Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 35


__ADS_3

Hingga malam hari aku berada didalam kamar, bahkan untuk makan pun mbok Lilis yang mengantarkan. Pikiranku hanya tertuju pada Arka, hingga aku tak ingin melakukan hal apapun.


Ketika aku duduk didepan jendela dengan melihat langit yang gelap serta aliran air yang sedari tadi turun membasahi tanah, kedatangan mama membuyarkan lamunanku, entah kapan mama masuk, tapi tiba-tiba beliau sudah berada di sampingku.


"Sayang, sebenarnya ada apa? Tidak biasanya kamu mengurung diri seperti ini!" ucap mama.


"Tidak ada apa-apa ma, Citra hanya sedang ingin sendiri," jawabku dengan tetap menatap kearah jendela.


"Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Arka, sayang?" tanya mama.


Tiba-tiba saja aku tak bisa menahan tangis ketika melihat kearah mama. Aku memeluk dan menangis didalam pelukan mama.


"Ceritakan pada mama, sayang." ucap mama dengan mengelus kepalaku.


Memang sejak dulu aku tak pernah menceritakan tentang perasaanku atau apapun kepada mama. Aku berpikir, tidak ada salahnya jika sekarang bercerita.


Akhirnya aku menceritakan semuanya, perasaanku terhadap Arka, Rika yang menyuruhku menjauh dari Arka, teror dari Rika sewaktu dulu. Jelas saja mama terkejut.


"Bagaimana bisa kejadian seperti itu tidak kamu ceritakan kepada siapapun Citra?" tanya mama dengan melepas pelukan dan memberikan jarak antara mama dan aku.


Aku tak menjawab, tangis ku semakin menjadi-jadi. Lalu kemudian mama memeluk aku lagi, dan menenangkan ku.


"Itulah yang sering terjadi sayang, karena tidak mungkin laki-laki dan perempuan berteman tanpa adanya perasaan lebih dari salah satunya. Dan lebih parah lagi jika salah satu orang itu tak sadar bahwa dirinya telah dicintai," ucap mama.


"Kamu harus bisa memilih, tetap bertahan dengan perasaan yang kamu tau pasti akan lebih menyakitkan dari pada yang kamu rasakan sekarang, jika ternyata Arka tak memiliki perasaan yang sama terhadapmu, atau perlahan membuang rasa itu dan mencoba mencintai orang baru," lanjut mama.


"Kamu pikirkan itu baik-baik, sekarang kamu istirahat saja ya nak, sudah malam!" ucap mama dengan mencium keningku lalu keluar dari kamar.


Aku kembali merenungkan ucapan mama, memang benar, aku harus cepat mengambil keputusan. Aku memilih untuk menjauh darinya dan menghilangkan perasaan ini, toh dia juga sekarang tidak disini, dia sekarang jauh dariku, pasti tak terlalu sulit untuk menghilangkan rasa ini.


Pagi ini aku bangun saat matahari belum menampakkan cahaya indahnya. Aku membersihkan diri lalu berpakaian, setelah itu aku duduk didepan meja rias ku, aku terkejut saat melihat mataku yang bengkak. Pasti ini gara-gara aku menangis semalam, gumam ku.


"Pagi ma," sapa ku ketika sampai dimeja makan. "Ernan mana ma?" tanyaku.


"Sebentar lagi juga keluar dari kamar, sayang" jawab mama.

__ADS_1


Benar ucapan mama, tak lama setelah itu Ernan keluar dari kamar dan menuju meja makan.


"Tuan Putri habis nangis ya, matanya bengkak!" ucap Ernan dengan tertawa ketika melihat mataku.


Aku memelototinya, dan mulai mengambil roti untuk sarapan tanpa menghiraukan ucapannya.


"Selamat pagi Nyonya Citra dan Tuan Ernan" sapa seseorang yang baru datang.


"Pagi sekali Ray datangnya?" tanyaku.


Belum sempat Rayen menjawab, Ernan lebih dulu membuka suara. "Jangan panggil Nyonya kak, panggil dia Tuan Putri!" ucapnya dengan tertawa.


"Oh baiklah, saya datang di jam seperti biasanya Tuan Putri." jawab Rayen.


Ernan tertawa mendengarnya, sedangkan aku hanya geleng-geleng kepala.


