
Aku kembali ke rumah setelah mengantarkan Cina, namun ketika hendak memasuki rumah perasaanku tak tenang mengingat Cina yang sedang kesal padaku, tanpa berpikir panjang aku kembali ke rumah Cina dengan mengendarai motor.
Ku ketuk pintu rumah Cina, tak lama pintu terbuka.
Eh den Arka ucap mbo Lilis dengan senyum diwajahnya dan mempersilakan aku masuk.
Citra sudah tidur, mbo? tanyaku dengan berjalan memasuki rumah.
Saya kurang tau den, sebab sepulang dari luar tadi tidak ada keluar dari kamar. Jawab mbo Lilis dan permisi meninggalkan aku.
Ku lihat rumah itu sudah sepi, mungkin om dan tante sudah tidur, akhirnya aku berjalan menuju kamar Cina.
Dengan rasa penasaran aku membuka pintu, syukurlah tidak terkunci.
__ADS_1
Cina langsung mengajukan banyak pertanyaan padaku perihal siapa itu Rika dan apa hubunganku dengan dia. Awalnya aku bingung harus menjawab apa, karena aku dan Rika memang hanya teman, tidak lebih.
Akhirnya aku menjelaskan semuanya dan agak kulebih-lebihkan, agar aku tau bagaimana respon Cina.
Aku berkata aku dan Rika pernah berpacaran dan tadi Rika mengajakku kembali menjalin hubungan, yang sebenarnya itu tidak benar, memang Rika sempat beberapa kali mengutarakan perasaannya padaku, namun aku selalu mengabaikannya.
Jelas saja Cina ku terlihat semakin kesal, terlihat dari wajahnya, namun justru aku senang melihatnya yang seperti itu.
Setelah kejadian itu aku menjadi sibuk karena hobiku, sehingga aku jarang dan bahkan tak sempat mengabari Cina, ditambah lagi Rika yang selalu membuntuti kemanapun aku pergi, sebenarnya aku risih tapi mau bagaimanapun juga aku tetap harus memperlakukannya dengan baik.
Seminggu setelah aku menyelesaikan latihan balap, akhirnya aku ada waktu untuk bertemu dengan Cina, aku sangat merindukannya, entah bagaimana dia selama kami tak bertemu, rindu kah, atau biasa saja kah.
******
__ADS_1
Singkat cerita kami telah lulus sekolah, yang dengan jelas intensitasku bertemu dengan Cina juga akan semakin terbatas karena kesibukan kami yang akan melanjutkan pendidikan di beda Universitas.
Dan benar saja, kami pun disibukkan dengan urusan masing-masing, namun masih bisa dibilang sering bertemu, aku mendengar kabar dia sedang dekat dengan temannya di kampus, jujur saja aku tak senang mendengarnya, tapi aku juga tak bisa terlalu mencampuri urusan pribadi Cina, toh aku pun sekarang memiliki pasangan, yang sebenarnya hanya setengah hati aku menjalani hubungan dengan Rika.
Malam itu aku pergi ke rumah Cina, karena jujur saja aku sangat merindukannya. Namun saat tiba di rumahnya, mbo Lilis bilang kalau Cina sedang pergi keluar bersama dengan Riza. Aku tak tau siapa itu Riza, namun bisa dipastikan itu adalah lelaki yang tengah dekat dengan Cina. Aku menunggu diluar rumah dengan gusar, lama ku berdiam diri, akhirnya Cina datang.
Emosiku bertambah ketika melihat lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Cina, dengan mata mereka saling bertatapan seolah tak ada aku disana.
Setelah lelaki itu pergi, Cina melihatku dengan kaget.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mencium bibir Cina yang terasa manis. Jelas saja dia ingin menolak, namun tenaganya tak sebanding denganku.
Aku benar benar tak suka jika Cina dekat dengan lelaki lain, Cina hanya milikku. Kata kata itu yang saat ini berputar-putar dikepala.
__ADS_1
Setelah cukup lama akhirnya aku melepaskan ciuman itu.
Kami pun berdebat, aku tau dia bingung dengan sikapku, tapi harusnya dia tau jika aku sedang cemburu.