Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 38


__ADS_3

"Tuan, sepertinya Nona muda hendak pindah," lapor Nick kepada Hamilton.


"Tak apa, kalian ikuti saja nanti kemana dia pindah."


Hamilton terus berusaha menyelesaikan pekerjaannya secepatnya. Ia harus segera mempersiapkan pertemuan dengan Alexa.


Hamilton belum memberitahu Zicho karena Hamilton masih perlu untuk memastikannya lebih lanjut. Tanpa adanya bukti kuat, Hamilton tidak akan mungkin bisa membawa Alexa kembali ke dalam keluarga Hamilton. Terlebih lagi, posisi putri kandung keluarga Hamilton di depan umum masih dipegang Karin.


Zicho yang melihat ayahnya akhir-akhir ini sangat sibuk dan begitu serius menjadi sedikit khawatir.


"Ayah, apa ayah perlu bantuan Zicho?" Tanya Zicho menawarkan bantuan.


"Tak perlu, ayah masih bisa mengurusnya sendiri."


"Pak tua, kau mau hari tuamu tidak bahagia ya?" Ucap Zicho mengambil tumpukan berkas di depan Hamilton.


"Anak kurang ajar! Begitu caramu memanggil ayahmu?"


Hamilton melempar sebuah buku ke arah Zicho yang sudah lari membawa berkas-berkas miliknya.


"Zicho Alexander Hamilton ... " Teriak Hamilton kesal.


Zicho yang mendengarnya hanya cekikikan. Ia sangat puas karena berhasil membuat ayahnya kesal. Kapan lagi seorang Zicho berhasil membuat Hamilton kesal. Semua akal bulus Zicho selalu dengan mudah terbaca oleh Hamilton.


"Ck, dasar anak nakal itu. Tapi baguslah, aku jadi bisa mempersiapkan rencana selanjutnya untuk bisa bertemu dengan Alexa."


Hamilton kembali menatap foto Alexa dan Emily yang ia pajang di depannya. Hamilton tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Ia terus saja tersenyum menatap foto putri kecilnya.


"Emily, putri kita tumbuh menjadi anak yang kuat."


Pikiran Hamilton melayang mengenang kebersamaan dirinya dengan Emily. Bagaimana ia memperjuangkan cintanya untuk Emily yang awalnya tak direstui keluarga karena perbedaan status sosial diantara keduanya.


"Sayang, lucu ya. Dulu aku ngotot mau nikah sama kamu sampe ngelawan daddy. Tapi setelah kita nikah, daddy malah sayang banget sama kamu juga putra dan putri kita," lirih Hamilton.


"Setelah kamu tiada, daddy memilih menetap di Jepang dan bertani, sayang."


Sebuah senyum getir terukir pada raut Hamilton. Sedang tatapan matanya menyiratkan kesepian dan kesedihan yang mendalam.


Hamilton memang mulai menemukan titik terang keberadaan putrinya, akan tetapi putrinya yang telah lama hilang itu belum tentu mau menerima Hamilton sepenuhnya sebagai ayahnya.


Pikiran itu terus mengganggu Hamilton, membuatnya merasa takut dan khawatir jika nanti putrinya akan menolak dirinya dan juga keluarga Hamilton.


"Ayah, ini rekam medis milik siapa? Kenapa ada di tumpukan berkas?" Tanya Zicho yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Kau bisa baca bukan?"

__ADS_1


"Tak ada namanya yah, banyak data yang disensor juga."


Hamilton langsung merebut data itu dari Zicho.


"Oh, data seperti ini hanya milik kakekmu. Tenang saja," ucap Hamilton tanpa berpikir.


Sepersekian detik kemudian, Hamilton langsung membeku ketika menyadari apa yang barusan ia ucapkan.


"Zi ... Zicho. Pegang sesuatu, ayah punya firasat buruk."


Hamilton menelan ludah ketika merasa ada yang diam-diam berdiri di belakang dirinya dan Zicho.


"Anak sama cucu sama aja. Durhaka. Bukannya menyambutku malah mau memukuliku sampai mati kalian?"


"Daddy, Grandpa ... "


Hamilton dan Zicho menunduk tak berani berkutik di hadapan Ethan.


"Zicho, kembali urus pekerjaanmu sana."


Mendengar perintah grandpa, Zicho langsung ngacir pergi setelah meletakkan sebuah buku tebal yang ia pegang tadi.


"Hamilton, mana cucu perempuanku?"


