
"Sam," panggil Nicholas lesu.
Sam menepuk pundak Nicholas memberi semangat. Alex juga terlihat mondar-mandir di depan kamar Zahra khawatir.
Sam masih belum tau tentang kondisi kesehatan Zahra yang sebenarnya. Jadi, dialah yang paling tenang diantara mereka bertiga.
Sedangkan di kamar, Zahra yang diperiksa Dr. Smith mulai sadar. Ia membuka mata perlahan dan mendapati Dr. Smith sedang memeriksa dirinya.
Dr. Smith menghela napas berat, "Zahra, you can't delay the treatment any longer."
"I'll talk to your brother about it," sambung Dr. Smith.
Ketika Dr. Smith hendak pergi, Zahra langsung menahan ujung jas dokter Dr. Smith.
"No, doc. Please, don't do it. I don't want to upset my family. Please, just make another excuse like I'm exhausted, lacking blood or something. Please," pinta Zahra dengan mata berkaca-kaca.
Dr. Smith kembali menghela napas. Ia sangat enggan memenuhi permintaan Zahra tersebut. Karena itu akan sangat membahayakan nyawa Zahra.
"All right, I'll start treatment procedures next month. I promise," Zahra menyerah dengan dokter kepercayaan keluarganya itu.
Dr. Smith pun masih dengan setengah hati mengangguki permintaan Zahra.
"Ok, I'll call you next month for therapy," ucap Dr. Smith.
Dengan sangat terpaksa, Dr. Smith harus berbohong kepada Nicholas. Ia keluar dari kamar Zahra dengan seorang perawat.
"Doc, how's?" Sergah Nicholas.
"Everything's fine, he's just eating carelessly," ucap Dr. Smith berusaha berbohong.
Alex dan Sam bernapas lega, tapi tidak demikian dengan Nicholas yang sudah mengenal lama Dr. Smith. Nicholas yang curiga dengan gelagat Dr. Smith pun memintanya untuk ikut ke ruang kerjanya.
Dr. Smith hanya bisa pasrah mengikuti Nicholas ke ruang kerja.
"Tell me the truth," ucap Nicholas tegas.
"Sorry, Nicho. Your sister is in desperate need of medical attention. She should begin proper treatment immediately. She put it off a long time ago. She promised she'd do it next month, but I'm not so sure of her condition."
Nicholas mengangguk paham dengan kekhawatiran Dr. Smith. Nicholas pun sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi adiknya itu. Tapi, dia sangat tau betapa keras kepalanya adiknya itu.
__ADS_1
Setelah kepergian Dr. Smith, Nicholas merenung di ruang kerjanya cukup lama membuat Alex dan Sam bingung. Tapi, Sam dan Alex lebih memilih pergi menjaga Zahra daripada harus meladeni Nicholas yang terkadang sangat kejam jika memberikan pekerjaan.
Nicholas memikirkan cara sendiri agar Zahra mau di rawat dalam waktu dekat dan juga alasan yang tepat agar mama dan papa mereka tidak tahu tentang kondisi Zahra untuk sementara waktu.
"Sam, kakakku ke mana?" Tanya Zahra sambil celingukan.
"Mungkin di ruang kerja, tadi dia pergi mengantar Dr. Smith dan belum ke mari lagi," jawab Sam sambil menyuapi bubur untuk Zahra.
Nicholas yang belum menjenguk Zahra setelah mengantar Dr. Smith membuat Zahra merasa kehilangan. Meskipun, ketika mereka bersama lebih banyak bertengkar. Tapi, Nicholas tetaplah kakak terbaik untuk Zahra. Terlebih lagi, Nicholas satu-satunya saudara kandung yang ia miliki.
Zahra hanya mengangguk dan lanjut memakan buburnya hingga habis. Zahra tak tahu jika Nicholas sudah tahu tentang kondisinya yang sebenarnya.
Di sisi lain, Nicholas sedang sibuk mengurus semua berkas-berkas Zahra karena ia akan bersikeras meminta Zahra melakukan pengobatan secepatnya.
