Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 8


__ADS_3

"Hanna! Ada apa denganmu? Belakangan ini kamu sering sekali terlambat masuk kerja," omel bos Hanna.


Hanna hanya menunduk terdiam.


"Ah, sudahlah! Besok kamu tidak usah datang lagi," sambung si bos.


"Hanna, aku bukannya tak puas dengan kinerjamu. Bukan juga aku tak bisa memaafkan keterlambatanmu, tapi yang mengambil keputusan ini bukan hanya aku. Baik-baik lah di luar sana," lanjut si bos yang sebenarnya tak tega.


Jam kerja Hanna yang tinggal beberapa menit di hari itu menjadi saksi bisu ia kehilangan pekerjaan yang sudah menghidupi dirinya selama ini. Belum lagi Hanna harus membayar ganti rugi kepada Nicholas.


Dengan raut lesu Hanna menapaki jalanan. Menunduk bersama bintang-bintang yang tak kelihatan.


Malam dingin sendirian, kebingungan harus menumpahkan kesedihan. Ia harus segera bangkit, memikirkan bagaimana untuk selanjutnya.


'Apa aku terima saja tawaran Pak Nicholas? Tapi harga diriku?' batin Hanna.


"Ah, tidak. Tidak boleh, apa jadinya harga diriku nanti," ucap Hanna menepis segala pikirannya.


Gang gelap menuju rumah sewaan Hanna malam itu terasa lebih menyeramkan dari biasanya.


Dari kejauhan samar-samar terlihat ada beberapa pemuda di gang tersebut. Hanna yang sedikit gemetar pura-pura tak melihat.


"Dasar berandal! Cepat, berikan uangmu kepada kami," ucap salah seorang pemuda sambil menendang sesuatu.


Hanna tak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi karena gelap. Hanna pun mencoba sedikit mendekat.


Hanna menyipitkan mata, mencoba melihat dengan jelas apa yang ada diantara kaki para pemuda itu.


"Bedebah! Cepat berikan, sebelum kami memukulimu lagi!" Teriak salah seorang lagi.


Perlahan-lahan Hanna melihat ada seorang remaja laki-laki yang meringkuk di bawah kaki mereka.


"Hei!" Teriak Hanna kepada para preman.


Para preman itu pun menoleh dan mendapati Hanna yang berparas cantik tengah berjalan ke arah mereka.


Untuk sesaat para preman itu membuarkan Hanna menolong remaja laki-laki yang meringkuk di tanah.


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Hanna sambil membantunya berdiri.


"Bos, gadis ini lumayan juga. Bagaimana kalau kita bermain dulu dengan dia?" Bisik salah seorang preman.


Hanna yang mendengar memasang ekspresi dingin. Namun, paras Hanna yang terlihat polos dan ceria itu tak membuat para preman itu gentar. Malah mereka semakin tergoda akan pesona Hanna.


"Tangkap dia," suruh si bos preman.

__ADS_1


"Coba saja kalau bisa," ketus Hanna


Hanna yang pernah menjadi atlet beladiri ketika SMA pun dengan mudah melumpuhkan para preman itu. Kini sisa si bos saja.


Bos preman itu pun maju menyerang Hanna dengan sebilah pisau kecil di tangannya.


"Bagaimana? Masih berani?"tanya Hanna kepada para preman itu.


Dengan mudahnya Hanna melumpuhkan si bos preman dan membuat para preman itu lari tunggang langgang karena tak mau dipukuli lagi oleh Hanna.


"Kau tak apa bu-kan? Eh! Ke mana anak itu?" ucap Hanna kebingungan setelah menoleh ternyata anak laki-laki itu sudah tidak ada di belakangnya.


Hanna celingak-celinguk mencari keberadaannya, tapi tidak menemukan apa-apa. Karena sudah tak ada yang bisa ia lakukan, Hanna pun kembali berjalan menuju rumahnya.


"Haahhhh, melelahkan sekali hari ini... "


Hanna merebahkan tubuh lelahnya pada ranjang kebesarannya. Menatap langit-langit kosong melayangkan ribuan angan hingga tanpa sadar matanya terpejam dan berlabuh ke alam mimpi.


...****************...


"Bagaimana? Sudah dapat?" tanya Nicholas kepada Alex.


"Sudah. Ini bos semua informasi tentang Nona Hanna," ucap Alex memberikan berkas yang agak tebal kepada Nicholas.


"Are you sure?"


"Yes, I am... " jawab Alex singkat lalu berlalu pergi.


Nicholas mulai membolak-balik kertas itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Sesekali ia tersenyum tipis dan tampak terkejut melihat kata demi kata yang tertulis di sana.


