Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 26


__ADS_3

Pagi-pagi buta semua orang dikagetkan oleh suara cempreng yang menggelegar.


"Aaaaa.....!"


"Kakak ngapain peluk-peluk aku!" Teriak Zahra sambil menendang Nicholas agar menjauh.


Nicholas yang masih mengantuk pun tak mempedulikan Zahra yang berteriak menyalahkan dirinya. Padahal, semalam Zahra lah yang mendekat kepadanya meminta dipeluk.


Melihat Nicholas tak bereaksi apapun membuat Zahra pergi ke kamarnya dengan kesal.


Ketika Zahra sudah pergi, Nicholas pun membuka matanya dan pergi ke kamarnya juga.


"Adik gila menyebalkan," gerutu Nicholas sambil jalan sempoyongan.


Dukkk


"Aduh! Pintu sialan! Siapa sih yang masang pintu di sini?" Protes Nicholas yang menabrak pintu kamarnya sendiri.


Bukkk


"Ma! Kok kakak dilempar bantal?" Tanya Nicholas dengan berteriak kesal.


"Diamlah! Pagi-pagi udah berisik aja!"


Nicholas langsung diam tak berani bicara lagi. Sedang Rosa berlalu pergi untuk menyiapkan sarapan.


Pagi riuh di keluarga Wijaya sudah sangat biasa bagi tetangga mereka. Apalagi setelah kepulangan Zahra. Bahkan semua pegawai yang bekerja di sana pun harus terbiasa dengan hal tersebut.


Disaat semua orang sudah bersiap untuk pergi bekerja, ada Zahra yang masih asik memeluk bantalnya. Ia terlalu lelah untuk memulai lagi lebih awal.


"Ra! Kamu nggak ngajar?" Tanya Rosa membangunkan Zahra.


Zahra hanya mengerang dan berpindah posisi. Sedang Rosa yang melihat putrinya masih enggan bangun pun memilih menyerah dan pergi.


Hari sudah semakin siang, akan tetapi Zahra masih belum ada niat untuk bangun. Ia memang sudah membuka mata, tapi masih bermalas-malasan di atas ranjang.


"Ahhh, malas sekali ke kampus," keluh Zahra sembari meregangkan tubuhnya.


Meski Zahra bilang ia malas, ia tetap pergi ke kampus karena ia bahkan belum genap sebulan bekerja di sana. Belum lagi ada Nicholas yang akan terus-terusan mengomelinya.


Hari yang melelahkan lainnya mereka jalani seperti biasa. Tak ada yang istimewa ataupun mengejutkan. Semuanya mulai terbiasa dengan lingkungan kerja yang terkadang tak tentu. Termasuk Hanna, ia juga mulai bisa menghendel pekerjaannya yang kadang kala sangat dadakan.


"Aih, apa tumpukan berkas ini diproduksi setiap detik? Kenapa tak habis-habis," keluh Hanna mulai merasa jenuh dan lelah.


"Kerjakan saja, kau mengeluh malah tak selesai-selesai," sahut Alex yang juga sebenarnya sudah sangat frustasi.

__ADS_1


"Kepalaku seperti mau pecah," celetuk Alex membuat Hanna menoleh dengan tatapan lelah.


"Kalian berdua, apa yang terjadi?" Panggil Nicholas membuat Hanna dan Alex terkesiap.


Hanna dan Alex kompak menggeleng karena tau akhlak Nicholas.


"Ke ruanganku sekarang," sambung Nicholas.


Hanna dan Alex saling bertatapan heran.


Setelah Hanna dan Alex masuk, Nicholas langsung menjelaskan tujuannya memanggil mereka berdua. Yang mana pada intinya adalah pekerjaan Alex dan Hanna akan bertambah 2 kali lipat karena Nicholas hendak pergi ke Eropa minggu depan.


Setelah selesai menjelaskan, Nicholas pun menyuruh mereka kembali bekerja.


"Hanna, tolong siapkan proposal untuk meeting nanti siang," pinta Nicholas sebelum Hanna benar-benar keluar dari ruangannya.


Hanna pun menjawab dan langsung pergi untuk menyiapkan proposal yang diminta Nicholas agar ia bisa lanjut bekerja dengan tenang.


Hanna sesekali menghela napas berat mengingat ia juga harus mengikuti meeting membosankan itu. Tetapi, jika ia mangkir dari meeting gajinya akan dipotong 20% oleh Nicholas.


"Haahh," lenguh Hanna setelah melewati satu hari yang begitu panjang dan sibuk.


Ia yang tadinya hendak pulang teringat jika ia ingin mengunjungi panti asuhan tempatnya dibesarkan dulu. Dengan perlahan Hanna melajukan motornya menuju panti asuhan di pinggir kota. Jalanan sepi itu sudah begitu akrab dalam ingatan Hanna.