Setelah selesai sarapan, kami berangkat ke tujuan masing-masing, aku dan Rayen ke restoran, sedangkan Ernan ke kampus.


"Apakah Tuan Putri baik-baik saja?" tanya Rayen saat diperjalanan.


"Sepertinya begitu Tuput." jawabnya


Aku mengernyitkan kening ketika mendengar jawabannya, "apa itu Tuput?"


"Oh maaf, Tuput adalah Tuan Putri" sahutnya.


Aku kembali menggelengkan kepala mendengar ucapan Rayen.


Setelah sampai di restoran, aku langsung masuk kedalam lalu berjalan menuju ruang kerjaku. Aku mendapat kabar jika lusa aku harus mendatangi kota dimana akan dibuka cabang untuk restoran ku. Dengan senang hati aku akan pergi, mungkin jika aku disibukkan dengan pekerjaan, aku akan bisa lebih cepat melupakan Arka.


Ketika aku kembali bekerja, aku menerima pesan dari Raya, dia meminta aku untuk mengantarkannya besok pagi ke butik untuk fitting baju pernikahan, dan aku langsung membalas pesannya bahwa menyetujuinya.


Tak lama, pesan baru masuk lagi, aku mengira itu balasan dari Raya, namun saat aku membuka pesan itu, aku terkejut saat melihat nama kontak Si pengirim pesan. Dan yang lebih membuat aku terkejut adalah isi pesan itu, foto Arka dan Rika, Rika terlihat memeluk Arka yang sedang tertidur di atas tempat tidur.


Hatiku berkecamuk tak karuan, antara rasa marah, sakit di hati dan benci. Ini dia yang aku takutkan, Rika pasti dengan lebih leluasa melakukan apapun yang dia inginkan. Tapi, yang membuat aku kecewa adalah, mengapa Arka menjadi seperti itu.

__ADS_1


Aku tak mau ini menjadi berkelanjutan, aku sudah memutuskan untuk melupakan Arka. Dengan cepat aku memblokir nomor Rika dari ponselku, agar dia tak bisa mengirim apapun lagi kepadaku, pikirku.


.....................


Pagi ini, ketika matahari sudah mulai menampakkan cahaya terangnya, sedangkan aku masih berada di atas tempat tidur dengan mimpi-mimpi yang membuatku tidak ingin terbangun, namun suara pengganggu itu tiba-tiba muncul.


"Katanya mau nemenin, tapi jam segini belum bangun juga, bangun woy!"


Setelah nyawaku mulai kembali, ingatanku langsung tertuju pada Arka, sebab Arka lah yang sering membangunkan aku ketika dulu kami masih SMA. Namun, aku langsung tersadar, Arka tidak berada disini, dia sekarang jauh dariku.


Aku membuka mata dan melihat Raya yang berdiri menghadap ke aku.


"Cepat bangun, ayo kita berangkat, nanti telat!" rengek nya dengan menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Iya iya aku mandi dulu," jawabku dengan perlahan duduk.


"Jangan lama, aku tunggu disini, supaya kamu bisa cepat-cepat!" ucapnya dengan berjalan kearah sofa.


"Hm, terserah." jawabku dengan berjalan menuju kamar mandi.


Belum ada beberapa menit aku berada didalam kamar mandi, namun Raya sudah berteriak menyuruh aku untuk cepat-cepat.


Akhirnya kami berangkat dengan aku yang belum memakai make up, karena dia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Bahkan aku pun belum sarapan.


Sesampainya di butik, kami berdua turun lalu masuk kedalam. Saat Raya mulai berbicara dengan mbak mbak butik, aku duduk di sofa dengan memainkan ponsel.


Aku sudah mulai bosan menunggunya, karena sudah berjam-jam berada disini, namun belum selesai juga. Perutku sudah merasa lapar sejak tadi.


"Masih lama ya Ray?" tanyaku


"Sabar Cit, sebentar lagi, oke." jawabnya


"Haih, tadi saja dia yang tidak bisa sabar, sekarang aku disuruhnya sabar." gumam ku pelan.


Tak lama setelah itu Raya mengajak aku pergi karena sudah selesai. "Maaf ya Cantik, lama nunggunya" ucapnya dengan tersenyum memperlihatkan giginya.

__ADS_1


__ADS_2