
Hanna menunduk dalam sambil berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Kalian terlalu senggang ya?" tanya Nicholas dengan sangat dingin.
"Ria, ke ruangan saya sekarang."
Ria yang merupakan salah satu sekretaris Nicholas pun langsung bergegas masuk. Tatapan sinis Ria pun melayang pada Hanna.
Hanna menghela napas dan kembali ke meja kerjanya. Hanna mulai memperbaiki berkas yang salah dengan lebih teliti dan hati-hati.
"Hanna, di panggil Mr. Nicholas," ucap Ria ketus.
Hanna mengangguk dan membawa berkas yang telah selesai ia perbaiki juga. Sebelum pergi Hanna sempat melirik Alex yang tadi marah besar kepadanya. Alex terlihat begitu santai dan seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Sembari menunggu Hanna masuk, Nicholas berpangku dagu memikirkan caranya meminta maaf karena berkas yang salah tadi memang bukan milik Hanna. Tapi milik Ria.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu mengagetkan Nicholas.
"Masuk!"
"Maaf Mr, Mr panggil saya?" Tanya Hanna memastikan.
"Oh iya, ini Mr. Laporannya sudah saya perbaiki," sambung Hanna menyodorkan berkas bermap biru.
Nicholas berdehem sambil menerima berkas tersebut. Ia membolak-balik memastikan setiap lembar laporan yang ditulis Hanna sudah benar.
"A-anu Mr. Saya, mohon maaf atas kelalaian saya hari ini."
Nicholas yang masih memeriksa berkas pun cuek tak menanggapi Hanna.
"Sudah, tak apa. Kamu sudah boleh keluar."
Hanna pun pamit undur diri meski dalam benaknya sedikit merasa aneh dengan sikap Nicholas siang ini. Padahal saat pagi Nicholas terlihat baik-baik saja.
"Tolong panggilkan Alex," pinta Nicholas dengan menatap Hanna.
Pikiran Nicholas masih saja riuh meski sudah melihat bahwa Hanna baik-baik saja dan tak ada lecet sedikitpun. Hingga akhirnya Nicholas bangkit dari duduknya dan berjalan mengejar Hanna yang hampir mencapai pintu.
Baru saja Hanna membuka pintu sedikit, Nicholas langsung menghalangi dengan tangannya. Hanna yang terkejut langsung berbalik dan mendapati dada bidang Nicholas sudah ada di depan wajahnya.
"A-ada apa Mr?" Tanya Hanna gugup.
Jantung Hanna berdebar sangat cepat.
__ADS_1
"Kau tadi kemana?" Tanya Nicholas dengan nada kesal.
Hanna mendongak, "Sa-saya menemui teman saya."
"Teman atau pacar?"
Hanna pun heran dan tersadar. Ia langsung mendorong dada Nicholas agar sedikit menjauh dan memberinya sedikit ruang.
"Atas dasar apa saya harus memberitahu Mr?" Tanya Hanna enggan menjawab pertanyaan Nicholas.
Nicholas menunduk lemas. Pikirannya melayang mengingat foto Hanna dan Zicho yang tampak begitu akrab di sebuah restoran.
"Tak apa, keluarlah. Tolong suruh Alex membelikan makan siang untukku," perintah Nicholas kepada Hanna.
Hanna pun mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan Nicholas. Hanna berjalan perlahan menuju mejanya dengan penuh keheranan.
"Kamu kenapa?" Tanya Alex sambil mengetuk meja Hanna.
Hanna yang tengah melamun terjingkat kaget dan hampir saja mulutnya mengucapkan kata mutiara untuk Alex.
Melihat Alex di depannya, ia pun teringat pesan Nicholas dan langsung menyampaikannya kepada Alex. Alex mengangguk dan bergegas pergi sebelum singa Nicholas mengamuk karena terbakar api cemburu.
"Apa itu tadi? Kenapa orang gila itu bersikap sangat aneh?" Gumam Hanna.
Potongan ingatan kejadian di ruangan Nicholas terus saja berputar dalam benak Hanna. Semakin ia tak ingin memikirkannya malah membuat Hanna semakin kepikiran.
Alex yang baru kembali membelikan Nicholas makan siang pun bingung melihat Hanna yang begitu frustasi. Tadinya dia hendak menghampiri Hanna, tapi diurungkan karena Nicholas pasti akan marah kepadanya lagi.
"Bos, ini makan siangnya."
Alex menata makan siang Nicholas di meja sofa depan meja kerja Nicholas. Kedua kalinya Alex mendongak karena Nicholas tak kunjung datang untung makan dan betapa terkejutnya Alex melihat Nicholas yang tak kalah frustasi dari Hanna.
