Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 45


__ADS_3

Tak sengaja pandangan kami bertemu, dengan segera aku melihat kearah lain karena malu.


Tenang Citra tenang, kamu bukan anak remaja lagi, mengapa kamu salah tingkah dan jantung ini berdegup kencang tiap kali dia menatapmu.


Satu persatu dari kami mulai meninggalkan taman, ingin sekali aku berdiri dan meninggalkan dia, namun badan ini seolah menolak. Akhirnya tertinggal kami berdua, sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


Arka berdiri dari duduknya, aku pikir dia akan pergi ke kamarnya, namun ternyata justru dia berjalan mendekat dan duduk tepat disebelah ku.


Tuhan, apalagi ini, bagaimana cara aku menutupi rasa gugup ku, batinku didalam hati.


"Hey, apa kau baik-baik saja? " tanya Arka dengan memegang daguku.


Dengan segera aku melepaskan tangannya dari daguku.


"A-aku tidak apa-apa. " jawabku dengan gugup.


Sedangkan dia hanya tertawa sambil mengeluarkan rokok dari dalam saku kemejanya.


Sejak kapan dia menjadi perokok, pikirku.


Lalu dia mematik korek api dan mulai menyesap rokok.

__ADS_1


"Apa kah aku masih tetap tampan? " tanyanya tanpa menoleh kearahku.


Aku tak menjawab pertanyaan bodohnya itu. Bisa bisanya dia terlihat begitu santai, sedangkan aku merasa tengah berada diruang sidang skripsi.


Suasana kembali hening, saat aku ingin beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba saja tanganku ditarik olehnya, sehingga membuat aku terjatuh kedalam pangkuannya dengan posisi aku membelakanginya.


Tak bisa dipungkiri, wangi badannya, hembusan nafasnya membuat aku semakin jatuh cinta dibuatnya. Oh Tuhan, aku sangat merindukan ini.


Dia berbisik ditelingaku, sangat dekat, hingga membuat berdiri bulu disekujur tubuhku.


"Aku merindukanmu. " ucapnya didalam bisikan.


Aku masih terdiam kaku, tak berani bergerak, bahkan bernafaspun rasanya sesak.


Perlahan dia mendekatkan wajahnya, lebih dekat, semakin dekat hingga akhirnya bibir kami bertemu.


Namun tiba-tiba saja terdengar suara orang berdehem. Dengan segera aku berdiri dari pangkuannya dan melihat kearah sumber suara.


Ternyata Putra sudah berada tepat didepan tempatku berdiri.


"Aku hanya ingin mengambil ponselku yang tertinggal. Maaf mengganggu bro, " ucapnya dengan senyum nakal, lalu bergegas pergi setelah mengambil ponsel yang berada diatas meja.

__ADS_1


Aku malu bukan main, bisa-bisanya kami tak menyadari kedatangan Putra. Sedangkan Arka terlihat kesal.


Tanpa berkata apapun, aku pergi meninggalkan Arka sendiri. Dengan segera aku masuk kedalam kamar dan menutup pintu.


Masih tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi, mengapa aku lemah jika dihadapannya, mengapa aku selalu tak bisa berbuat apa-apa jika bersama dia.


Ketika sedang merenung, aku mendengar suara ketukan pintu. Pelan aku berjalan dan akhirnya membuka pintu yang tak ku kunci itu.


"Arka, ada apa? " tanyaku terkejut melihat dia didepan pintu.


Tanpa menjawab pertanyaan ku, dia langsung masuk kedalam kamar melewati aku, dan membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Jujur saja aku sering tak paham maksud dari sikapnya.


"Keluarlah Ar, kenapa kamu tidur disini? " tanyaku bingung.


"Diam lah Tuan Putri, aku hanya lelah. Aku hanya pulang dan beristirahat. " jawabnya dengan menutup mata.


"Maksudmu, pulang? " tanyaku lebih bingung lagi.


Dia duduk dan menatapku, membuat jantung ini seolah akan keluar dari tempat asalnya.


"Kau adalah rumah. " ucapnya, lalu berdiri mendekati aku yang masih berdiam diri diambang pintu.

__ADS_1


***


Maaf cuma bisa setor sedikit ya. Ditunggu aja kelanjutannya Cina dan Arab, karena mereka bakalan sering ketemu 🤗


__ADS_2