Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MSS >> Bagian Empat


__ADS_3

Davara dan Anne bersiap menuju kantin, sebelum itu Anne menyempatkan waktu untuk merapikan dirinya, memoles kembali bedak yang sedikit banyak sudah terhapus bersama keringatnya.


Sementara Anne sibuk dengan penampilannya, Davara justru disibukkan dengan pemikirannya. Ia gelisah, sungguh. Takut-takut akan dipertemukan dengan Devan. Apa yang harus ia lakukan ?


Tadi pagi masih aman, pemuda itu tidak nampak dihadapannya. Tapi kali ini, tidak jamin. Ini saat nya para siswa beristirahat, sudah dipastikan Devan tidak akan berdiam diri di kelasnya. Terlebih jalan menuju kantin, harus melewati kelas Devan.


Bagaimana ini, Davara ingin kabur saja. Tapi, perut nya yang jadi pikiran. Ia belum memakan apapun sejak pagi, melewatkan sarapan karena tidak selera bukan berarti ia tidak berniat makan siang juga.


"Woy, Ara! Gue udah ngoceh dari tadi astaga." kesal Anne, membuat kesadaran Davara kembali menghampiri.


"Apaan ?" tanyanya seolah tidak membuat seorang Anne kesal.


"Kantin cepetan."


"Keempat makan lain selain kantin aja."


"Tumben, kenapa ?"


"Bosen aja. Ya gak sih, setuju 'kan? "


"Gue sih nggak, secara bakso Teh Neni  paling enak. Udah ah ke tempat lain ngabisin waktu, yang singkat aja napa si. Buruan, kedua curut itu pasti udah nungguin." Dengan cepat Anne mengamit lengan Davara, menyeretnya pergi saat itu juga.

__ADS_1


Davara benar-benar gelisah selama perjalanan, terlebih kelas Devan sudah tertangkap netranya. "Anne, udah kita ke tempat lain aja ya."


"Nggak ra, gue udah laper banget."


"Please lah Anne."


"Ya ampun ada apasih ? nggak biasanya lo kayak gini."


"Ng–nggak ada apa-apa. Cuman gue beneran lagi nggak pengin ke kantin." elak Davara berusaha meyakinkan.


"Nggak ada banyak waktu Davara sayang. Gue udah bener-bener rindu Baksonya Teh Neni."


"Nggak."


"Anne—" Davara menghentikan ucapannya, yang dia takutlan akhirnya terjadi juga.


Aaa... tolong, nggak suka kayak gini. batin nya berteriak histeris.


"Kenapa nggak di angkat ?" tanya Devan menghadang kedua gadis itu.


Anne heran, Devan yang terkenal itu bertanya kepada siapa ? Dirinya ? Tidak mungkin. Davara ? Lebih tidak mungkin. Lalu ?

__ADS_1


"E ... itu, gue ... gue ketiduran." jawab Davara gugup.


Anne melirik temannya, apa ada yang ia lewatkan ?


"Devan nanya sama lo ra ?" tanya Anne heran dengan jawaban temannya. Sejak kapan Davara yang ia kenal akrab dengan Devan ?


"Iy—"


"Lain kali pamitan dulu bisa ?" lagi-lagi ucapan Davara tersela oleh Devan.


"Heh, emangnya lo siapanya Ara sampe mau tidur aja dia harus pamitan sama lo ? Lagian ketiduran mah bukan keinginan kali, tapi ketidaksengajaan yang menyenangkan untuk tubuh." bukan Davara yang menyahut, melainkan gadis yang mengamit lengan pacarnya. Dan Devan tahu, gadis itu adalah Annedira Nediva sahabat dari kecil Davara sama seperti kedua Kakak kelasnya Leo dan Abyza.


"Lo nggak dikasih tahu ? Sayang sekali rupanya gadis gue ini malu buat jujur sama yang katanya sahabatnya sendiri." Devan tersenyum mengejek. "Gue pacarnya Davara."


Anne tidak menyangka hal ini. Sejak kapan mereka dekat, tahu-tahu sudah pacaran..


"Ra, jelasin maksud Devan ?"


"E ... itu Anne ... " Davara tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tidak tahu harus menceritakan nya seperti apa. Jika jujur, rahasia yang ia sembunyikan selama ini akan terbongkar. Rahasia bahwa ia menyukai Abyza. Dan jika berbohong, itu artinya ia menghianati kepercayaan Anne. Tuhan, Davara bingung sekarang.


"Apa ra ?"

__ADS_1


__ADS_2