
"Cin, lo yakin nggak mau ikut gue besok, lagian kan lo nggak ada kegiatan apa-apa juga di rumah. "
"Enggak ah, gue di rumah aja. " jawabku.
"Oke lah kalo gitu, besok pagi gue berangkat. Gue di sana cuma seminggu, lo boleh kok rindu sama gue nanti. " Arka berucap sambil tertawa.
"Males gue, kaya nggak ada kerjaan lain aja! " ucapku dengan nada sewot.
"Gue mau mandi, bye. " lanjut ku dengan langsung mematikan sambungan telpon.
Tut tut tut (panggilan telpon terputus)
Selama seminggu itu Arka masih sering menghubungiku, tapi hanya jika menjelang tengah malam, entah apa yang dilakukannya siang hari. Aku mencari kesibukan dengan ikut ke restoran papa hampir setiap hari, jangan tanya aku melakukan hal apa, sudah pasti aku hanya mencicipi menu baru di sana.
Oh ya, adikku Ernan tahun ini juga lulus sekolah menengah pertama, rencananya dia ingin melanjutkan sekolah di LA dan tinggal bersama opa oma, dan sudah pasti dalam waktu dekat ini papa akan sibuk mengurusi apa saja keperluan untuk Ernan.
Sebenarnya papa menawari apakah aku juga menginginkan meneruskan pendidikan di LA tapi aku menolak, bukan karena ancaman Arka tentunya, tapi entahlah rasanya aku tidak bisa jika harus meninggalkan Arka. Oh Tuhan mengapa aku menjadi seperti ini.
Lama kelamaan aku mulai belajar cara mengurus restoran, dari mulai memilih dan memilah bahan untuk menu, mengecek pemasukan dan pengeluaran, sampai cara memilih kriteria karyawan baru tentunya didampingi mama.
Saat aku sedang fokus dengan ponselku mengecek pengeluaran minggu ini di restoran tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara yang tak asing bagiku, suara yang dua minggu lebih ini tidak aku dengar. Kalian sudah pasti bisa menebak, ya! benar dia Arka, Makhluk pujaan satu penghuni sekolah itu datang menemui ku, yang katanya dia hanya pergi ke rumah kakeknya selama seminggu ternyata waktunya molor sampai lebih dari dua minggu.
"Cieee yang sekarang udah jadi pengusaha sibuk banget ni kelihatannya. " ejeknya.
"Maaf bapak, ada yang bisa saya bantu. Hari ini kami menyiapkan menu baru, silahkan dilihat daftar menunya pak. " ucapku dan keningku langsung di toel oleh Arka.
__ADS_1
Aku terkejut karena Arka datang tidak sendiri, dibelakangnya ada Rika, aku tersenyum kearah Rika dan Rika balas tersenyum.
........
Hari ini hari pengumuman kelulusan dan pengumuman siswa dengan lulusan nilai terbaik.
Aku berangkat bersama dengan Raya, papa mama dan orang tua Raya akan menyusul nanti, sedangkan Arka berangkat nanti bersama kedua orangtuanya.
Acara digelar di aula sekolah, siswa dan siswi serta para wali murid sudah berada di dalam aula. Semua murid dinyatakan lulus, tentunya aku sangat senang. Saat kepala sekolah mengumumkan siswa dengan nilai terbaik nama Arka Arbani Yugo lah yang disebut, aku sangat bangga padanya. Arka naik keatas panggung dan memberikan ucapan terimakasih. Lalu kami sibuk mengabadikan momen lewat kamera.
Sore hari acara selesai, karena merasa kelelahan akhirnya kami semua pulang ke rumah masing-masing.
Aku memang belum memutuskan untuk masuk kampus mana dan mengambil jurusan apa, sedangkan Arka dia sudah memikirkan itu dari jauh-jauh hari, dia masuk ke kampus yang masih berada di kota tempat kami tinggal, dia akan mengambil jurusan bisnis karena kelak dialah yang akan membantu mengelola perusahaan milik papanya, awalnya dia bersikeras menolak karena akan melanjutkan hobi balapannya itu, tapi entah kenapa dia mengurungkan niatnya.
Hari ini Ernan akan berangkat ke LA, tentu saja aku ikut mengantar, karena pesawat akan terbang sore hari, jadi pagi ini aku menyiapkan apa saja yang akan kubawa. Kedua orangtuaku ikut mengantar, restoran dipercayakan pada kak Sari, asisten papa dan mama.
Tit tit tit......
Aku langsung keluar mendengar suara klakson mobil, Arka akan mengantarkan aku ke bandara nanti sedangkan papa mama dan Ernan akan diantar supir.
Tapi yang membuat aku kaget adalah di dalam mobil itu bukan hanya ada Arka melainkan Rika juga. Ah apa-apaan Si Arab itu, tau gini kan aku nggak setuju saat dia bilang mau mengantar aku. Gumam ku didalam hati.
Kami berangkat menuju bandara, aku duduk di kursi belakang sedangkan Arka dan Rika berada di kursi depan.
"Oh ya jadi kalian mau kuliah di kampus S sama-sama? " Aku bertanya memecah keheningan.
__ADS_1
"Iya Cit, kami juga mengambil jurusan yang sama. " jawab Rika cepat.
"Wah bakalan nempel terus dong. " ucapku.
"Haha iya dong! " Arka menjawab dengan girang.
Aku memutar bola mata mendengar jawabannya, sebenarnya aku tidak suka jika mereka selalu bersama, entahlah aku menjadi tidak tahu diri seperti ini.
jangan lo kira mentang-mentang Arka sahabat lo dari kecil terus dia bisa jadi milik lo Citra. aku memaki diri sendiri di dalam hati.
Saat kami sampai tak lama papa mama dan Ernan pun sampai. Kami semua memasuki bandara.
"Hati-hati di sana ya Cin, " ucap Arka sambil mengelus kepalaku. Aku memegang tangannya agar melepaskan tangannya dari kepalaku, apa-apaan dia berani bersikap seperti itu saat ada pacarnya walaupun sebenarnya aku senang dengan sikapnya.
"Apaan sih lo kaya gue mau pergi lama aja! " ucapku agar tidak membuat Rika cemburu karena aku melihat raut wajah Rika yang sudah berubah.
Akhirnya Pesawat pun mengudara.
Setelah sekian lama kami diperjalanan akhirnya pesawat mendarat di bandara LA, ternyata opa dan oma sudah menunggu kedatangan kami.
Walaupun usia mereka tidak muda lagi tapi mereka masih sehat, aku senang melihat mereka tetap akur diusia senja, aku pun kelak ingin seperti mereka. Ucapku tersenyum ketika melihat mereka.
Setelah menempuh jalur darat beberapa jam kamipun sampai di rumah opa dan oma. Setelah kami masuk, aku melihat semuanya masih sama seperti saat terakhir aku kesini, kursinya, lemarinya, gucci nya, foto-fotonya. Eittss tunggu, ada satu yang menarik perhatianku, mengapa ada fotoku bersama Arka disini?
Saat aku menanyakan kepada oma soal foto itu ternyata oma mendapatkan foto itu dari Arka, Arka sengaja mengirim foto itu agar oma dan opa selalu ingat dengan dia katanya. Ishh menggelikan sekali memang. Oma dan opa memang mengenal Arka dan sudah menganggap Arka sebagai cucunya, itu karena Arka adalah sahabatku, oma bercerita dulu saat kami berdua masih kecil Arka sering menginap di rumahku, dia tidak mau pulang karena katanya di rumah sepi, tapi jujur saja aku sudah tidak mengingat kejadian itu.
__ADS_1