Hanna yang penasaran.
Ia pun masuk ke minimarket untuk membeli susu. Akhir pekan Hanna ia isi dengan bersantai penuh. Karena besok ia harus bekerja sangat keras ketika Nicholas tak ada. Alex pun ikut bersama Nicholas dan itu artinya Hanna akan sangat sibuk atau bahkan mungkin akan lembur.
Akan tetapi, bukan Hanna Maureen namanya jika menyerah begitu saja. Apalagi nilai magangnya dipertaruhkan.
Setelah selesai membayar, Hanna langsung pulang. Ia menyalakan televisi dan menonton kartun kesukaannya.
Sedang asik menikmati tontonan, Hanna dikejutkan oleh seseorang.
"Kau idiot ya?"
Hanna terkejut setengah mati karena Zahra yang sudah ada di sampingnya tanpa suara apa-apa.
"Kau? Kau masuk dari mana? Kapan kau masuk? Bagaimana-"
Belum selesai Hanna bertanya, Zahra membungkam mulut cerewet Hanna dengan cemilan.
"Diamlah, aku bosan di rumah."
Hanna mengunyah cemilan yang disumpalkan ke mulutnya oleh Zahra.
"Ayo pergi main," ajak Zahra lengkap dengan puppy eyes andalannya.
"Hei, besok kerjaanku 2 kali lipat dari biasanya. Aku tak bisa pergi hari ini jika masih ingin hidup," ucap Hanna lesu.
"Kenapa? Apa bosmu menindasmu?"
"Nicholas sialan! Sudah kubilang jangan menindas mahasiswaku. Awas saja dia,"
"Tenanglah, tak ada yang menindasmu. Dia ada perjalanan bisnis selama seminggu. Sebentar lagi dia akan berangkat," sahut Hanna menenangkan Zahra.
Nicholas yang tak memberitahu Zahra bahwa ia harus ke Eropa selama beberapa hari pun membuat Zahra terkejut dengan pernyataan Hanna.
"Kemana? Dia tak bilang apa-apa padaku. Jam berapa pesawatnya?" Tanya Zahra bersiap pergi.
"Sudah lepas landas 2 menit yang lalu. Kena-"
"Hei! Kau mau ke mana?" Teriak Hanna melihat Zahra pergi begitu saja.
Hanna pun acuh dan melanjutkan menikmati film kartun kesukaannya dengan tenang. Sedangkan Zahra langsung pulang dengan ugal-ugalan.
Ia tak menyangka bahwa kakaknya berani pergi tanpa pamit kepadanya.
__ADS_1
"Kakak nggak ada akhlak! Awas saja kau!"
Sepanjang jalan Zahra mengendarai mobil sambil menggerutu. Ia tak terima jika kakaknya begitu. Ia bahkan menambah kecepatan ketika jalanan sepi.
Zahra takut jika kakaknya pergi ke Eropa bukan untuk bisnis. Zahra tak mau jika kakaknya terlibat lagi dengan mafia di sana.
Zahra memarkir mobilnya asal di halaman rumah. Ia langsung masuk menuju kamar Nicholas.
Benar saja, koper Nicholas sudah tidak ada. Ia pun langsung mencari ibunya di seluruh penjuru rumah.
"Ma! Kak iel ke mana? Kok kopernya nggak ada?"
"Apa sih Ra? Jangan teriak-teriak, mama bisa tuli lama-lama!" Sahut Rosa dari taman belakang.
"Kakak ke mana ma?" Tanya Zahra dari pintu.
Melihat mamanya duduk santai tak khawatir ada barang-barang rusak di rumah sudah cukup memberi Zahra jawaban. Ia pun langsung ke kamar dan mengemasi barangnya. Ia berencana untuk menyusul Nicholas ke Eropa.
Ia membereskan beberapa barang bawaannya. Namun, tangannya terhenti ketika ia mengambil passportnya. Dimana hasil lab kesehatannya ada bersama passport itu.
Karena itu tak dibutuhkan, jadi itu ia tinggalkan di laci nakasnya.
"Ma! Ara pergi nyusul Kak iel!" Teriak Zahra sambil menyeret kopernya.
Rosa berteriak, "Papa di ruang kerjanya!"
