Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 46


__ADS_3

Happy reading ❤


***


Apa yang akan dia lakukan setelah ini, apalagi kemauannya. Gumamku didalam hati ketika melihat dia semakin mendekat kearahku.


"Maafkan aku Citra, aku telah menyulitkanmu selama ini. " ucapnya lalu mencium keningku dan berlalu pergi.


Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar ucapannya, masih tak paham dengan semuanya.


"Arka! " teriakku ketika dia berjalan menjauh meninggalkan. Namun dia tak menghiraukan ku, dia tetap terus berjalan dan mengacak-acak rambutnya.


***


Empat bulan berlalu, siang ini aku ada janji berkunjung kerumah tante Mei setelah sekian lama tak bertemu.


Sesaimpainya aku dirumah tante Mei, aku disambut hangat oleh om Han dan tante Mei, om Han memang lebih sering dirumah sekarang semenjak Arka mengambil alih perusahaan. Mereka mempersilakan aku masuk, saat sedang asyik mengobrol dengan tante Mei, ada seorang wanita dengan perut besar menuruni tangga.


Tante Mei berdiri dan membimbing wanita itu untuk duduk disampingnya. Tante Mei tampak sangat menyayangi dan peduli dengan wanita itu. Aku bisa melihat dari cara tante Mei memperlakukan dia.


Tak lama setelah itu, aku melihat Arka menuruni tangga dengan mengenakan pakaian rapi. Aku sedikit terkejut ketika melihatnya, aku pikir jika di jam-jam sekarang ini dia sedang berada dikantor, namun mengapa dia baru akan berangkat.


Jangan tanya perihal perasaan dan hatiku melihat semua ini, mereka menuruni tangga dengan waktu yang hampir bersamaan.


"Citra, lama kita tidak bertemu. " sapa wanita itu.


Sedangkan aku hanya membalas dengan senyum yang dipaksakan.


Beda halnya dengan Arka, dia terlihat sangat bersemangat dengan senyum yang mengembang diwajahnya, entah karena apa.

__ADS_1


Setelah sampai dibawah, dia berjalan menghampiri kami dan langsung memeluk aku. Aku tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan, bisa bisanya dia berbuat seperti ini didepan istrinya.


Dengan cepat aku menginjak kaki Arka agar melepas pelukannya. Aku yakin dia merasakan sakit, namun masih menampakkan wajah cool nya itu.


Dengan segera dia berpamitan kepada om dan tante, namun anehnya dia sama sekali tak menghiraukan istrinya, bahkan menoleh pun tidak.


Setelah Arka keluar dari rumah, om Han berpamitan untuk pergi kekamar, hingga menyisakan kami bertiga yang berada diruang tamu.


"Berapa usia kandunganmu Rik? " tanyaku ketika melihat dia mengelus-elus perutnya.


"Jalan tujuh bulan, Cit. " jawabnya dengan tersenyum melihat perut besarnya.


Tujuh bulan, seingatku undangan itu belum terlalu lama diberikan, ataukah mungkin Rika hamil sebelum mereka menikah. Gumam ku didalam hati.


Bagaimana bisa Arka berbuat seperti itu, itu bukan seperti Arka yang aku kenal. Aku berbicara didalam hati.


"Maaf sayang, kami tidak mengundangmu diacara pernikahan Arka waktu itu, itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan. " ucap tante Mei dengan menitikkan air mata.


"Tidak apa tante. " jawabku dengan memeluk tante Mei.


Saat hendak masuk kedalam mobil, terlihat mobil sport berwarna hitam memasuki area rumah dan parkir tepat disebelah mobilku.


Dari dalam mobil, keluar lelaki muda dengan pakaian berwarna serba hitam, lalu dia membukakan pintu untuk Arka.


Ya, dia lelaki yang tempo hari mengantarkan undangan kerumahku. Tapi siapa dia, apakah dia sekretaris Arka atau supirnya.


"Citra, sudah mau pulang? " tanya Arka.


"Iya Ar, sudah sore. " jawabku dengan terus melihat sosok lelaki itu.

__ADS_1


"Hei, ada apa. Apakah kau mengenal dia? " tanya Arka padaku dengan menunjuk lelaki itu.


Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum kearah ku.


"Ah, tidak. Hanya saja mungkin pernah melihat dijalan. " jawabku.


Arka menawarkan untuk mengantar aku pulang dengan sedikit memaksa, namun aku menolak dengan tegas.


Akhirnya dia menyerah dan membiarkan aku pulang sendiri.


Malam hari ketika didalam kamar, aku duduk di kursi tepat menghadap jendela dengan tangan yang memegang undangan Arka dan Rika.


Arka bertanya apakah aku mengenal lelaki itu, bukankah dulu dia yang menyuruh lelaki itu untuk mengantarkan undangan kerumah. Aku berbicara sendiri.


Pikiranku buyar ketika mendengar suara pesan masuk diponselku, pesan itu dari Arka.


💬Apa kau sudah tidur?


Mau apalagi dia mengirim pesan padaku.


Belum sempat aku membalas pesan itu, masuk lagi pesan kedua dari Arka.


💬Besok siang kita makan siang bersama. Aku tidak menerima penolakan.


Aku membuang nafas dengan kasar sambil melempar ponsel keatas tempat tidur.


Apa maksud semua ini Ar, aku takut semakin mencintaimu, karena memilikimu pun sudah tak mungkin lagi. Namun aku pun tak bisa jika pergi menjauh darimu.


Tanpa membalas pesan itu, aku berlalu ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan bersiap untuk tidur. Hari yang cukup melelahkan, gumam ku.

__ADS_1


__ADS_2