
Risiko mencintai dalam diam. Salah satunya adalah menahan sakit sendirian.
✏
"Hufh." Helaan kesekian kali terembus, membuat kedua orang yang berada didekatnya menoleh heran.
Anne menyentuhkan punggung tangan nya ke dahi Davara. "Nggak panas." Maniknya mebidik iris emerald milik Davara tajam. "Lo nggak kenapa-kenapa 'kan?"
Davara bergeming, tegun nya masih menguasai jiwa gadis mungil bersurai hitam pekat yang bersinar layaknya rambut iklan shampo di TV.
Anne berdecak, lalu menyentil dahi Davara membuat gadis tidak terlalu cantik, tapi cantik itu mengaduh sakit. "Di tanya ya jawab Ara."
Davara tidak menjawab, ia berlalu meninggalkan taman dengan tenang. Kedua manusia yang bersamanya tadi hanya bisa menghela napas sembari mengingatkan bahwa manusia yang baru saja mengabaikan keberadaan mereka itu adalah teman nya.
"Tu anak kenapa dah?" celetuk Leo menatap Anne dramatis.
"Lo kayak nggak punya otak Le. Udah tau 'kan tadi gue nanya nggak dijawab, ngapain lo nanya ke gue?"
"Ck. Kalo kesel sama Ara jangan ngamuk ke gue dong." sahut Leo merasa tersinggung.
"Cowok baperan, alay." ejek Anne sembari meninjukan kepalan tangan nya ke arah dada Leo.
"Perasaan, cuma lo doang diantara kita berempat yang demen megang dada gue. Ngaku lo suka sama gue kan Anne?"
"Idih amit, kalau mau jadi orang jangan terlalu percaya diri gitu lah, nggak cocok buat lo."
"Gue sumpahin lo gak bakalan suka sama siapapun kecuali gue baru tau rasa."
"Emang gue peduli?"
"Cih. Ngeselin jadi cewek, gak akan ada yang suka sama lo kalo gini." ucap Leo, lalu berlalu meninggalkan Anne yang siap meledakan bara dalam kepalanya.
"Tuhan, kenapa gue harus suka sama cowok modelan dia sih?" gumam Anne meratapi nasib rasanya yang mengenaskan menurut pendapat nya.
__ADS_1
—
Waktu istirahat masih tersisa, setelah berhasil pergi dari pengusik kecil di taman tadi. Davara memutuskan untuk menenangkan pikiran nya di dalam perpustakaan. Bukan maksud nya mau menjauh dari teman-teman nya. Namun, saat ini pikiran nya butuh dipulihkan.
Mengambil random buku di rak, Davara duduk di pojokan yang sepi. Membuka lembar pertama, manik nya menatap kosong ke arah deretan kalimat yang tertulis dalam buku yang entah tentang apa, Davara tidak memperhatikan itu.
Saat ini pikiran nya terlalu acak-acakan tidak karuan, macam hatinya yang berantakan.
Niat hati ingin membuat seseorang terbakar api cemburu, kini ia terjebak dalam permainan nya sendiri.
Flashback
Davara menghampiri seorang cowok yang ia ketahui anak yang cukup populer di sekolah. Namanya kalo tidak salah ingat Devandra. Dan yang paling penting, Devan belum memiliki kekasih, cocok sekali. Setidak nya, setelah ini tidak mungkin ada gadis yang akan menampar pipi mulus nya.
Menyunggingkan senyuman paling lebar yang ia punya, dengan tidak tahu malunya seorang Davara mengamit lengan Devan.
Devan mengeryit, tahu jika lelaki itu kebingungan dengan segera Davara berjinjit untuk membisikan sebuah permohonan.
"Gue tau nama lo Devandra, salah satu cowok populer di sekolah kita. Gue minta tolong satu hal, please bantuin gue, ini darurat. Pura-pura jadi cowok gue, mau ya?" bisiknya.
"Dia?" tanya lelaki jangkung yang memiliki air muka yang bersahabat. Namun, cukup membuat orang terdiam kaku jika berada didekatnya.
"Iya, gue gak bohong 'kan. Biar dikata gue jelek seperti ucapan lo, tapi gue juga bisa mikat cowok cakep. Gue juga gak mau kalah sama cowok jelek macem lo yang bisa mikat cewek secantik Farah."
"Bagus dong, jadi kapan-kapan kita bisa double date. Kalo perlu triple date ajakin Leo sama Anne." ucap pemuda itu tersenyum.
Davara melongo, bukan ini yang ia inginkan. "Haha iya." Tersenyum garing. "Oh, kenalin cowok gue namanya—"
"Gue Devandra dan lo Abyzasena 'kan? Kakak kelas yang banyak di taksir sama cewek-cewek SMA Star?" sela Devan sembari mengulurkan tangan nya.
"Gue tau." ucap Abyza acuh, lalu berlalu begitu saja meninggalkan Davara yang menatap kecewa.
"Makasih ya, udah mau bantuin gue." ucap Davara setelah melepaskan tangan nya yang mengamit lengan Devan.
__ADS_1
"Lo tau siapa gue 'kan?" tanya Devan datar.
"Ya taulah, kan tadi gue udah kasih tau."
"Tapi kayak nya lo nggak tau satu hal ini. Gue gak nerima terima kasih yang hanya menguntungkan bagi si pengucap nya doang."
"Ma-maksud lo?"
"Berterima kasihlah dengan cara yang bener. Mulai sekarang lo jadi pacar gue."
"A-apa?!"
Flashback Off
"Aishh, kenapa jadi gini sih?" decak Davara frustasi.
"Apa nya yang kenapa?"
Deg.
Davara mematung mendengar suara yang tidak asing tepat berada di depan telinga nya.
.
📍Maaf kalau ceritanya membosankan.
📍Ini murni hasil pemikiran sendiri.
📍Mohon bantuan nya dengan Krisar yang membangun, agar tulisan aku semakin berkembang.
Jangan lupa like nya juga ehhe.
Terima kasih.
__ADS_1
©starlight