Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 12


__ADS_3

Malam hari saat kami selesai makan aku memutuskan untuk pergi ke taman belakang rumah. Aku duduk di kursi tepi danau, danau buatan yang ukurannya tidak terlalu besar, namun cukup membuat pikiran tenang jika berada disitu.


Tiba-tiba terbesit di pikiranku tentang Arka. Ah sial, belum apa-apa saja aku sudah merasa rindu dengannya.


Apakah mungkin aku bisa menjadi lebih dari sekedar bersahabat dengan dia?


Jujur saja aku merasa tidak suka jika mengingat dia dan Rika.


Aku jadi ingat kata-kata Cindy saat berlibur di pantai waktu itu.


kata orang, tidak ada perempuan dan laki-laki yang benar-benar bersahabat tanpa memiliki perasaan lebih.


Tapi aku takut jika Arka tau perasaanku yang sebenarnya hanya akan menghancurkan persahabatan ku dengan dia yang sudah terjalin selama ini.


Aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Aku tidak melihat ada orang, mungkin sudah tidur karena hari sudah cukup larut. Aku menuju ke kamar dan membersihkan diri di kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi aku melihat layar ponselku menyala, ternyata Arka mengirimi aku pesan, lalu segera ku baca pesan itu.


Isi pesan :


💬Sampai detik ini lo belum ada ngasih kabar ke gue !


💬Heh lo lupa kalo punya hp ya ?


💬Atau lo lupa punya sahabat ganteng kaya gue yang harus lo kasih kabar kalo lo udah sampai di rumah oma?


💬Apa perlu gue telpon oma sekarang ?


Aku tersenyum, beberapa kali aku mengulangi membaca pesan itu, sampai akhirnya dia menelpon.


Setelahku geser tombol hijau, belum sempat aku bersuara.


"Woy lo kemana aja sih, kurang ajar banget ya belum ada ngasih kabar juga sampai sekarang? " omelnya setelah aku mengangkat panggilan.


"Heh nggak usah ngomel gitu juga kali. Kayanya bukan gue deh yang kangen elo kalo kita berjauhan, tapi elo yang kangen gue. " Ejek ku dengan tertawa.


"Apa itu kangen, nggak ngerti gue. Gue cuma khawatir karena lo nggak ada ngasih kabar. Ernan juga gue telpon nggak diangkat-angkat. " ucapnya dengan nada tak santai.

__ADS_1


"Maaf gue lupa tadi ngabarin, baru sekarang ini pegang hp. Lagian lo kenapa jam segini belum tidur? " tanyaku.


"Gue habis nganter Rika, tadi dia ngajak nonton. Capek banget nih gue. " jawabnya dengan santai.


Mood ku menjadi tidak baik setelah mendengar ucapan Arka.


"Makin lengket aja lo sama Rika. " ucapku seolah tak perduli.


"Yahh kenapa woy! Atau jangan-jangan lo cemburu ya. " ejeknya dengan tertawa kencang.


"Dih nggak akan lah ya, nggak penting banget. " elak ku.


Cukup lama kami mengobrol sampai akhirnya Arka menyudahi obrolan karena menyuruh aku tidur.


.........


Pagi hari di kursi taman belakang, aku duduk berdua dengan oma, papa dan mama sedang mengurus keperluan Ernan di sekolah barunya nanti.


"Oma, apakah oma tau kalau Arab sekarang sudah punya pacar? " tanyaku.


"Sudahlah oma, Citra tidak suka membahas soal ini. " ucapku dengan malas.


"Oma, apakah oma dan opa dulu mengenal cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah? " aku bertanya pada oma.


Oma tersenyum sebelum menjawab.


