
"Kak, mau pulang bareng nggak?" tanyaku ke Kak Sari.
"Enggak deh Cit, aku nanti dulu. Kamu duluan aja." Jawabnya.
Saat aku sampai di rumah, yang pertama ku tuju adalah kamar Mama, aku melihat Mbok Lilis sedang menyuapi Mama. "Mbok biar aku saja yang menyuapi" ucapku sambil mengambil piring dari tangan Mbok Lilis.
"Ma, apakah Mama setuju jika kita pindah rumah dari sini? Kita akan membuka lembaran baru di rumah kita nanti." Tanyaku spontan kepada Mama sambil menyuapkan makanan.
Mama menatapku dengan tatapan yang tak dapat ku artikan, jujur saja aku takut salah bicara namun sudah terlanjur, aku takut Mama menjadi marah.
Diluar dugaan, Mama langsung menyetujui apa yang ku ucapkan tadi. Mama berucap akan menuruti keinginanku jika menurutku itu yang terbaik. Awalnya memang aku sama sekali tidak berpikiran untuk pindah rumah, namun saat mengobrol dengan Kak Sari tadi, aku jadi berpikir.
Flashback On
"Aku sangat takut Mama akan melakukan hal itu lagi Kak." Ucapku
"Ini saran dariku Cit, bagaimana kalau kamu dan Bu Monic pindah rumah, rumah yang ada itu dijual saja. Beli lah rumah yang sederhana saja, tidak perlu terlalu besar, toh yang tinggal di sana hanya kalian bertiga dengan Mbok Lilis, paling juga nanti ditambah Ernan. Siapa tahu nanti Bu Monic tidak sering teringat dengan Almarhum Pak Handi sehingga tidak melakukan hal-hal nekat lagi." Kata Kak Sari
Aku memikirkan saran dari Kak Sari, ada benarnya memang. Aku pun mengira Mama masih sering terbayang-bayang Papa, itu yang membuat Mama menjadi seperti sekarang ini.
"Baiklah Kak, nanti kucoba berbicara dulu sama Mama." Ucapku kepada Kak Sari.
Flashback Off
Pagi ini aku akan ke rumah Raya untuk meminta tolong agar menjualkan rumah kepada teman atau kenalan Om Iyan. Tentu saja aku sudah membicarakan hal ini pada Ernan tadi malam via telpon, karena biar bagaimanapun Ernan harus tau hal ini. Syukurlah Ernan menurut saja, "apapun itu aku setuju asal menurut Kakak itu yang terbaik." Ucapnya
"Pagi Om" ucapku sambil mencium tangan Om Iyan.
Setelah kami duduk, aku mulai memberitahu niatku. "Jadi begini Om, bisa tidak Citra minta tolong kepada Om untuk menjualkan rumah Papa, sebab Citra dan Mama akan pindah."
"Loh Cit, kamu mau pindah kemana?" tanya Raya yang baru turun.
__ADS_1
"Belum dipastikan pindahnya kemana, hanya saja aku dan Mama ingin membuka lembaran baru agar Mama tidak terus-terusan murung karena selalu memikirkan Almarhum Papa" jawabku.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu Citra, nanti akan coba Om tawarkan kepada teman-teman Om." Ucap Om Iyan.
Setelah selesai aku berpamitan untuk pergi ke Restoran.
Semoga saja pilihanku ini pilihan yang baik. Ucapku diperjalanan
Saat aku baru sampai, aku mendengar suara ribut-ribut di dalam Restoran. Aku masuk dan melihat adegan Pria memukul wajah Pria yang berada dihadapannya. Aku mendekat dan mencoba melerai perkelahian itu, namun salah satu dari Pria itu mengarahkan senjata tajam kepadaku. Aku berusaha menghalangi dengan tasku, namun pergelangan tanganku terbaret pisau itu dan mengeluarkan darah cukup banyak.
Barulah Kak Sari datang dengan Security dari arah luar, lalu menangkap kedua Pria itu.