"Mr. Anton, tolong bantu saya mengurus surat cuti Zahra mengajar di kampus. Untuk sementara, saya yang akan mengambil alih mahasiswa yang ada dibawah bimbingan Zahra baik itu magang atau tugas akhir," ucap Nicholas kepada rektor kampus.
Setelah semuanya beres, Nicholas berjalan menyusul Alex dan Sam yang tengah menemani Zahra yang belum sempat ia jenguk.
"Merasa baikan?" Tanya Nicholas lembut yang muncul dari balik pintu.
"Bos! Syukurlah kau datang di waktu yang tepat. Adikmu ini hampir membunuhku tadi, ia mengamuk memintamu datang."
"Baguslah kalau kamu sudah baikan," ucap Nicholas.
Zahra cemberut melihat kakaknya yang tidak peka dan tetap cuek seperti biasa.
"Tak bisakah kakak kelebihan perhatian padaku?" Seru Zahra dengan nada marah.
Melihat adiknya masih mengamuk, Nicholas mendekat dan memeluknya hangat. Zahra tak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis di dalam dekapan Nicholas.
"Hei, kenapa? Apa ada yang sakit? Perlu kakak panggilkan Dr. Smith lagi?" Tanya Nicholas beruntun.
Zahra menggeleng pelan dan tak ingin melepaskan pelukannya. Nicholas paham benar dengan adik satu-satunya itu.
"Kak, ponselku mana? Aku belum menghubungi Hanna, dia pasti khawatir."
"Pakai ponselku saja," sahut Nicholas memberikan ponselnya.
Nicholas sangat enggan meninggalkan Zahra meski hanya sebentar.
__ADS_1
Zahra pun berusaha menelepon Hanna.
"Halo,"
"Hei! Kamu ke mana saja? Nomormu tidak aktif seharian ini," sergah Hanna sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja. Aku lupa menaruh ponsel di mana," sahut Zahra dengan nada riang.
Melihat Zahra mulai ceria lagi, Nicholas memilih menjauh dan memberinya waktu untuk mengobrol dengan leluasa dengan Hanna.
"Oh iya, tadi aku dikabari pihak kampus. Katanya, pembimbingku diganti karena kamu ambil cuti."
Zahra pun bingung, ia tidak pernah mengajukan cuti apapun. Dua hari lagi juga ia akan pulang. Untuk apa juga Zahra mengajukan cuti apalagi hingga pembimbing Hanna harus ganti.
"Hah? A-aku tidak mengajukan cuti apapun. Sepertinya itu kesalahan pihak kampus," sahut Zahra masih bingung.
"Sudahlah, jangan pikirkan. Biar aku yang urus itu. Kau mau aku belikan oleh-oleh apa?"
"Hmm, bagaimana kalau oleh-olehnya pacar untukku saja?" Ucap Hanna bercada.
Zahra langsung mengomel mendengar permintaan Hanna. Ia kan hendak menjodohkan Hanna dengan kakaknya yang hampir jadi perjaka tua.
"Tidak boleh! Selain itu!" Bentak Zahra membuat Hanna terkejut.
Bagaimana tidak, Zahra tak pernah membentak Hanna sekalipun. Sekarang malah Zahra membentak ya dengan tiba-tiba.
"Hei, aku kan hanya bercanda!" Bentak Hanna balik.
Mendengar adiknya berbicara dengan berteriak membuat Nicholas menerobos masuk dan langsung merebut ponselnya dari tangan Zahra.
"Sudah cukup, kau istirahatlah. Sudah malam."
Zahra menggerutu, ia masih asik ngobrol dengan Hanna malah dimatikan begitu saja oleh Nicholas. Ia bahkan belum sempat berpamitan dengan Hanna untuk tidur.
Disisi lain Hanna kebingungan dengan telepon Zahra yang tiba-tiba mati. Akan tetapi, ia tak ambil pusing karena telepon antar negara biayanya mahal dan kalau cuma bisa telepon sebentar itu hal yang sangatlah wajar.
"Good night, Zahra.... " Lirih Hanna sembari menatap langit malam dari jendela kamarnya.
"Cepatlah kembali, banyak hal yang mengganggu dalam pikiranku. Datanglah dan tenangkan aku," sambung Hanna.
__ADS_1