Kelebihan Hanna membuat Nicholas semakin tertarik dengan sosok Hanna.


"Wah, pantas saja Zahra sangat lengket dengannya. Rupanya value seorang Hanna semenarik ini," gumam Nicholas.


Nicholas langsung menyusun rencana agar Hanna bisa ia tarik ke sisinya. Dengan adanya Hanna, pasti akan sangat menguntungkan dirinya.


Sepanjang hari Nicholas menjadi kurang fokus dengan pekerjaannya karena memikirkan Hanna. Akhirnya Nicholas menyuruh Alex untuk menghubungi Hanna lagi bahwa ia berubah pikiran dan akan tetap menagih biaya perbaikan mobilnya.


Alex pun bingung dengan bosnya karena baru kali ini Nicholas menjadi plin-plan begitu. Padahal biasanya Nicholas sangat tegas dan jelas dengan semua ucapannya.


"Sepertinya Pak bos kesurupan," gumam Alex.


Nicholas langsung melirik Alex ketika mendengar gumamannya.


"Bos, jangan lupa. Kerjaan masih banyak bos," ucap Alex langsung berlari keluar ruangan Nicholas.

__ADS_1


"Berhenti!" ucap Nicholas menatap Alex dengan menyilangkan tangannya.


Dengan berat hati Alex berhenti dan menoleh dengan senyuman.


"Aku perlu bantuanmu untuk membuat Hanna menerima tawaran pekerjaan dariku. Tak peduli apapun caranya," pinta Nicholas yang terdengar sebagai perintah bagi Alex.


Dalam hati Alex menggerutu memiliki bos seperti Nicholas. Ia selalu memberikan banyak pekerjaan kepadanya dan belum lagi harus mengurusi urusan pribadinya.


Karena Alex melihat peluang ia bisa sedikit lebih santai jika ada Hanna maka Alex berusaha keras untuk membujuk Hanna agar mau bekerja menjadi asisten Nicholas.


"Dengan cara apapun bukan?" tanya Alex memastikan.


"Ya, kau boleh melakukannya dengan cara apapun. Tapi, jangan sampai dia lecet sedikitpun," sahut Nicholas sambil memeriksa berkas-berkas di depannya.


Alex tersenyum puas karena sudah terpikirkan cara paling efektif untuk mendesak Hanna agar mau menerima tawaran Nicholas.


Tanpa menunggu lama, Alex pamit dan mulai menjalankan rencananya.


Sebagai rencana pertama, Alex menghubungi pemilik kafe untuk membuat janji bertemu karena ingin membeli kafe tempat Hanna bekerja. Namun, jika rencana itu gagal setidaknya Nicholas memiliki kesempatan menjadi pemegang sebagian besar saham kafe tersebut.


"Pak Bos nih aneh-aneh aja perintahnya," gerutu Alex frustasi menatap tumpukan berkas di mejanya.


Sedangkan Nicholas sibuk memeriksa berkas-berkas sambil tersenyum. Ia teringat beberapa potong foto Hanna di majalah sekolah. Paras cantiknya benar-benar mampu menipu orang, ia sama sekali tak terlihat jika ia seorang pemegang sabuk hitam taekwondo.


Tanpa Nicholas sadari, ada salah seorang sekretarisnya yang sedang bediri di depan mejanya hendak meminta tanda tangan untuk proyek terbaru mereka.


"Astaga! Kau tak pernah etika?" tanya Nicholas dingin.


Sekretarisnya hanya bisa menunduk sambil menahan tawa. Pasalnya, baru kali ini ia melihat bosnya yang kejam tersenyum sambil menatap berkas.


"Apa?"


"Ah, ini pak. Rancangan proyek yang perlu bapak tanda tangani," ucap sekretaris sambil menyodorkan berkas tersebut kepada Nicholas.


Sudah hampir pukul 6 sore, Nicholas harus bergegas pulang sebelum Nyonya Rosa mengamuk.


Tak lupa, Nicholas membawa pulang berkas mengenai Hanna. Ia masih perlu menyimpannya karena suatu saat pasti akan sangat berguna.


"Waaahhh, baru juga aku sampai. Kalian sudah menghabiskan semuanya?" ucap Nicholas yang masih berdiri di ambang pintu.


"Anak durhaka! Masih ingat pulang? Masih ingat punya mama dan papa?" rentet Rosa jutek.


Zahra meledek Nicholas sambil bergelayut manja di lengan mamanya.


Nicholas hampir saja terpancing emosinya karena Zahra. Akan tetapi, Nicholas memilih pamit ke kamar untuk bersih-bersih terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2