Marry Mr. Nicholas

Marry Mr. Nicholas
Bab 37


__ADS_3

"Mr, kita mau ke mana?" Tanya Hanna bingung karena itu bukan jalan menuju rumahnya.


Nicholas hanya diam dan melirik Hanna.


Melihat Hanna sangat khawatir, Nicholas akhirnya buka suara.


"Rumah baru. Lingkungan rumahmu tak begitu aman," sahut Nicholas tiba-tiba.


"Hah?"


"Rumahmu terlalu jauh dari kantor," sahut Nicholas lagi.


Hanna langsung menolak dan ingin pulang ke rumahnya. Ia tak membutuhkan rumah baru meski lebih dekat dengan kantor. Ia sudah nyaman di rumah itu.


Mendengar penolakan Hanna, Nicholas langsung mengerem mobilnya secara mendadak.


"Hei! Kau gila ya? Kalau mau mati, mati sendiri saja. Jangan mengajakku," omel Hanna.


"Itu permintaan Zahra, jika ingin membuatnya sedih boleh saja," ucap Nicholas.


Hanna langsung diam dan menunduk.


Nicholas yang melihat perubahan sikap Hanna sangat bangga karena sepertinya ia akan berhasil membujuk Hanna.


Menjadikan Zahra sebagai tameng memang sepertinya pilihan yang sangat bagus untuk dirinya. Karena Hanna selalu tak bisa menolak pemberian Zahra. Ditambah lagi, Zahra yang akan berada di Eropa untuk beberapa waktu sangat mempermudah Nicholas untuk menjadikannya sebagai senjata untuk membujuk Hanna.


"Aku sudah menyuruh orang untuk membawa barang-barangmu," ucap Nicholas.


"B-boleh Mr antar saya ke suatu tempat?" Tanya Hanna lirih.


Nicholas mengangguk, "Baiklah, ke mana?"


Hanna pun mengetik alamat panti asuhan pada maps dan memberikannya kepada Nicholas. Nicholas hanya melirik Hanna tanpa bertanya apapun.


Nicholas melajukan mobilnya menuju panti asuhan di pinggir kota. Hanna hanya duduk diam tenggelam dalam pikirannya yang kacau.


Tujuan Hanna ke panti asuhan kali ini hanya untuk meminta ibu kepala panti asuhan agar tak memberikan informasi apapun tentang dirinya.


"Hanna?" Panggil Nicholas.


Hanna langsung tersadar dari lamunannya.


"Huh? Eh, kenapa?"


Nicholas tertawa melihat ekspresi Hanna yang tampak bingung dan malu.


"Bukan apa-apa. Kau hanya melamun dari tadi," sahut Nicholas masih terus tertawa.


Hanna masih saja memasang ekspresi bingung.

__ADS_1


"Kita sudah sampai. Kau tak mau turun?" Sambung Nicholas.


"O-oh. Iya, aku turun."


Hanna langsung berlari masuk untuk menemui ibu kepala panti. Hanna sangat malu karena melamun tadi di depan Nicholas.


"Hanna!" Teriak seseorang membuat Hanna menoleh.


Tampak ibu kepala panti berada di taman, Hanna pun langsung berlari menyusulnya. Langsung di peluknya ibu kepala panti oleh Hanna.


"A ... "


"Kebetulan sekali kamu datang," ucap kepala panti memotong ucapan Hanna.


"Aku sangat khawatir kepadamu," sambungnya.


Hanna memasang raut bingung.


"Ayo, ibu mau tunjukkan sesuatu kepadamu," ajak kepala panti menggandeng Hanna.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, Nicholas mencegat mereka.


"Mau ke mana?"


Ibu kepala panti langsung mendongak dan ia mengenali bahwa pria yang ada di depannya adalah putra sulung Tuan Wijaya.


"Lama tidak bertemu, bibi," ucap Nicholas.


"Iya tuan muda, sudah sangat lama. Bagaimana kabar tuan dan nyonya sekarang?" Tanya Ibu kepala panti kepada Nicholas.


Hanna semakin bingung dengan situasi yang ada di depannya itu. Hanna benar-benar tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Hanna yang bingung pun buka suara, "Tuan muda? Bibi? Sebenarnya apa yang terjadi?"


Ibu kepala panti akhirnya mengajak Hanna dan Nicholas untuk pergi ke ruangannya terlebih dahulu. Ia akan menjelaskan tentang hubungannya dengan keluarga Wijaya yang tak Hanna ketahui.


