
"Hanna!"
Hanna menoleh karena ada yang memanggilnya dari kejauhan.
"Kamu kenapa? Apa ada yang menindasmu?" tanya Zahra yang melihat Hanna begitu kesal ketika memasuki gerbang kampus.
Hanna langsung tersenyum ceria, kekhawatirannya menghilang ketika Zahra ada di sampingnya.
"Siapa orangnya? Katakan saja, akan aku hajar dia," sambung Zahra dengan penuh semangat.
Hanna tertawa kecil melihat Zahra yang begitu galak. Ia tak menyangka, wajah galak Zahra bukan hanya cover semata. Tapi memang ada sisi galak Zahra yang tak kenal takut sedikitpun.
Meski begitu, Hanna tau bahwa tak semua ketakutan selalu bisa terlihat. Semua itu tergantung si pemilik emosi sendiri.
"Sudahlah, aku tak apa. Lagi pula, aku tak yakin kamu akan tetap segalak ini ketika tahu siapa yang menindasku," ucap Hanna menggandeng lengan Zahra untuk pergi.
Meski dengan perasaan sedikit dongkol, Zahra tetap menurut dengan Hanna. Mereka berdua memang baru berteman, akan tetapi mereka seperti sudah berteman sejak lama. Seolah jiwa mereka sudah terikat satu sama lain.
"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Zahra kebingungan.
Jalan yang baru pernah ia lewati itu sedikit asing baginya. Padahal itu masih di lingkungan kampus.
Meski demikian, suasananya membuat Zahra merasa tenang dan segar. Kanan kiri jalan yang ditumbuhi pepohonan rindang membuat udaranya begitu sejuk.
"Ini jalan menuju asrama dan taman belakang kampus. Aku jamin kamu akan suka," sahut Hanna dengan nada riang.
Zahra yang baru tahu pun hanya mengekor Hanna.
Zahra dibuat takjub dengan pemandangan yang ada. Benar-benar diluar ekspektasinya.
Siluet gunung yang menjulang tinggi dengan gagahnya tersaji di depan mata. juga bunga-bunga dan bangku taman yang begitu terawat membuat taman semakin memesona.
"Ini beneran punya kampus kita?" tanya Zahra masih keheranan tak percaya.
"Tentu dong, jarang yang ke sini juga. Padahal ini tempat paling bagus di kampus ini," sahut Hanna.
Mereka berdua pun duduk dan menikmati udara yang segar.
Terlebih, Hanna yang sedang kesal dengan Nicholas. Entah nasib buruk seperti apa yang ia miliki hingga berurusan dengan pria tak bermoral seperti Nicholas.
"Haahhh," hela Hanna mengeluarkan rasa sesak di dadanya.
Zahra sontak menoleh mendengar helaan Hanna. Ini kali pertamanya ia mendengar seorang Hanna yang begitu ceria dan riang menghela seolah ada beban berat yang menimpa dadanya.
"Are you okay?"
"Not sure," sahut Hanna singkat.
__ADS_1
Hanna menatap siluet gunung di depannya. Ia harap, ia kuat seperti itu. Berdiri kokoh tak tergoyahkan oleh apapun.
"Siapa memangnya yang berani menindasmu? Biar aku hajar dia. Tidak tau dia, kalau Hanna punya kakak sepertiku," ucap Zahra marah-marah.
Hanna yang disebelahnya malah hanya tertawa melihat Zahra yang marah-marah tak jelas hanya karena dirinya.
"Kenapa malah tertawa? Katakan saja, aku bisa memusnahkan mereka seperti semut," respon Zahra dengan wajah cemberut karena ditertawai oleh Hanna.
Hanna semakin terbahak-bahak melihat tingkah dosen super galak yang dielu-elukan di seluruh penjuru kampus bisa memasang ekspresi seperti itu.
Zahra malah menjadi gemas melihat Hanna yang sudah seperti adiknya sendiri tertawa begitu lepas di depannya.
"Krucukkkk ...."
Perut Zahra berbunyi minta diisi.
"Wah, apa itu? Sepertinya ada yang kelaparan?" tanya Hanna pura-pura tak tau.
Zahra mengerucutkan bibirnya manja. Karena habis marah-marah ia menjadi lapar.
"Krucukkkk ...."
"Eh, kau lapar juga rupanya," ucap Zahra tertawa puas.
Karena mereka berdua sama-sama lapar, Hanna pun langsung mengajak Zahra ke kantin asrama. Akan terlalu jauh jika harus ke kantin kampus.
