
Karena masih merasa bersalah, aku mengirimi Cina pesan untuk bertemu sepulang sekolah nanti.
Waktu berlalu dan jam pulang pun tiba. Dengan cepat aku berlari menuju parkiran karena tak ingin Cina sampai terlebih dulu. Aku mencari-cari dimana mobil Cina terparkir. Setelah mendapat apa yang kucari, aku lalu berdiri di samping mobil itu, menunggu Si pemilik mobil datang.
Dari kejauhan aku melihat Cina ku berjalan mendekat, setelah sampai dia mengajakku untuk masuk kedalam mobilnya.
Setelah berada didalam, aku menghirup nafas dalam-dalam dan mulai berbicara. Aku kembali meminta maaf soal kejadian semalam pada Cina. Aku bernafas lega karena ternyata Cina tak mempermasalahkan kejadian itu. Justru yang dia permasalahan adalah karena aku tak menjemputnya pagi tadi.
Dia merasa kesal karena hal itu, dia mengajak aku makan mie ayam kesukaan kami sebagai ganti rugi karena telah menunggu aku lama di rumah pagi tadi.
Dengan hati lega serta perasaan tenang aku tersenyum dan langsung menyetujui permintaannya.
Akhirnya kami menuju warung mie ayam, beruntung aku sempat menitipkan motor pada temanku sewaktu keluar dari kelas tadi, jadi kami bisa berduaan sekarang.
Setelah sampai, ternyata warung mang Amin terlihat banyak pelanggan, aku melirik kearah Cina, dia terlihat memasang wajah kecewa, sebab aku tahu Cina tidak terlalu suka berdesakan dengan banyak orang asing di suatu tempat, terlebih jika tempatnya sempit.
Aku berinisiatif untuk memesan mie sendiri, sedangkan Cina menunggu didalam mobil. Saat aku keluar dari mobil, matahari langsung menyengat tubuh, segera aku berlari kedalam warung, namun tak sampai didalam, antrean sudah panjang sehingga aku harus berpanas-panasan mengantre untuk mendapat giliran memesan. Ini tak ada apa-apanya, yang penting Cina senang dan tersenyum. Batinku.
Karena antrean panjang, aku lama berada didepan warung, aku takut Cina bosan menunggu didalam mobil, akhirnya setelah menunggu beberapa belas menit lamanya, sekarang giliran ku untuk memesan, aku mendesak mang Amin untuk cepat membuatkan mie ayam, karena aku tak mau membuat Cina bosan.
__ADS_1
Aku kembali kedalam mobil dengan membawa mie ayam, namun bodohnya aku lupa memesan es jeruk kesukaan Cina, tak sempat terpikir karena aku takut Cina bosan didalam menunggu terlalu lama.
Dan benar saja, saat kami mulai makan, dia menanyakan es jeruknya. Aku mengatakan bahwa es jeruknya sedang tidak ada. Cina cemberut karena tak mendapat apa yang dia inginkan. Tapi justru aku merasa gemas dan sangat ingin kembali mencium bibirnya yang maju saat cemberut. Tapi karena aku sangat dalam mode sadar, aku mengurungkan niatku itu.
***
Hari ini libur sekolah, jika kebanyakan anak akan merasa senang karena sekolah libur, beda hal nya dengan aku, aku sangat tidak menyukai hari minggu, karena aku tak bisa membonceng Cina ku, aku tak bisa merasakan pelukannya dari belakang ketika berada di atas motor.
Siang hari aku memutuskan untuk ke rumah Cina, karena sehari saja tak melihat dia, suasana hatiku menjadi berantakan.
Tapi sebelum berangkat, aku meminta tolong pada mama untuk memasak makanan yang banyak, agar aku bisa membawanya ke rumah Cina, mama pun menyetujui.
Ketika sampai, aku melihat ada beberapa wajah yang tak ku kenali berada di sana. Setelah memberikan rantang pada tante Mei, om Han mengenalkan aku pada orang itu, ternyata mereka adalah adik om Han beserta istri dan anaknya yang akan pindah di komplek ini.
Niatku datang ke rumah Cina hanya untuk bertemu dan berduaan dengan dia, namun ternyata itu gagal karena kedatangan adik dan keluarga dari om Han. Akhirnya aku beralasan untuk pergi ke toko buku dan mengajak Cina, namun seolah mengerti itu hanya akal-akalan ku untuk berduaan dengan Cina, om Han segera menyuruh anak dari adiknya untuk ikut bersama kami.
Kami pun berangkat bertiga, baru saja bertemu dengan sepupu Cina namun aku sudah merasa risih, diperjalanan dia selalu memperhatikan aku, aku bisa melihatnya dari kaca.
Selanjutnya mereka berdua berbicara sedangkan aku terus mengemudikan mobil. Sesampainya di toko buku, aku sengaja berkeliling untuk menghindar dari Raya, namun dia tetap saja mengikuti kemana aku berjalan. Dan yang lebih membuat aku risih adalah saat dia mengajak untuk pergi jalan-jalan.
__ADS_1
Enak saja, aku lebih baik tidur dan bermimpi selalu bersama dengan Cina ku dari pada harus pergi bersamanya. Gumam ku dengan pelan dan tak ada yang mendengar.
Dengan geram dan risih akhirnya aku mengambil sembarang buku lalu menuju kasir, karena Si tuan putri sudah mengomel karena menunggu terlalu lama.
Aku memutuskan untuk pulang setelah mengantar mereka berdua, karena keinginanku untuk berduaan dengan Cina sudah gagal total.
***
Visual Cina dan Arab
Citra Naisyila Ilyas
Arka Arbani Yugo
__ADS_1