
Happy Reading.
******
Pagi hari saat matahari mulai menampakkan sinarnya, aku dan Arka pulang ke rumah. Semalaman full mata kami terjaga, meskipun dengan susah payah aku menahan rasa kantuk, tapi aku senang bisa menghabiskan malam bersamanya.
Diperjalanan pulang kami berhenti disalah satu warung yang menjual bubur ayam. Setelah memesan, Arka berkata...
"Cin, aku minta maaf sebelumnya."
Aku tak mengerti untuk apa dia meminta maaf, karena aku merasa dia tak melakukan kesalahan. Ku tatap matanya, aku melihat ada kesedihan di sana, tapi mengapa? Bukankah malam tadi kami berdua tertawa bahagia.
"Maksud lo apa?" aku bertanya.
"Aku ingin melanjutkan S2 di Belanda," ucapnya pelan dengan mata yang masih melihat kearah ku, mungkin dia sedang menunggu reaksiku ketika mendengar ucapannya.
Tentu saja awalnya aku merasa marah dan tak terima, baru saja hubungan kami mulai membaik, tapi dia sudah mau pergi lagi? Dan apa tadi katanya? Ke Belanda, ternyata ucapannya dulu tak mengada-ada(baca di episode 19).
Tapi aku tak ingin rasa kecewaku ini sampai terlihat oleh Arka, aku harus mensupport dia, agar keinginan Om Han untuk menjadikan dia penerus perusahaan bisa tercapai.
"Akhirnya lo beneran pergi juga ya Ar," ucapku dengan tertawa dipaksakan. "Jadi, kapan lo berangkat?"
Untuk sesaat kami terdiam, aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan Arka, apakah mungkin dia berat meninggalkan aku disini? Ah sepertinya tidak mungkin, jangan terlalu percaya diri kamu Citra.
"Lusa aku berangkat, apakah kamu bisa ikut mengantarkan?"
"Siapa saja yang mengantar Ar?" aku balik bertanya.
"Hanya papa dan mama." jawabnya
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengiyakan untuk ikut mengantarnya ke bandara.
Bubur ayam datang, akhirnya kami sarapan dengan tak ada yang bersuara, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Selesai sarapan, Arka mengantarkan aku pulang, lalu dia pamit pulang ke rumahnya. Aku memasuki rumah, kulihat mama dan Ernan sedang berada di meja makan.
"Lho, semalam kamu kemana sayang?" tanya mama setelah melihat aku.
__ADS_1
Aku menghampiri mama, lalu duduk di samping Ernan, "keluar Ma, sama Arka. Tapi nggak sempat pamit karena buru-buru, maaf ya Ma" ucapku.
"Ah iya tidak apa-apa, mama kira kamu sudah berangkat ke restoran, tadi Mama ke kamar berniat membangunkan kamu tapi kamu tidak ada." ucap mama
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Mbok Lilis membukakan pintu, lalu memberitahu jika Rayen sudah datang.
Rayen sarapan bersama Ernan dan mama, sedangkan aku ke kamar, untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke restoran.
Beberapa puluh menit kemudian kami berangkat. "Ray, besok aku tidak ke restoran, jadi kamu tidak perlu datang ke rumah. Besok libur saja." ucapku memberitahu ke Rayen
"Memangnya mau kemana Nyonya?" tanya Rayen.
"Aku akan ikut mengantar Arka ke bandara!" jawabku
"Baiklah, saya akan ikut juga. Saya harus memastikan Nyonya Citra dalam kondisi baik-baik saja" ucapnya lagi.
"Tidak perlu Ray, aku bersama papa dan mamanya Arka kok."
"Baiklah." jawabnya singkat
"Hay Nyonya Citra...... " teriak orang itu.
Aku memutar bola mata, ternyata yang datang adalah Raya dan Cindy. Sudah cukup lama memang kami tidak bertemu.