Zahra terus saja berjalan pura-pura tak mendengar Rosa. Rosa yang sebenarnya sudah diminta Nicholas untuk mencegah Zahra mentusulmya ke Eropa pun lupa karena terlalu senang kedua anaknya tak akan di rumah.
Untungnya, Nicholas juga membuat persiapan lain karena tahu pasti mamanya akan gagal mencegah Zahra.
Ia meminta pemerintah Eropa untuk memblokir semua penerbangan ke Eropa selama sehari penuh setelah Nicholas sampai. Itu satu-satunya jalan untuk menunda Zahra menyusul dirinya ke Eropa.
"Alex, panggilkan Sam untuk ke Royale Village. Kita bertemu di sana," ucap Nicholas meninggalkan Alex di bandara.
Alex dengan wajah seriusnya menuruti perintah Nicholas dan masuk ke mobilnya langsung menuju rumah Sam.
Demi keamanan informasi, Nicholas masih menggunakan cara lama untuk mengundang Sam. Karena ponselnya akan sangat mudah untuk direntas oleh musuhnya.
Sedang Nicholas sedang asik menonton tontonan menarik di TVnya. Zahra yang sedang mengamuk dan menggerutu di bandara sangat menghibur bagi Nicholas. Tak lama, ponselnya berdering karena Zahra menelepon dirinya.
Nicholas tanpa takut mengangkatnya sambil terus melihat Zahra melalui CCTV bandara.
"Kenapa? Kau mau memukulku? Ra, orang-orang sedang menertawakanmu tuh. Masa adik seorang Nicholas nggak ngerti fashion katanya," ledek Nicholas sambil tersenyum melihat Zahra yang celingak-celinguk tertipu oleh Nicholas.
Zahra yang tertipu pun semakin mengamuk dan mengancam Nicholas jika tetap tak mau membuka akses ke Eropa.
__ADS_1
"Tunggu bisnisku selesai baru kuizinkan," sahut Nicholas santai.
"Bos, Sam sudah di sini," ucap Alex dari belakang Nicholas.
Nicholas langsung mematikan panggilan Zahra. Ia pergi ke ruang tengah menemui Sam dan meninggalkan TVnya tetap menyala.
"Apa kabar Sam?" Tanya Nicholas basa-basi.
Sam tersenyum miring dan menyentuh dagunya, "Langsung intinya saja, aku tidak suka bertele-tele.".
"Baiklah, bajingan mana yang mengganggu Zahra?" Tanya Nicholas serius.
Sam tertawa terbahak-bahak, "Hanya bajingan miskin yang gila harta.".
"Aku sudah membereskannya," sambung Sam menyeruput kopinya.
Nicholas mengangguk. Ia pun meminta Sam menceritakan semua kegiatan Zahra selama di Eropa sebelumnya. Ia tak mau ada informasi yang tertinggal sedikitpun.
Sam dengan senang hati menceritakan kisah Zahra kepada Nicholas. Sam juga selalu menjaga Zahra dengan baik selama Nicholas tak ada di sisi Zahra untuk melindunginya.
"Tapi, apa Zahra baik-baik saja?"
Nicholas langsung berhenti tak jadi meminum kopinya.
"Tidak, aku pernah memergoki Zahra melakukan pemeriksaan menyeluruh dua kali dalam sebulan."
"Rumah sakit La Sierra?" Serobot Nicholas memastikan.
Cerita Sam membuatnya teringat pernah melihat sebuah amplop berlogo rumah sakit di Eropa di meja rias Zahra.
Tanpa pikir panjang Nicholas pergi meninggalkan Sam begitu saja. Sam pun hanya bisa menghela napas berat.
"Lex, bosmu sudah gila ya?" Tanya Sam pada Alex.
"Kau baru sadar bosmu itu gila Sam?" Tanya Alex balik.
Sam pun melempar bantal sofa di belakangnya karena kesal dengan jawaban Alex.
"I'm sorry Sir, this is our procedure to protect the patient's data." Ucap seorang perawat kepada Nicholas.
"*How much?"
"I'm sorry Sir*." sahut perawat itu membuat Nicholas menyerah.
Nicholas frustasi karena tak bisa mendapatkan data pemeriksaan milik Zahra. Ia tak percaya, masih ada hal yang tak bisa didapatkan oleh seorang Nicholas.
__ADS_1