"Astaga Citra, tanganmu. Ayo kita keruangan biar ku obati!" ucap Kak Sari panik.
Beruntung pagi hari jadi Restoran masih sepi pengunjung, sehingga tidak banyak orang yang melihat kejadian tadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi Kak?" tanyaku saat Kak Sari sedang memakaikan perban.
Kak Sari menerima panggilan telpon, lalu berkata bahwa aku dan beberapa saksi harus menemui kedua Pria itu di kantor Polisi untuk memberikan keterangan.
Di kantor Polisi..
Setelah aku memberikan keterangan, aku melihat kedua Pria itu lagi. Aku baru teringat sesuatu, salah satu dari Pria itu adalah Orang yang tempo hari bercakap dengan Rika di Cafe.
Siapa dia sebenarnya? Aku sudah sangat ingin tahu, tapi Polisi berkata harus menunggu beberapa waktu untuk mengetahui motif dibalik pertengkaran mereka.
Akhirnya aku kembali ke Restoran dengan Kak Sari. Bagaimana aku pulang nanti, sedangkan tanganku sakit begini. Ucapku dalam hati
Restoran tutup hari ini karena Polisi akan melakukan penyelidikan di TKP.
.......
__ADS_1
Seminggu berlalu, kemarin Om Iyan mengabari jika ada temannya yang berminat membeli rumahku, dan hari ini Orang itu akan melihat-lihat rumah.
Aku sengaja tidak kemana-mana hari ini, karena menunggu teman Om Iyan itu datang.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, aku menyambut mereka didepan pintu. Ada tiga Orang yang turun dari dalam mobil, termasuk Om Iyan.
"Loh, Kak Riza" ucapku kaget setelah ketiga Orang itu mendekat.
Ternyata Orang yang akan membeli rumahku adalah Papanya Kak Riza, sungguh kebetulan sekali memang.
Setelah melihat-lihat sekeliling rumah, akhirnya Papanya Kak Riza menyetujui untuk membeli rumah ini. Beliau memberi waktu satu minggu untukku mengosongkan rumah ini.
"Terimakasih Pak." Ucapku sambil mencium tangan Papanya Kak Riza saat mereka akan pulang.
Tring Tring....
"Halo, iya Pak" tanyaku.
"Baiklah saya akan ke sana nanti" ucapku lagi.
Polisi mengabari jika sudah mendapat hasil dari motif perkelahian dua Pria tempo hari di Restoran.
Aku masuk ke kamar untuk sedikit membereskan barang-barang ku. Ketika aku melihat bingkai foto, ada fotoku bersama Arka di sana. Aku kembali teringat dengannya.
Bagaimana kabarnya, sedang apa dia, dan di mana dia sekarang? Mengapa Arka setega itu membiarkan aku sendiri disini tanpa kejelasan. Apakah aku boleh berharap kau akan kembali lagi Ar? Setidaknya datanglah untuk sekedar menengok makam Papa Ar, bukankah dulu kamu berkata Papaku adalah Papamu juga, apakah kamu lupa dulu Papa lebih sering membela kamu dibanding aku anaknya sendiri Ar?
Aku meneteskan air mata mengingat masa-masa itu, masa dimana hanya ada aku dan Arka, tidak ada siapapun dan apapun yang mengganggu kami. Masa dimana Arka rela berbuat apapun demi memenuhi keinginanku. Bagaimana bisa semudah itu kamu melupakan kisah beberapa belas tahun kita Ar? Orang yang dulu ku anggap akan menemaniku selamanya justru pergi disaat aku sedang rapuh-rapuhnya. Kamu jahat Ar.
"Maaf Non, Dokter Susi sudah datang" ucap Mbok Lilis dari balik pintu.
"Iya Mbok, sebentar lagi aku turun" jawabku.
__ADS_1
Aku menghapus air mataku dan berjalan turun mendatangi Dokter Susi. Dokter Susi adalah Psikolog Mama, sudah beberapa kali pertemuan dan terbukti ada perubahan pada sikap Mama sekarang.