Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 41


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Saat aku berada di ruang kerja, ponselku berdering.


"Ada apa Er?" tanyaku ketika telpon sudah terhubung.


"Cepatlah lihat pesanku!" ucap Ernan dan langsung mematikan sambungan telpon.


Aku geleng-geleng kepala dan dengan segera melihat pesan darinya, takut ada hal penting.


Aku terkejut saat melihat pesan dari Ernan, dia mengirimkan sebuah foto pernikahan seseorang, kedua pengantin sedang memamerkan cincin dijari manis mereka masing-masing.


Sebegitu terkejutnya aku hingga ponsel yang ku pegang lepas dari genggaman tanganku, dan ponsel pun terjatuh kelantai. Sedangkan aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Mataku menatap kearah kiri meja, melihat kesebuah bingkai foto, fotoku dengan sahabat yang kucintai, foto sewaktu kami masih SMA. Lama-kelamaan pandanganku mulai kabur, aku merasa otakku tak berfungsi sehingga aku tak bisa berpikir apapun, aku merasa ruangan ini seperti tak beroksigen, pengap dan membuat dada sesak.


Aku teringat dengan undangan yang ku taruh di atas meja rias beberapa hari yang lalu, karena sampai saat ini aku belum melihat atau membaca undangan itu. Apakah itu undangan dari Arka?


Sampai tiba-tiba, suara ketukan pintu menyadarkan ku. Kak Sari masuk dan dengan cepat berjalan ke arahku.


"Citra, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya kak Sari dengan tangan menepuk-nepuk pipiku.

__ADS_1


"Tidak apa kak, aku hanya tidak enak badan." jawabku dengan memegang tangan kak Sari.


"Lebih baik kita ke dokter saja. Ayo aku antar." ucap kak Sari dengan cemas.


"Tidak kak, aku akan baik-baik saja. Bolehkah aku minta tolong pada kakak untuk mengantarkan aku pulang, aku merasa badanku lemas." ucapku dengan lirih.


Akhirnya kak Sari mengantarkan aku, tapi sebelum pergi, kak Sari memasukkan barang-barang ku termasuk ponsel yang berada disebelah kursi kedalam tasku.


Diperjalanan, kak Sari kembali menawarkan untuk mengantar aku ke dokter guna memeriksa keadaanku, namun aku bersikeras menolak itu, aku hanya ingin segera sampai di rumah dan melihat undangan yang pernah laki-laki itu berikan kepadaku.


Setibanya di rumah, kak Sari membantu aku untuk berjalan masuk kedalam rumah, karena memang badanku lemas dan tak bertenaga.


Mama panik ketika melihat wajahku yang pucat pasi, dan bertanya kepada kak Sari tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Sesampainya di dalam kamar, aku berbaring di atas tempat tidur dan kak Sari mulai menceritakan apa yang dia tahu kepada mama. Tentu saja dia hanya tahu jika aku sakit, tapi dia tak tahu apa yang membuat aku sakit.


Saat mama dan kak Sari keluar dari kamar, aku berjalan menuju meja rias dan mengambil kertas undangan itu, lalu aku kembali ketempat tidur dengan posisi duduk.

__ADS_1


Dengan pelan dan tangan bergetar aku mulai membuka undangan itu, ternyata memang undangan itu dari Arka, Arka dan Rika menikah kemarin di kota B, di rumah Rika.


Air mata menetes membasahi undangan itu, bagaimana bisa ini terjadi, setelah Arka menyuruhku untuk menunggunya kembali, ternyata ini yang aku dapat.


Dadaku sesak sekaligus sakit, ini kah akhir dari semuanya, akhir yang membuat aku hancur karena harapanku untuk bisa bersama dengan Arka telah pupus. Sekarang Arka telah menjadi milik orang lain dengan ikatan yang suci.


Apakah memang sejak awal hanya aku saja yang menganggap lebih semua perhatian dan perlakuan Arka kepadaku. Apakah Arka memang tidak ditakdirkan untukku, apakah Arka memang bukan jodohku.


Aku menangis sejadi-jadinya didalam kamar, tak perduli jika mama atau siapapun mendengar, hatiku sangat hancur saat ini, kenyataan yang sungguh tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.


Tak tahu berapa lama aku menangis, ketika aku tersadar, aku sudah terbaring berada di atas tempat tidur, disini juga sudah ada mama dan Ernan yang menatap ke arahku.


Mama mengatakan jika aku tak sadarkan diri dibawah tempat tidur dengan posisi tengkurap.


"Apa yang terjadi sayang, sebenarnya kamu kenapa?" tanya mama dengan menangis dan memegang tanganku.


Aku tak menjawab, akhirnya Ernan membuka suara dan mengatakan jika mungkin aku seperti ini karena Arka yang sudah menikah.

__ADS_1


Mama terkejut mendengar ucapan Ernan, dan mama langsung memeluk aku dengan mengatakan bahwa aku harus sabar.


Aku kembali menangis di pelukan mama, sedangkan Ernan menampakkan wajah tak suka, lalu dia berkata akan menemui Arka untuk meminta penjelasan. Namun aku segera mencegah niatnya, aku tak mau merusak kebahagiannya, biarkan semuanya seperti ini, mungkin ini sudah menjadi takdir untuk hidupku.


__ADS_2