"Oma dan opa mu dulu hanya bertemu 2 x sebelum kami menikah, pertemuan pertama saat opa mu berlibur ke kota kelahiran mu. Kala itu oma sedang berjualan makanan dan opa mu makan disana, lalu opa bertanya apakah oma sudah memiliki suami atau belum, saat opa tau oma belum memiliki suami opa menyuruh oma menunggunya datang kembali ke kota itu. Opa mu benar-benar menemui oma lagi tiga bulan kemudian, itu pertemuan kedua kami dan saat opa mu datang ke sana, dia mengajak keluarganya dan berniat untuk menikahi oma. " ucap oma dengan pandangan lurus ke depan dan dengan tersenyum.


Aku tersenyum sambil mengusap tetesan air mata yang turun melewati pipiku setelah mendengar kisah pertemuan oma dan opa. Luar biasa cara Tuhan mempertemukan dua insan yang memang berjodoh.


"Lalu bagaimana papa dan mama bisa bertemu? " tanyaku lagi.


"Ah sayangku, lebih baik kamu menanyakan langsung kepada mereka. " jawab oma sambil mengusap pucuk kepalaku.


Kami pun membahas hal lain, lama kami mengobrol sampai terdengar suara deringan telpon.


Unknown Number

__ADS_1


Awalnya aku ragu untuk mengangkat karena aku memang tidak pernah mengangkat panggilan telpon dari nomor tidak dikenal, tapi jiwa ke kepoan ini meronta-ronta, akhirnya.


"Halo maaf siapa ini? " tanyaku.


"Citra ini gue Rika, PACARNYA ARKA! " Ucapnya dengan menekankan kata PACAR.


"Oh iya Rik ada apa? " jawabku santai.


"Lo tau kan gue pacaran sama Arka, jadi gue cuma mau bilang kalo gue nggak suka lo terlalu deket lagi sama Arka, apalagi cari-cari perhatian ke dia, gue mau lo jauhi Arka! "


Aku terdiam mendengar ucapan Rika, aku tidak menyangka dia bisa melontarkan kata-kata seperti itu, bukankah dia tau jika aku dan Arka sudah bersahabat sejak kami kecil, apa dia pikir mudah untuk menjauh dari Arka?


"Rika, apa maksud mu, dan bukankah kamu juga tau kalau aku ini sahabatnya Arka jauh sebelum kamu berpacaran dengannya. " ucapku dengan pelan dan masih terdengar nada bersahabat.


"Gue nggak mau tau hubungan pertemanan bodoh lo itu udah berapa lama, yang gue mau lo jauhi Arka! " ucapnya dan langsung mengakhiri panggilan.


Aku mengernyitkan dahi, apakah sebegitu tidak sukanya dia terhadapku?


Oma bertanya siapa yang baru saja menelpon dan membahas soal Arka.


Aku menjawab bukan siapa-siapa pada oma, lalu aku pamit untuk pergi ke kamar.


Dikamar aku langsung menelpon Cindy dan Raya lalu menceritakan keinginan Rika pada saat menelpon aku tadi. Cindy geram mendengarnya.


"Wah kurang ajar banget, dia pikir dia berhak berbuat seenak jidatnya dia. Aku penasaran seperti apa sih itu orangnya. " ucap Cindy.


"Terus apa yang akan kamu lakukan Cit? " tanya Raya.


"Entahlah Ray, tapi aku lihat Arka bahagia bersama Rika. Apa aku harus menuruti keinginan Rika? " aku bertanya pada mereka berdua.


"Lebih tepatnya keinginan bodohnya itu. Jangan lemah deh Cit, mungkin Arka bahagia sama dia tapi Arka kan juga bahagia sama kamu, kalo nggak bahagia mana mungkin bisa bersahabat sampai selama ini. Dia itu orang baru jadi jangan menganggap dia sebagai Ratu yang semua keinginannya akan kamu turuti. " Cindy berucap dengan geram.


Setelah membahas persoalan itu kami memutuskan sambungan telepon.


Sebelum tidur aku kembali memikirkan ucapan Cindy, memang ada benarnya, tapi aku pun tak mau mengambil resiko jika itu untuk kebahagiaan Arka.


Tak lama setelah itu aku terlelap.

__ADS_1


__ADS_2