"Tentu saja memuaskan perut kita ini," sahut Hanna dengan santainya.
Zahra langsung bersemangat setelah tau ke mana mereka akan pergi. Bagaimana tidak, tukang makan seperti Zahra itu lebih memilih makanan dan uang daripada melakukan hal-hal tak berguna.
Setibanya di kantin asrama, mereka langsung memilih menu. Duo tukang makan itu pun memesan beberapa menu yang menurut orang lain bisa untuk makan orang sekampung.
"Wah, apa ini? Kenapa selera kita sama?" pekik Zahra.
Hanna hanya nyengir kuda mendengar pertanyaan Zahra.
"Sudahlah, habiskan punyamu. Jangan mencuri punyaku ya," ucap Hanna meledek Zahra.
Sesekali Zahra bengong melihat Hanna yang makan dengan lahapnya. Makanan yang disantap Hanna menjadi terlihat sangat enak di mata Zahra ketika melihat Hanna makan.
"Aku mau punyamu, bagi kepadaku sedikit," rengek Zahra dengan air liur yang hampir menetes.
"Tidak, kau punya milikmu sendiri."
Zahra terus saja berusaha meminta makanan Hanna. Padahal, makanan milik Zahra masih banyak.
"Habiskan dulu punyamu, nanti aku kasih," ucap Hanna menyeringai.
__ADS_1
Setelah Zahra yang mulai menurut, Hanna berusaha keras menghabiskan makanannya sebelum Zahra menghabiskan miliknya terlebih dahulu.
Memang, kalau soal makanan Hanna sedikit pelit. Terutama jika itu makanan favoritnya.
"Mereka ini siapa? Kok makan nggak pake aturan gitu," bisik-bisik orang sekitar.
Rupanya cara Hanna dan Zahra makan menarik perhatian orang-orang yang sedang ada di kantin itu.
Hanna tentulah acuh dengan omongan orang dan lebih memilih menikmati makanannya. Berbeda dengan Zahra.
"Sepertinya waktu kalian luang sekali sampai menggunjing orang," ucap Zahra dengan ketus.
Semua orang langsung bungkam. Kata-kata menusuk milik Zahra memang selalu ampuh untuk membungkam orang-orang yang tak punya etika.
"Zahra, biarkan saja. Tak perlu buang-buang tenaga untuk mereka," bisik Hanna.
Zahra cemberut mendengar teguran Hanna. Ia memang selalu tak suka jika ada orang yang melkukan hal tak beemanfaat seperti itu.
"Biarkan saja, toh ini juga mulutku. Kamu diam saja," jawab Zahra acuh.
"Kau ini," balas Hanna menggelengkan kepala.
Benar-benar, seorang Zahra sulit sekali dilawan. Dengan kepribadiannya yang seperti itu pantas saja ia tak takut bahkan jika harus berurusan dengan banyak orang.
Hanna tersenyum menatap Zahra, ia merasa sangat beruntung mengenal Zahra meski dengan pertemuan yang bisa dibilang tak begitu baik.
"Hanna, kamu selesai kelas jam berapa nanti?"
"Aku? Mungkin jam 3 sore. Ada apa?" sahut Hanna heran.
"Ayo kita nonton bioskop nanti," ajak Zahra penuh semangat.
"Kau lupa? Aku kan harus bekerja di kafe," jawab Hanna sembari menghela napas pelan.
Zahra terlihat sangat kecewa, tetapi ia tak menyerah begitu saja mengajak Hanna pergi bermain bersamanya. Lantaran, Hanna teman satu-satunya di sana.
Eropa membuat Zahra tak memiliki teman satu pun di rumah. Dan setelah kembali pun ia hanya bersama dengan kakaknya, Nicholas. Terlebih, Nicholas sangat posesif terhadap Zahra.
"Aku sudah mau kelas, kamu mau di sini dulu atau ikut?" tanya Hanna pada Zahra yang melamun.
"Aku ikut saja, aku belum hafal daerah kampus," sahut Zahra dengan nada rendah.
Zahra terlihat begitu lesu setelah Hanna menolak ajakan Zahra.
"Baiklah. Besok malam jam 7 aku bisa pergi bersamamu jika mau," ucap Hanna.
"Benarkah? Yeyyyy," tanya Zahra dengan sangat antusias.
__ADS_1
Hanna mengangguk dan tersenyum tipis. Mata Zahra langsung berbinar gembira. Tak sabar menantikan besok malam.