Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 49


__ADS_3

Zicho yang baru menginjakkan kakinya di mansion keluarga Hamilton langsung disambut oleh sebuah vas bunga yang melayang bebas ke arahnya. Ia yang tak memperhatikan pun kaget ketika vas itu mendarat di pintu yang baru saja ia tutup. Zicho membeku untuk beberapa saat.


"A-apa yang terjadi?" tanya Zicho terbata-bata.


Suara langkah kaki Hamilton memenuhi ruangan yang hening. Ia mendekat ke arah Zicho. Zicho yang tak tahu hanya menatap Hamilton bingung. Entah setan mana yang sedang merasuki ayahnya itu.


Tatapan Hamilton yang garang membuat Zicho tak berani berkutik sembarangan.


"Zicho!" bentak Hamilton melempar beberapa lembar kertas.


"Bertanggungjawablah sendiri," sambung Hamilton lalu berbalik pergi.


Zicho perlahan memungut kertas yang terhambur di kakinya. Ketika ia melihat angka dan nama barang yang tertera disana ia sangat kaget hingga membeku untuk kedua kalinya.


Zicho yang menyadari bahwa ia tak memiliki uang sebanyak itu untuk ganti rugi kepada bibinya pun langsung mengejar Hamilton. Dengan merengek-rengek di kaki Hamilton, Zicho meminta agar Hamilton mengganti rugi semuanya kepada bibinya.


"Ayah.... " Panggil Zicho dengan merengek.


"Tolonglah putramu sekali ini saja.... "


Hamilton mulai naik pitam melihat kelakuan Zicho yang tak berubah. Ia hanya tau menghabiskan uang keluarga untuk ganti rugi setiap kali ia pergi ke rumah bibinya.


Zicho yang melihat ayahnya enggan membantunya ganti rugi pun beralih merengek kepada Ethan yang sedari tadi hanya menonton drama ayah dan anak. Sesekali Ethan tertawa kecil ingat ketika dulu putranya pun bersikap demikian kepadanya.


Tawa Ethan semakin keras ketika melihat Hamilton kewalahan menghadapi Zicho yang terus saja merengek kepadanya.


"Grandpa.... Ayah tidak menyayangiku lagi.... " rengek Zicho beralih pada Ethan.


Meski sudah dewasa, sebenarnya Zicho sesekali masih suka merengek.


Hamilton yang melihat tatapan Ethan seperti ingin memakan dirinya pun langsung memukul kepala Zicho.


"Anak bodoh! Ayo ikut aku!" Ucap Hamilton sambil menjewer telinga Zicho.


"Ayah, sakit yah.... Sakit.... "


"Sakit ya? Lantas kau berbuat onar seenakmu itu tidak membuatku sakit?" Tanya Hamilton.


"Untung ayahmu itu aku. Coba ayahmu itu grandpa. Sudah habis kau!" Omel Hamilton kepada Zicho.


Zicho yang diomeli malah mengabaikan Hamilton dan sibuk sendiri dengan dunianya. Ia membiarkan Hamilton terus mengomel sepanjang jalan menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Zicho yang dihubungi asistennya karena da pekerjaan mendesak pun pergi begitu saja tanpa pamit kepada Hamilton yang masih mengomel. Sedang Hamilton yang dengan sombong memuji dirinya sendiri karena lebih baik daripada Zicho pun harus menanggung kecewa.


"Kau mende-ngarkanku kan?"


"Hei, putra laknat! Mau kemana kau!" panggil Hamilton sangat kesal.


"Awas saja kau! Aku tak akan membantumu bertanggungjawab kepada bibimu." sambung Hamilton lagi.


Hamilton yang kesal setengah mati berjalan dengan mengehentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang merajuk.


Ethan yang lewat melihat hal itu pun tertegun. Ia masih tak percaya dengan matanya sendiri. Bagaimana tidak, sikap putranya pun masih seperti anak-anak. Tak berbeda jauh dengan Zicho.


Hamilton begitu kelelahan dengan semua pekerjaan yang menumpuk dan ditambah lagi ulah Zicho yang berbuat onar sembarangan di rumah Bella. Meskipun Bella adalah adik kandungnya, ia itu terkenal sebagai orang yang sangat tegas dan tak pandang bulu dengan siapa saja termasuk keluarga.


"Haih, anak itu. Benar-benar ingin kutendang pantatnya," gerutu Hamilton di ruang kerjanya.


...****************...


Hanna yang sudah tertidur cukup lama akhirnya sadar. Ia perlahan-lahan membuka kedua bola matanya.


