Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 52


__ADS_3

"Sayang, bersiaplah ikut aku ke kantor."


"Eits, tidak ada bantahan."


Hanna cengo mendengar ucapan Nicholas yang terdengar sangat menggelikan.


Nicholas yang melihat Hanna hanya mematung langsung angkat suara, "Kamu nggak dengar?"


"Ah? Oh, iya. Aku siap-siap dulu," sahut Hanna.


Hanna pun bersiap-siap untuk ikut ke kantor. Meskipun ia memang bekerja di perusahaan Nicholas, sekarang ia tetap diawasi ketat oleh Nicholas secara langsung. Bahkan, Nicholas meminta stafnya memindahkan meja kerja Hanna ke ruangannya.


Semua dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Hanna. Ia melakukan semuanya yang menurut dirinya benar. Terdengar egois memang, tapi jika tak begitu bukan Nicholas namanya.


Ketika Hanna tiba di kantor pun terkejut, melihat meja kerjanya tidak ada di tempat biasanya.


"Kenapa bengong?" tanya Nicholas.


"A-anu, mejaku.... "


"Oh, aku pindahkan ke ruanganku." jawab Nicholas datar.


Hanna menatap Nicholas tak percaya. Ia pasti akan jadi bahan omongan rekan kerja yang lain nanti. Nicholas tentu tidak memikirkan hal semacam itu. Karena ia memiliki kuasa penuh dalam perusahaan.


Hanna dengan terpaksa masuk ke ruangan Nicholas. Ia tentu duduk di tempat kebesaran miliknya. Ia juga tak berani mengganggu Nicholas ketika sedang serius bekerja. Meski mereka di ruangan yang sama, Hanna sebisa mungkin untuk berperilaku sopan layaknya pegawai dengan atasan seperti biasanya.


Akan tetapi, Nicholas lah yang selalu curi-curi pandang. Ia ingin memastikan bahwa Hanna baik-baik saja. Jika sekali atau dua kali mungkin masih bisa ditoleransi oleh Hanna, tapi ini hampir setiap detik Nicholas melirik Hanna yang fokus kepada pekerjaannya.


Lama-lama Hanna merasa kesal karena Nicholas yang bolak-balik melirik membuatnya tak fokus bekerja. Bukankah tak ada orang yang akan merasa nyaman jika merasa dirinya selalu diawasi? Itu juga berlaku kepada Hanna.


Sekali ketika Nicholas tertangkap basah sedang melirik Hanna, Hanna langsung mengutarakan perasaannya yang merasa terganggu dengan nada tinggi "Kau itu kenapa sih?"


"Tak ada," sahut Nicholas singkat dan cuek.


Tentu saja, Hanna semakin kesal dengan sikap Nicholas. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cara pikir Nicholas yang berbeda dengan manusia pada umumnya.


"Demi Tuhan, kutarik kembali kata-kataku jika aku pernah menyukai makhluk seperti Nicholas." gumam Hanna kesal setengah mati.

__ADS_1


Nicholas tersenyum miring melihat Hanna yang bergumam tak jelas. Akan tetapi, raut wajah Hanna sangat jelas menggambarkan bahwa dirinya sedang kesal. Nicholas malah merasa senang ketika melihat Hanna yang kesal setengah mati. Bahkan, pemandangan itu lebih menyenangkan daripada menonton konser baginya.


"Imutnya," lirih Nicholas.


Hanna melirik Nicholas ketika ia merasa Nicholas sedang menatapnya. Nicholas pun buru-buru merubah ekspresinya agar tidak ketahuan Hanna.


Mengusili Hanna memang sudah menjadi salah satu rutinitas Nicholas, akan tetapi harus tetap berhati-hati agar Hanna tidak marah besar.


"Mr, saya mau buat kopi di pantri. Mr mau saya buatkan apa?" tanya Hanna dengan perasaan dongkol.


"Ah, tolong buatkan saya kopi juga. Gulanya cukup setengah sendok. Terima kasih."


melihat Nicholas yang masih sibuk bahkan menyahut tanpa memgalihkan pandangannya dari komputernya membuat Hanna semakin kesal.


"Cih, tidak punya sopan santun," gumam Hanna.


Hanna pun pergi. Sedangkan Nicholas tertawa kecil melihat Hanna yang berlalu pergi dengan wajah cemberut.


...****************...


