Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 22


__ADS_3

Happy Reading ❤


*****


Setelah aku selesai makan, Arka memutuskan sambungan Video Call.


Arka, bahkan disaat-saat seperti ini kamu tetap berada disampingku. Mana mungkin aku bisa menjauh darimu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, namun aku belum juga bisa tertidur, aku bolak balik melihat kearah Rumah Sakit dari balik jendela. Bagaimana jika nanti Operasi Papa tidak berhasil, bagaimana jika aku kehilangan Papa. Bayangan Papa akan meninggalkanku membuatku semakin gelisah, aku sangat takut.


Ketukan pintu membangunkan ku, ah tanpa sadar aku tertidur di sofa semalam. Aku kembali terbayang-bayang dengan keadaan Papa, aku kembali merasa takut akan di tinggalkan Papa. Dari luar aku mendengar Arka berteriak memanggil namaku, akhirnya dengan lemas aku berjalan pelan-pelan untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, aku melihat Arka panik entah karena apa, lalu dia memelukku dan berkata "Lo kenapa lama buka pintunya, gue kira lo kenapa-kenapa. Tolong jangan buat gue panik!"


Tidak bisa dibohongi, perasaanku menjadi tenang mendengar ucapannya. Aku merasa di perhatikan dan disayangi olehnya.


Arka menyuruhku mandi dan mengajakku kembali ke Rumah Sakit. Kami keluar dari Hotel dan membeli sarapan di dekat Hotel. Saat diperjalanan menuju ruangan Papa, Hp ku berdering.


"Halo Citra kamu di mana sekarang? Aku baru tau tentang kecelakaan yang dialami Om Han dari Papa, sekarang kami menuju ke Rumah Sakit tempat Om Han di rawat." ucap penelpon.


"Aku sudah di Rumah Sakit Ray, maaf aku tidak sempat mengabari Om Iyan dan Kamu."


"Iya tidak apa apa, kamu tetap tenang di sana, aku sebentar lagi sampai!" ucap Raya.


Lalu sambungan telpon terputus.

__ADS_1


Kami memasuki ruangan Papa, aku melihat Mama tetap setia menunggu dan menemani di samping Papa.


"Mama!" ucapku.


Mama menoleh kearah ku, hatiku sakit melihat Mama seperti ini, mata yang bengkak akibat menangis sejak kemarin. Sekilas aku melihat meja yang di atasnya masih terdapat bungkusan makanan yang di beli Arka tadi malam, rupanya Mama tidak makan semalam. Lalu aku mendekati dan mengajak Mama untuk makan, Mama menolak dengan alasan tidak berselera. Aku terus membujuk Mama agar mau makan barang sesuap dua suap, asal ada yang masuk ke perut.


Akhirnya Mama menyerah, aku menyuapi Mama, tapi baru tiga kali suapan Mama sudah tidak mau membuka mulut. Aku tau apa yang sedang di rasakan Mama, aku bisa paham kenapa Mama bisa sampai seperti ini. Setahuku dari cerita Mama dulu, sejak Mereka menikah Mereka tidak pernah sehari pun yang namanya tidak mengobrol sekedar membahas hal-hal apa yang terjadi hari ini, dan sekarang Mama hanya bisa bercerita sendiri tanpa ada respon dari Papa.


Dokter masuk memeriksa keadaan Papa. Setelah selesai, Dokter berucap hari ini aku harus melengkapi data-data dan menyelesaikan biaya administrasi untuk Operasi Papa agar Operasi bisa dilakukan secepatnya.


Aku dan Arka mengikuti Seorang Perawat untuk menyelesaikan administrasi. Diperjalanan kembali keruangan Papa, aku melihat Raya dan keluarga sedang melambaikan tangan kearah kami.


Ternyata tidak hanya Raya dan keluarganya tapi juga ada Kak Riza. Bahkan aku lupa jika mempunyai pacar.


Aku memeluk Raya dan menangis di dalam pelukannya. Raya mengusap pundak ku dan berkata "yang kuat yang sabar Cit, Om Han pasti baik-baik saja, pasti akan segera pulang." ucapnya.


Kami menuju ruangan Papa, mereka bergantian masuk kedalam untuk melihat Papa.


"Sebenarnya bagaimana keadaan Mas Han?" tanya Om Iyan setelah keluar dari ruangan.


Aku menceritakan semuanya pada Om Iyan. "Apakah Polisi sudah menyelidiki mengapa kecelakaan ini bisa terjadi?" tanya Om Iyan.


"Polisi sedang menyelidiki Om, Polisi belum bisa memastikan ini murni kecelakaan atau sebelumnya sudah ada yang merencanakan!" Ucap Arka.


.........

__ADS_1


Tiga hari kemudian.


Hari ini Operasi Papa berlangsung, semua keluarga berkumpul menunggu di depan ruang Operasi. Opa Oma dan Ernan juga sudah berada di sini sejak kemarin.


Operasi memakan waktu beberapa jam, dan selama itu pula aku dan Mama menangis membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, sebab Dokter berucap kemungkinan Papa untuk sembuh hanya 60%.


Dokter keluar, lalu mengajak Mama dan aku keruangan nya. Tapi karena Mama terlihat sangat lemah, maka Ernan yang menggantikan.


Aku kembali keruangan Papa yang sebelumnya, karena Papa sudah di pindahkan dari ruang Operasi.


Tidak sampai hati aku memberitahu keadaan yang sebenarnya kepada Mama dan keluarga, pasti Mama akan sangat terpukul.


Flashback On


Aku dan Ernan mengikuti Dokter menuju ruangannya. Saat sudah berada di dalam, Dokter mulai menjelaskan keadaan Papa setelah Operasi.


Operasi tidak gagal dan juga tidak berhasil, tidak ada perubahan pada keadaan Papa, Papa tetap koma. Dokter berucap jika sampai minggu depan tidak ada perubahan dari Papa, maka dengan terpaksa Dokter harus melepas semua alat yang terpasang pada tubuh Papa.


Aku lemas mendengar kenyataan yang terjadi, Ernan memeluk aku untuk menguatkan, padahal aku tau Dia juga syok dengan apa yang didengarnya.


Flashback Off


*****


Terimakasih untuk yang sudah mampir dan meninggalkan like, komen, rate dan vote nya 🙏 aku sayang kalian

__ADS_1


Maafkan jika di dalam cerita atau di tulisan ada kesalahan, sebab Author tidak pandai menulis dan membuat cerita.


__ADS_2