"Tunggu.... !" teriak Hanna saat benar-benar tersadar.


"Hanna, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Nicholas membuat Hanna terkejut.


"Kamu? Ngapain kamu disini?" tanya Hanna dengan tatapan tajam.


"Kenapa kamu melihatku begitu? Aku habis menyelamatkanmu yang diculik malah kamu menatapku begitu," gerutu Nicholas.


Hanna pun murka mendengar jawaban Nicholas. Karena ia yang sedang berusaha mencari tahu orang yang menerornya jadi gagal.


Hanna yang dibutakan emosi langsung mengusir Nicholas. Nicholas yang tersulut emosi juga jadi membentak-bentak Hanna. Hanya sepersekian detik, ekspresi wajah Nicholas yang biasanya lembut kepada Hanna berubah drastis.


Nicholas menatap Hanna dengan sangat tajam. Nicholas perlahan mendekat kepada Hanna lalu mencengkeram tangannya kuat-kuat.


"Hanna, Ini apartmenku. lagi pulang, aku bukan orang asing," ucap Nicholas sambil menunjukkan dua buah buku di tangannya.


Hanna langsung mundur selangkah melihat apa yang dipegang Nicholas. Ia tak menyangka jika Nicholas mengajukan dokumen pernikahan terlebih dahulu tanpa sepengetahuan Hanna .


"I-itu.... " omongan Hanna terpotong.


"Iya. Jadi menurutlah atau semua orang yang ku suruh mengawasimu yang menanggung akibat dari kecerobohanmu," sahut Nicholas mengancam.

__ADS_1


Hanna benar-benar terdiam seribu bahasa. Ia tak bisa lagi membantah perkataan Nicholas. Tapi, bukan Hanna namanya jika tidak memberontak seperti yang biasanya ia lakukan.


Hanna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Nicholas. Akan tetapi, tenaga Nicholas yang lebih besar malah membuatnya mendorong Hanna ke dinding.


"Kamu mau kemana lagi?" tanya Nicholas dengan nada menggoda.


"A-aku.... " ucap Hanna sembari memikirkan cara untuk lepas dari Nicholas.


Dengan sekuat tenaga, Hanna menendang tulang kering Nicholas.


"Yes! Akhirnya lepas juga." ujar Hanna meninggalkan Nicholas yang masih mengaduh kesakitan.


Dengan bodohnya, Hanna malah tak tega ketika melihat raut memelas Nicholas. Hanna pun mendekat dan berusaha meminta maaf. Tapi rupanya, itu adalah jebakan seorang Nicholas.


Nicholas langsung menggendong Hanna ke kamar. Hanna terus saja berontak dalam dekapan Nicholas.


Hanna masih tak rela jika harus tidur seranjang dengan Nicholas. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Hanna bergidik ngeri. Jangankan tidur seranjang, menikah saja Hanna belum pernah terpikirkan sama sekali oleh Hanna.


"Nicholas, lepaskan aku!" berontak Hanna.


Nicholas tentu saja acuh. Ia mana mungkin mau melewatkan kesempatan yang sudah da di depan mata.


"Brengsek! Turunkan aku," berontak Hanna lagi.


"Baiklah," sahut Nicholas yang dengan kasar menurunkan Hanna di atas ranjang.


Melihat mata Nicholas yang menatap dirinya aneh membuat Hanna mundur menjauhi Nicholas. Namun, Nicholas pun semakin mendekat menyusut jarak diantara mereka.


Jantung Hanna sudah berdebar sangat kencang. Sedangkan Nicholas hanya menatap mata Hanna tanpa berkata apapun. Hanna mulai agak takut.


"Ka-kamu mau ngapain?" tanya Hanna gugup.


Nicholas tersenyum miring sambil terus menatap Hanna. Hanya saja, dengan begitu Nicholas malah membuat Hanna semakin merasa gelisah. Ia takut Nicholas berniat melakukan sesuatu tak senonoh kepada dirinya.


Nicholas terus menatap Hanna tanpa sepatah kata pun.


"Haaah," lenguh Nicholas.


Ia pun menjatuhkan dirinya di sebelah Hanna. Melihat reaksi Hanna yang begitu takut membuat dirinya tersadar bahwa itu bukan hal yang seharusnya ia lakukan sebagai laki-laki yang ingin melindungi Hanna.


Pikiran Nicholas melayang memikirkan harus bagaimana dia bertindak kepada Bella. Karena ia belum juga menemukan alasan Bella menculik Hanna.

__ADS_1


__ADS_2