"Sudah sangat lama aku tidak ke sini," gumam Hanna memandangi gedung panti asuhan yang masih terawat hingga kini.


Di taman terlihat beberapa anak yang sedang duduk sambil asik bercerita diawasi oleh beberapa pengasuh. Mereka tampak begitu bahagia.


"Wah, siapa ini? Sudah lama sekali ya," sapa kepala panti asuhan yang dari dulu mengasuh Hanna.


Mereka berpelukan hangat dibawah semburat senja yang kian menghilang.


"Ayo masuk. Aku merindukanmu," ajak Ratna merangkul Hanna.


"Tak banyak yang berubah di sini," ucap Hanna membuka obrolan sembari berjalan menuju ruangan Ratna.


Lorong-lorong begitu ramai dengan suara riuh anak-anak yang sedang bercanda. Hanna hanya tersenyum merasakan rasanya pulang ke rumah.


Ratna yang melihat Hanna tersenyum pun ikut tersenyum simpul. Ia percaya jika anak malang yang ia rawat itu kini merasakan rasanya bahagia meski tak memiliki orang tua.


"Bagaimana kabarmu? Semuanya baik-baik saja bukan?" Tanya Ratna yang baru datang sambil membawa secangkir teh hangat untuk Hanna.


"Em, semuanya baik bu." Jawab Hanna tersenyum.


Pandangan Hanna tiba-tiba teralihkan oleh sebuah buku yang terbuka di meja sofa itu. Hanna langsung menatap Ratna meminta izin untuk melihatnya.

__ADS_1


"Lihatlah," ucap Ratna.


Hanna terfokus pada sebuah foto bayi, "I-ini...".


"Itu kamu waktu bayi dulu," sahut Ratna tersenyum penuh arti.


Ratna tanpa sadar menceritakan banyak hal dari awal Hanna ditemukan oleh dirinya di pinggir jalan.


"Hari hujan yang gelap, seseorang turun dari mobil dan meletakkanmu begitu saja di pinggir jalan. Aku terlalu jauh untuk mencegah mereka meninggalkanmu waktu itu," jelas Ratna sambil memegang cangkir tehnya di pangkuan.


Pandangan sedih Ratna terus saja menatap lantai. Ia tak kuah jika harus menatap Hanna yang begitu malang.


"Lalu, ini siapa bu? Sepertinya aku tak ingat pernah melihatnya?" Tanya Hanna menunjuk foto seorang bayi di sebelahnya.


"Itu Bella. Dia masuk kemari bersamaan denganmu. Sayangnya, beberapa minggu setelahnya ia tiada."


Hanna hanya manggut-manggut paham. Tapi Hanna benar-benar tertarik dengan sebuah foto. Ratna yang menyadarinya pun mengambil buku album dari hadapan Hanna lalu mengambil foto itu.


"Bawa saja, anggap sebagai hadiah dari ibu." Ucap Ratna.


"Ta-tapi bukannya ini harus tetap ada di buku itu?" Sahut Hanna merasa tak enak jika mengambil foto itu.


"Tak apa, ibu masih punya fotonya. Kamu ambil saja," timpal Ratna.


Hanna pun tersenyum senang sambil memegang tangan Ratna. Bagi Hanna, Ratna sudah seperti ibunya sendiri dan panti asuhan ini sudah seperti rumah yang berisi keluarganya.


Hari semakin malam, Hanna pun pamit untuk pulang karena besok ia harus datang bekerja lebih awal. Hanna pun berpamitan dengan Ratna yang mengantarnya hingga depan gedung.


"Hati-hati di jalan ya sayang," ucap Ratna memeluk Hanna.


Hanna menyambut hangat pelukan perpisahan Ratna, "Baik bu. Ibu juga, jaga kesehatan.".


Hanna berlalu pergi dengan tersenyum. Udara malam yang dingin sesekali membuat bulu kuduk Hanna berdiri. Di tambah lagi jalanan itu selalu sepi dengan pohon rindang di kanan dan Kiri jalan. Sesekali terasa mencekam, tapi menenangkan.


Hanna melajukan motornya sedikit mengebut karena ia tak ingin sampai di rumah terlalu malam. Belum lagi ia harus mandi dan makan malam.


"Aih, kenapa aku lupa jika aku belum makan malam," keluh Hanna ketika mendengar suara perutnya yang keroncongan.


Karena Hanna sudah sangat kelaparan, ia mencari restoran yang masih buka untuk makan malam terlebih dahulu.


"Sudahlah, sesekali makan di luar tak apa-apa."


Hanna membelokkan motornya ke sebuah restoran ayam goreng yang terkenal buka 24 jam. Untunglah, ada restoran tersebut di jalan pulang. Sehingga Hanna tak perlu mati kelapan di jalan.


Dengan senang hati Hanna menyantap makan malamnya dan langsung pulang setelah selesai.

__ADS_1


__ADS_2