"Halo, selamat pagi. Saya mencari Hanna, apa Hanna tidak masuk kerja?" tanya Zicho kepada sektetaris yang bekerja di luar ruangan Nicholas.


"Kalau boleh tau ada perlu apa?"


"Ah, bukan hal penting. Ada sesuatu yang perlu saya pastikan dengan Hanna. Apa bisa saya bertemu Hanna sekarang?"


Sektetaris itu pun mempersilakan Zicho masuk ke ruangan Nicholas. Awalnya Zicho sedikit bingung karena ia di suruh masuk ke ruangan Nicholas, tapi setelah masuk dan melihat ada meja kerja Hanna di sana ia langsung mengerti.


Zicho juga tak lupa menyapa si empunya ruangan. Bagaimana pun juga, Zicho dan Nicholas merupakan teman meski dalam hal bisnis mereka lebih banyak bersaing. Tapi tentu saja hubungan pertemanan mereka lebih berarti daripada lembaran kertas merah yang bisa habis kapan saja itu.


"Ada perlu apa?" tanya Nicholas cuek.


"Mencari adik kesayanganku. Memangnya apa lagi?" sahut Zicho acuh dan langsung duduk di sofa.


"Aku tidak menyimpan adikmu di sini. Pergilah jika tak ada hal lain," sahut Nicholas semakin dingin.


Zicho bergidik ngeri melihat sikap Nicholas yang selalu saja dingin seperti bongkahan gunung es.

__ADS_1


"Nicho, kalau sikapmu begini terus bagaimana bisa menikah nanti?"


Nicholas tanpa ragu langsung menunjukkan tangan kanannya tanpa mengalihkan pandangan ke arah Zicho. Zicho yang melihat sebuah cincin emas melingkar di jari manis Nicholas sangat terkejut.


Tak ada undangan atau gosip apapun tapi CEO gila itu ternyata sudah menikah. Kabar itu jika terbongkar ke publik pasti bisa menjungkir balikkan dunia bisnis dan dunia bawah.


"Tutup mulutmu jika tak ingin ada lalat yang membuat sarang di sana," ucap Nicholas asal.


Zicho pun langsung menutup mulutnya yang sedari tadi terbuka karena terkejut.


"Nicho, perempuan mana yang berhasil kamu tipu? Jangan-jangan dia kamu pelet?" tanya Zicho kepo.


Saat itu pas sekali Hanna masuk membawa kopi miliknya dan milik Nicholas. Nicholas pun memberi isyarat kepada Zicho bahwa perempuan yang ia nikahi adalah Hanna.


Zicho langsung menoleh ke arah Hanna yang baru masuk. Ia menggeleng keras tak percaya dengan ucapan Nicholas.


Zicho belum bisa menerima semua hal yang terjadi begitu cepat. Kepalanya seperti ditekan benda berat. Rasanya sakit bahkan seperti mau pecah.


Seisi ruangan terasa berputar, pandangan Zicho pun mulai memudar hingga akhirnya Zicho tak sadarkan diri. Hanna dan Nicholas panik melihat Zicho tumbang begitu saja di depan mereka.


"Mr, bagaimana ini?" tanya Hanna khawatir.


Akhirnya Nicholas menggendong Zicho ke sofa. Ia juga dengan sigap mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di ruangannya.


"Kak, kakak sadarlah," rintih Hanna khawatir.


Nicholas yang mendengar Hanna memanggil Zicho dengan panggilan kakak pun merasa aneh. Lalu Nicholas menarik Hanna menjauh dari Zicho dan menanyakannya.


"Hanna, apa maksudmu?"


"A-aku.... "


"Hanna," panggil Zicho lirih.


Hanna yang mendengar langsung menoleh ke arah Zicho. Ia bingung harus bagaimana menghadapi situasi semacam ini. Jika Hanna mengakuinya kepada Nicholas, ia takut Nicholas tak akan mau lagi membantu dirinya. Sedangkan Hanna benar-benar tak ingin terlibat apapun dalam keluarga Hamilton yang notabene adalah keluarga kandungnya.


"Adikku," lirih Zicho lagi.

__ADS_1


Nicholas terus menggenggam tangan Hanna meminta penjelasan. Tapi Hanna masih saja bungkam tak berani berkata jujur kepada Nicholas. Hanna berusaha memutar otak agar terlepas dari situasi itu terlebih dahulu. Ia perlu berpikir jernih untuk menjelaskan semuanya kepada Nicholas.


__ADS_2