Hanna baru sadar, Nicholas tak bertanya apapun tentang jalan ataupun tempat yang ia tuju tadi. Padahal, jalan menuju ke panti asuhan ini sedikit membingungkan bagi orang yang belum pernah datang.


'Baiklah, tunggu ibu kepala panti asuhan menjelaskan dan semuanya akan jelas,' batin Hanna.


Nicholas melirik Hanna yang tampak komat-kamit sembari menatap lantai lorong yang mereka lalui. Nicholas tertawa kecil melihat raut wajah Hanna yang menggemaskan.


"Ayo masuk," ucap ibu kepala panti.


Hanna dan Nicholas masuk tanpa basa-basi. Ibu kepala panti pun menyuguhkan secangkir teh hangat untuk mereka berdua.


Panjang lebar ibu kepala panti asuhan menjelaskan kepada Hanna mengenai hubungan dirinya dengan keluarga Wijaya yang ternyata mantan majikannya dan juga donatur tetap panti asuhan.


Setelah Hanna paham, ibu kepala panti asuhan meminta Nicholas untuk meninggalkan Hanna dengan dirinya karena ada beberapa hal penting yang harus dibicarakan berdua dengan Hanna.

__ADS_1


Nicholas mengangguk menyetujui permintaan ibu kepala panti asuhan dan meninggalkan ruangan.


"Hanna, ibu sangat khawatir padamu belakangan ini," ucap ibu kepala panti menggenggam tangan Hanna.


"Aku baik-baik saja, bu," sahut Hanna.


"Hanna, beberapa hari yang lalu, ada dua orang pria datang kemari. Mereka menunjukkan fotomu ketika bayi. Aku bertanya-tanya dalam benakku, apakah mereka berniat baik atau buruk terhadapmu," cerita ibu kepala panti sembari menerawang ke luar jendela.


"I-ibu tidak memberikan informasi apapun bukan?"


"Mereka awalnya meminta buku album yang berisi foto setiap anak yang pernah datang ke panti asuhan ini. Untungnya, aku sudah memberikan foto itu kepadamu. Jadi, mereka tak menemukan apapun," jelas Ibu kepala panti.


Hanna ikut menerka-nerka siapa yang sebenarnya sedang menyelidiki dirinya hingga ke panti asuhan. Jika itu Zicho, ia tak akan mungkin melakukannya sejauh ini. Dan jika itu Nicholas, pasti ia tidak perlu repot-repot menyuruh orang karena ia kenal dengan Zahra.


"Syukurlah jika begitu. Tadi ibu ingin menunjukkan apa kepadaku?"


Ibu kepala panti jadi teringat bahwa ia hendak memberikan sebuah kalung yang Hanna bawa ketika bayi. Juga ia ingin mengajak Hanna ke makam bayi yang datang bersamaan dengan Hanna dulu.


"Ini ... "


Hanna perlahan mengambil kalung itu dengan penuh tanya.


"M-milik siapa ini, bu?"


"Ibu menemukannya di saku bajumu dulu. Bukalah,"


Hanna membuka liontin berbentuk hati yang terlihat sudah sangat usang. Mata Hanna mulai berkaca-kaca melihat foto yang ada di dalamnya. Ada Emily, Hamilton dan Zicho yang tersenyum. Disisi lain, ada foto dirinya yang tengah tersenyum ketika bayi.


Hanna menangis tersedu-sedu. Ibu kepala panti langsung memeluknya sambil meminta maaf karena tak memberitahunya lebih awal.


Nicholas yang menunggu di luar pintu sayup-sayup mendengar suara tangisan Hanna. Tapi, Nicholas tak berani membuat Hanna merasa kehilangan harga dirinya di depan dirinya.


Cukup lama Hanna menangis, hingga akhirnya ibu kepala panti asuhan keluar untuk meminta izin Nicholas karena ia ingin membawa Hanna ke suatu tempat.


"Hanna, ini makam seorang bayi mungil yang datang ke panti asuhan ini bersamaan denganmu malam itu."


"Hai cantik, maaf ya. Aku baru bisa menyapamu," ucap Hanna mengelus nisan makan itu.


"Bu, aku tak ingin kembali ke keluarga itu."


Ibu kepala panti menyentuh bahu Hanna.


"Kamu yakin?"


Hanna mengangguk mantap. Terlihat tak ada keraguan sedikitpun di mata Hanna.


Ibu kepala panti menghela napas berat. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain mendukung Hanna. Ia sudah dewasa dan berhak memiliki hidupnya sendiri.


Nicholas yang mengantar mereka hanya menunggu di luar pemakaman atas permintaan ibu kepala panti asuhan.

__ADS_1


__ADS_2