Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 49


__ADS_3

Dengan tanpa ada ketukan, pintu terbuka. Aku dan Arka kaget dan langsung melihat kearah pintu. Seorang perempuan dengan perut buncit berdiri tepat didepan pintu, dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Maaf aku mengganggu kalian. " ucapnya dengan berjalan masuk.


"Ada apa kau kesini? " tanya Arka pada Rika ketika dia sudah berada dihadapan kami.


"Aku hanya mengantarkan makanan untukmu Ar, mama yang menyuruhku. " jawabnya dengan pelan.


Aku bingung dan tak mengerti dengan Rika, jelas-jelas suaminya sedang berduaan dengan perempuan lain didalam ruangan tertutup, tapi saat mengetahui hal itu mengapa dia bersikap biasa saja.


Dengan rasa malu aku berpamitan pada Arka dan Rika, namun saat aku akan berdiri, Arka memegang tanganku.


"Tetaplah disini, jika kau ingin pulang, tunggu aku memanggil Ardi untuk mengantarmu. " ucap Arka dengan masih memegang tanganku.


Setelah itu Arka keluar dari ruangan tanpa berkata apapun. Selanjutnya Rika menghampiriku lalu duduk di sampingku.


"Maafkan aku Cit, ini semua terjadi karena keegoisanku. " ucapnya dengan mengelus lenganku.


Sesaat aku berpikir apa maksud dari ucapannya, tapi belum sempat aku berbicara, pintu terbuka dan masuklah Arka diikuti dengan laki-laki itu.


"Baiklah sekarang kau boleh pulang, Ardi akan mengantarkan mu, kau akan aman bersamanya. " ucap Arka.

__ADS_1


Aku bergegas untuk meninggalkan ruangan, tak lupa berpamitan pada Rika.


Saat berjalan melewati beberapa karyawan wanita, terdengar suara bisik-bisik mereka sedang membicarakan soal berita itu. Namun Ardi langsung berdehem dan memperingatkan pada karyawan itu untuk berhenti membicarakan hal yang tak penting, atau mereka akan diberhentikan dari perusahaan. Sontak para karyawan wanita itu langsung berhenti berbisik dan kembali ketempat mereka masing-masing.


Akhirnya aku pulang mengendarai mobil sendiri, sedangkan Ardi mengikuti dari belakang.


Saat sampai dirumah, Ardi langsung berpamitan untuk kembali kekantor.


***


Beberapa hari kemudian aku masih belum berani membuka restoran, merasa tak siap dengan cibiran orang nanti. Aku pun masih belum berbaikan dengan Ernan, dia masih saja menghindar untuk bertemu denganku, padahal kami satu rumah.


Namun, pagi ini kak Sari menghubungi aku untuk segera pergi ke restoran, sayang jika tutup berhari-hari, kasihan juga para karyawan. Akhirnya dengan penuh pertimbangan aku pergi ke restoran. Sebelumnya aku sudah bersiap-siap, sebelum berangkat untuk terakhir kali aku melihat kecermin, setelah itu aku menuju restoran, siap tidak siap ini harus dihadapi.


Dengan berdebar dan penasaran aku keluar dari mobil. Mereka langsung menghampiri aku dan berkata minta maaf padaku.


Aku mengernyitkan kening mendengarnya, ada apa dengan mereka, baru beberapa hari tidak bertemu mengapa jadi aneh seperti ini.


Lalu salah satu dari mereka menjelaskan bahwa mereka meminta maaf karena sempat mempercayai berita hoax itu, dan mereka memohon agar aku tidak memecat mereka.


Aku tersenyum lalu tertawa mendengar permohonan mereka, bisa bisanya mereka berpikir aku akan memberhentikan mereka dari pekerjaan, terbesit dalam pikiran pun tidak.

__ADS_1


Setelah drama pagi hari, dan setelah aku menjelaskan bahwa aku tidak berminat memberhentikan mereka, akhirnya restoran dibuka kembali. Yang aku kira hari ini akan sepi pengunjung, ternyata aku salah. Pengunjung berdatangan hingga kursi dan meja tak sempat kosong, selalu terisi dengan pengunjung.


Aku sangat bersyukur, memang rezeki tidak akan kemana, gumam ku dengan tersenyum.


Terbesit dalam pikiran, tentang mengapa sikap Arka pada Rika sangat dingin, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Bahkan saat dulu sewaktu mereka berpacaran, Arka tak pernah memperlihatkan sikap yang seperti itu.


Namun aku tak mau terlalu mengambil pusing, akhirnya aku menuju tempat duduk ku, dan kembali bekerja.


Sore saat aku sampai dirumah, mama yang sedang duduk diruang keluarga memanggil aku. Aku menghampiri dan duduk didepan mama.


"Mama tahu berita kemarin, tapi mama harap itu semua tidak benar. " ucap mama dengan tatapan tajam.


Sebelum menjawab, aku menarik nafas dalam-dalam.


"Mama tahu Citra kan, tidak mungkin Citra melakukan hal itu. mama tahu Citra sangat mencintai Arka, tapi Citra tidak akan berpikir untuk mengganggu apalagi merusak rumah tangganya. " jawabku dengan menunduk.


"Mama tahu, tapi alangkah lebih baik kamu menghidari Arka, mama tidak ingin anak perempuan mama di cap sebagai wanita perebut suami orang. Sakit hati mama setiap kali ada pelanggan yang menanyakan hal itu pada mama. " ucap mama dengan gemetar.


Tanpa berlama-lama aku langsung memeluk mama dengan erat, aku merasa bersalah telah menyakiti hati mama dengan adanya pemberitaan itu.


"Maafkan Citra, ma. " ucapku lirih.

__ADS_1


Hanya itu kata yang bisa terucap dari mulutku, hatiku pun sakit melihat mama menangis seperti ini.


__ADS_2