"Tak usah bohong. Kau pikir aku tidak tahu? Nick dan Theo sudah memberitahuku," sahut Ethan berusaha mendesak Hamilton.


Hamilton diam mencoba mengalihkan pembicaraan karena dirinya sendiri saja belum memastikan secara jelas jika Hanna adalah Alexa.


Ethan menyipit menyelidik. Hamilton benar-benar tak berani mengangkat wajahnya.


Melihat gelagat Hamilton, Ethan menebak jika putranya belum benar-benar memastikan dia Alexa atau bukan. Tapi, ia sudah bergerak lebih dulu menguji DNA milik Hanna ketika Hanna dirawat di rumah sakit.


Ethan masih menunggu hasil uji DNA itu keluar. Demi keamanan informasi tersebut, Ethan mengirim sampel DNA tersebut ke Jepang dan diuji di sana.


"Putraku, kamu ini lamban sekali," celetuk Ethan.


"B-bukan begitu Dad, aku tak ingin memaksa Alexa. Ini juga demi keamanannya. Hidup sebagai orang biasa juga tak buruk," sahut Hamilton.


Hamilton berusaha agar ayahnya tak memaksakan kehendak apapun kepada Hanna. Karena ia tahu, akan sangat sulit bagi Hanna menerima semuanya.


Ethan yang enggan berdebat dengan Hamilton memilih pergi kembali ke kamarnya.


"Theo, kirim 5 orang lagi untuk menjaga gadis itu. Aku sangat yakin bahwa gadis itu adalah cucu perempuanku yang telah lama hilang."


Theo yang dihubungi tuan besarnya pun hanya bisa mematuhi perintah. Theo sebenarnya tak begitu suka jika nona muda ditemukan. Karena hal tersebut hanya akan menambah pekerjaannya.

__ADS_1


Belum lagi para musuh keluarga Hamilton jika mengetahui hal tersebut. Itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan gadis itu.


"Tuan Ethan, apa ini tidak berlebihan?"


"Apanya yang berlebihan? Itu cucuku," sahut Ethan tenang.


"Maaf tuan, tapi jika musuh menyadari pergerakan kita mereka akan berusaha membahayakan nyawa gadis itu."


"Lancang, dia cucu perempuanku. Nona muda keluarga Hamilton, bukan seorang gadis liar yang dipungut di tepi jalan." Sahut Ethan marah.


"Katakan lagi jika kau sudah tak menginginkan kepalamu," sambung Ethan.


Theo langsung bungkam seribu bahasa. Ketika Ethan sudah marah ia tahu bahwa Ethan sangatlah menyayangi Nona muda Alexa. Hal itu membuat Theo hanya bisa patuh.


"Baik tuan, saya akan mempersiapkan permintaan maaf kepada tuan dan nona muda ketika ia kembali ke keluarga Hamilton."


Panggilan pun berakhir. Theo menggebrak meja di depannya. Ia kesal karena merasa kehilangan kepercayaan dari Ethan.


Anak buah Theo hanya bisa menunduk diam. Mereka tak tahu Theo sedang kerasukan apa hingga menggebrak meja begitu keras.


"Kalian berlima, pergilah ke alamat ini. Jaga seorang gadis untukku," perintah Theo kepada kelima anak buahnya.


Setelah menerima alamat yang diberikan Theo, mereka langsung bergegas pergi.


Disisi lain, Theo tak menyadari bahwa ada yang menguping dari tadi. Terlalu banyak informasi yang ia dapatkan kali ini setelah sekian lama memata-matai keluarga Hamilton.


Ketika ia hendak pergi, seseorang memegang bahunya.


"Kau mau kemana?"


Ia diam tak berani menjawab.


"Kau dengar apa barusan?"


"T-tidak ada. Aku baru ada disini," sahutnya terbata-bata.


"Kalau begitu, pergilah ke neraka. Aku tidak butuh sampah sepertimu," ucap Nick menggorok leher mata-mata itu.


Theo bertepuk tangan melihat pertunjukan dari Nick. Theo dan Nick memang sudah lama tahu ada mata-mata diantara para anak buah mereka. Tapi, ia terlalu sulit untuk ditangani jika tanpa ada bukti.


Keluarga Hamilton selalu menjunjung tinggi nama baik, maka dari itu mereka yang menjadi bagian keluarga Hamilton pasti paham jika mereka tidak boleh bertindak tanpa adanya bukti yang jelas.


"Ku harap dia belum melapor kepada bosnya," ucap Theo menatap jijik mayat di depannya.


Nick memegang bahu Theo dan berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2