"Sibuk banget sih wanita karir kita yang satu ini" ucap Raya dengan duduk di sofa dan Cindy mengikuti.
Aku menghampiri mereka berdua. "Sibuk kerja loh ya, bukan sibuk ngebucin" ucapku dengan tertawa menyindir mereka berdua.
"Apa deh Cit, coba deh kamu cari pacar lagi biar tau gimana rasanya." Cindy berucap
"Males banget, nggak mau aku jadi bucin," jawabku.
"Aku sumpahin biar kamu jatuh cinta sama orang sejatuh jatuhnya sampai jadi bucin sebucin bucin nya." ucap Raya, lalu kami bertiga tertawa.
Kami bertiga memutuskan untuk makan siang di cafe, dengan diantarkan Rayen tentunya.
......................
__ADS_1
Pagi hari ini, aku bersiap-siap untuk ikut mengantarkan Arka ke bandara. Awalnya aku ingin mengendarai mobil sendiri, atau ikut bersama dengan mobil Arka, namun tiba-tiba Rayen datang berniat akan mengantarkan aku, mau tidak mau aku diantar oleh Rayen. Sedangkan Arka satu mobil bersama om Han dan tante Mei.
1 jam perjalanan, kami sampai di bandara. Setelah keluar dari mobil, aku kaget melihat Rika yang keluar dari mobil om Han.
"Halo Citra, apa kabar?" tanya Rika setelah melihat dan menghampiri aku.
"B-baik Rik!" jawabku dengan pikiran yang masih bingung.
Aku baru tau jika Rika ikut ke Belanda dengan Arka, mereka akan mengambil S2 bersama di sana. Ini mimpi buruk untukku. Aku tak habis pikir mengapa dia juga bisa ikut, apakah sebenarnya ini sudah disusun sejak jauh-jauh hari oleh Arka.
Didalam bandara..
Arka memelukku, aku pun membalas pelukannya. "Jaga diri baik-baik ya Cin" ucap Arka, dengan tangannya mengusap kepalaku.
Sebenarnya aku tidak siap untuk ini, aku tidak siap jauh darimu. Rasanya aku ingin selamanya berada di dekatmu Ar.
"Iya Ar, lo juga ya." jawabku dengan mengusap air mata yang lolos membasahi pipi.
Rika mendekat dan memeluk aku, "Gue jauh berada didepan dari pada lo!" bisik nya.
Aku menghela nafas, dan berkata "Lakukan apa yang kamu mau," dengan melepas pelukan lalu tersenyum kepada Rika.
Setelah Arka pergi, kami kembali ke rumah masing-masing. Aku memikirkan Arka dan juga Rika, apa yang akan terjadi jika mereka berada di sana hanya berdua, aku bahkan sampai memikirkan hal-hal buruk hingga aku bergidik ngeri.
"Apa yang anda pikirkan Nyonya?" tanya Rayen.
"Tidak apa-apa Ray, aku hanya sedikit sakit kepala!" jawabku.
"Apakah kita harus singgah di rumah sakit dulu Nyonya?" tanya dia lagi.
"Tidak perlu, aku hanya perlu beristirahat di rumah." jawabku
Setelah sampai di rumah, aku langsung memasuki kamar dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
Ternyata kamu mengajakku menikmati malam kemarin hanya untuk memberikan ucapan perpisahan, karena kamu akan pergi meninggalkanku Ar. Aku mengira momen itu akan sering terjadi, namun ternyata kamu meninggalkan aku pergi. Entah kapan kita akan bisa bertemu lagi Ar. Apa yang harus aku lakukan sekarang setelah kamu pergi? Haruskah aku kembali mencoba menghilangkan rasa ini, atau menunggumu kembali dengan ketidak pastian yang justru akan membuatku sakit, jika ternyata apa yang terjadi tidak seperti yang aku inginkan nantinya.
Mungkin harusnya memang logika yang bertindak, namun apa daya jika nyatanya hati tak mampu beranjak.
__ADS_1