"A-apa yang terjadi? Kenapa kamu begitu? Hanna juga, kau apakan dia?" Rentet Alex penasaran.
Nicholas masih tetap diam enggan menyahuti Alex. Alex yang sudah lama berteman dan menjadi asisten Nicholas pun tak ambil pusing dengan kelakuan Nicholas.
Dengan langkah lemas, Nicholas mendekat untuk makan. Alex pun masih setia menemani Nicholas makan hingga selesai.
"Lex, sepertinya aku terlambat," ucap Nicholas pelan.
"Hah? Kau bilang apa?"
"Hanna sepertinya punya hubungan dengan Zicho," lanjut Nicholas.
Alex pun mendekat kepada Nicholas karena semakin penasaran dengan penyebab yang membuat Nicholas bersikap begitu.
__ADS_1
"Kenapa kamu berpikir begitu?" Tanya Alex mencoba menggali informasi dari Nicholas.
"Paparazzi yang kusuruh mengirim foto Hanna dan Zicho sedang makan siang bersama tadi."
"Mereka terlihat sangat akrab Lex," sambung Nicholas makin tak bersemangat.
Alex langsung menoyor kepala Nicholas agar sedikit sadar setidaknya.
"Kau pastikan dulu sama Zahra. Oon sekali kau," cerca Alex.
Alex benar-benar tak habis pikir dengan Nicholas. Semua hal yang menyangkut Hanna sangatlah berpengaruh pada mood seorang Nicholas. Nicholas yang awalnya tak terlalu berminat kepada perempuan dan menikah kini sudah mulai tertarik.
Nicholas yang masih saja makan dengan tak bersemangat membuat Alex turut prihatin dengan kisah percintaan Nicholas yang tak begitu beruntung.
"Bos! Tenang saja, selama mereka belum menikah bos masih punya kesempatan," ucap Alex mencoba menyemangati Nicholas.
"Memang bisa begitu? Bagaimana jika Hanna tak memiliki perasaan yang sama denganku? Bukankah itu sama saja menyiksa diri sendiri?" Tanya Nicholas sedikit berharap.
"Hei, cinta itu bisa tumbuh seiring waktu nanti," jawab Alex berusaha membangkitkan kembali semangat Nicholas.
Melihat Nicholas yang mulai bersemangat, Alex menyuruh Nicholas agar cepat menghabiskan makanannya dan ia pamit untuk kembali bekerja. Karena Nicholas selalu memberikan pekerjaan yang lebih banyak untuk Alex. Belum lagi, Alex harus mengurusi bisnis lain yang mana Nicholas sebenarnya malas untuk terlibat secara langsung.
Sedang Nicholas mulai menggunakan otaknya untuk memikirkan cara mendekati Hanna. Ia tak ingin melepaskan Hanna begitu saja, terlebih lagi Hanna sangat sesuai dengan kriteria menantu idaman mamanya.
"Hanna, kamu pasti akan menjadi milikku seutuhnya," gumam Nicholas menyeringai.
Setelah selesai makan, Nicholas langsung menghubungi Zahra untuk memastikan bahwa Hanna tidak sedang memiliki hubungan spesial dengan siapapun. Karena Nicholas paling anti merusak hubungan orang lain hanya demi memuaskan egonya sendiri.
"Zahra, Hanna sedang berpacaran dengan siapa?" Tanya Nicholas langsung to the point.
"Hah? Kau mabuk ya? Aku aduin mama kau," sahut Zahra bingung.
Zahra mengecek lagi ponselnya untuk memastikan bahwa itu benar-benar kakaknya yang menelepon.
"Benar kok, tapi kenapa dia bertanya begitu? Apa otaknya sedang tidak waras?" Gumam Zahra langsung meletakkan ponselnya karena enggan mendengarkan ocehan Nicholas yang tak berguna.
Nicholas pun terus saja mengoceh tanpa henti membuat Zahra yang sedang sibuk menjadi jengah.
Zahra yang kasihan dengan ponselnya pun memutuskan panggilan secara sepihak. Ia tak peduli jika kakaknya marah atau mengamuk. Karena salahnya sendiri berbicara terlalu lama.
"Aih, adik sialan! Mematikan telepon dariku seenaknya saja," gerutu Nicholas.
Ting!
Zahra refleks mengambil ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
__ADS_1
"Hah!" Pekik Zahra langsung berdiri.
Tanpa pikir panjang ia langsung menyambar tasnya dan berlari menuju parkiran. Ia meninggalkan kampus begitu saja tanpa memedulikan jadwal mengajar ya yang dimulai 30 menit lagi.