Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MSS >> Bagian Tiga


__ADS_3

Sebab ada yang tidak bisa dipaksakan sekalipun dalam keadaan darurat. Yaitu perasaan.


***


Berguling ke kanan, kiri, tengkurap, terlentang. Berbagai posisi tidur sudah ia coba, tetapi tetap saja matanya enggan untuk terpejam.


Kebiasaan yang sulit dilepaskan oleh nya meminum kopi di malam hari, mengakibatkan rasa kantuk tertimbun kafein yang terkandung dalam kopinya.


"Aish, gue lupa lagi. Bagaimana ini?" gumam nya. Bosan dengan gerakan itu-itu saja, Davara memilih bangkit mengambil handphone nya lalu berdiam diri di balkon.


Beruntung kuota internet nya baru saja diisi kemarin sore, jadilah ia berselancar di media sosial dengan tenang sembari menikmati angin malam.


Disaat sedang menstalking akun media sosial milik pujaan hatinya, sebuah pesan masuk. Alisnya mengkerut, ia bingung dengan siapa gerangan yang mengirimkan pesan. Pasalnya, itu adalah nomor baru.


+628576565xxxx : Belum tidur?


Davara : Syp?


+628576565xxxx : Pacar.


Davara : Maksdnya?


+628576565xxxx : Ck! Gue Devan, pacar baru lo.


Davara menatap layar kaca ponsel nya dengan horror. Ini diluar dugaan, ia kira ucapan Devan tadi siang hanyalah gurauan yang tidak lucu semata. Namun, ternyata perkiraan nya melenceng jauh kesamudra.


"Bukan nya menang dari kesulitan, gue malahan semakin dibuat kelimpungan" ucapnya dramatis.


Ia dan Leo sama dalam hal mendramatisi sesuatu.


"Ya Tuhan, pengin kembali lagi ke waktu siang tadi. Hapus kejadian yang bikin gue menyesal hebat ini."

__ADS_1


Dering bersuara nyaring, semakin membuat suasana mencekam. Pemuda itu meneleponnya kali ini. Oh astaga apa yang harus ia lakukan? Sungguh, bahkan ia tidak mengenal Devan lebih dari namanya saja.


Memilih mengabaikan, Davara segera berlari kembali ke kasur empuk nya. Lebih baik ia paksakan tidur saja, agar besok ada alasan jika Devan menanyainya tentang panggilan nya yang tidak ia jawab. Akan lebih baik jika besok mereka tidak bertemu. Namun, mereka satu sekolah, kemungkinan bertemu itu masih sangat besar.


"Udah lupain aja, anggap ini mimpi buruk. Besok pura-pura nggak kenal aja, seolah semuanya kembali ke awal. Oke, rencana bagus. Semangat!"


Maka dengan itu, malam ini berlalu begitu saja tanpa ada hal yang special untuk Davara maknai lebih.


β€”


Kring. Kring. Kring.


Pekikan nyaring jam untuk yang kesekian kalinya bagai elusan lembut. Tidak terusik sama sekali, Davara semakin mengeratkan selimutnya. Posisi yang nyaman untuk bermalas-malasan. Sayang nya, hari ini bukanlah hari minggu dimana ia bisa tidur lebih lama dari biasanya. Jikapun ia tidak bangun dengan dering jam diatas nakas, alarm dari Mamanya lah yang akan mengambil alih tugas membangunkan.


"Davara! Kalau kamu masih tiduran dalam 5 menit, Mama stop uang jajan kamu selama tiga bulan!" teriak Neno, Mamanya Davara dari balik pintu biru kamarnya.


Kontan saja, Davara menegakkan badan nya refleks. "Jangan Ma! Ini Ara udah bangun." balas Davara balik berteriak.


β€”


Surai hitam yang menutupi sebagian wajahnya ia sibakan ke samping. Menyapukan pandangan keseluruh meja riasnya, mencari pengikat untuk menyangga rambut indahnya.


Setelah selesai dengan rambut, kini Davara melanjutkan mengoleskan bedak tipis ke wajah nya. Hanya bedak tanpa hal-hal lainnya. Dilanjutkan dengan hal-hal yang perlu ia lakukan lainnya.


Menuruni anak tangga satu persatu, kehadiran nya disambut sodoran beberapa kertas berwarna biru dari tangan sang Papa. Davara suka ini, tanpa meminta ia menerima.


"Papa tau aja, makasih Pa." Tersenyum cerah, ia segera mengambil alih kertas berharga itu sebelum ditarik kembali oleh Dendi.


"Giliran dikasih duit aja, bilang makasih pake senyum segala. Coba disuruh beliin koyo, malesan nya bikin Papa harus ngeluarin ucapan pedas dulu baru mau." cerosos Dendi. Papanya ini, kenapa mirip sekali dengan perempuan cerewetnya.


"Lagian Papa juga sih, ngapain harus pake koyo setiap hari?"

__ADS_1


"Kamu masih kecil, nggak akan ngerti." tukas Dendi. "Udah sana sarapan dulu, baru berangkat." imbuhnya.


"Nggak deh, penyakit males sarapan Ara kambuh lagi."


"Kamu ini, itu cuma alesan. Mana ada penyakit males makan."


"Papa kurang update sih, sekarang itu apa yang nggak mungkin coba. Maling duit temen aja udah mungkin."


"Maling duit temen, atau maling pacar temen?"


"Papa paling ngerti deh, haha. Yaudah Ara pamit pa, bilangin Mama kalau jangan masakin Ara makan nanti siang, kemungkinan Ara pulang sore lagi." Ia menitip pesan, lantaran tidak melihat keberadaan sang Mama.


"Mau ngapain dulu emang? Pacaran dipojokan sekolah? Nggak takut penunggu pohon beringin belakang sekolah emang?" pertanyaan beruntun Dendi membuat Davara gemas juga. "Mana ada Pa. Ara cuma mau main dulu sama Anne, Leo, Aby."


"Oh, oke. Salam dari Papa untuk mereka ya. Bilangin, kapan-kapan main kerumah, kita main VS bareng."


"Oke." Davara terkekeh sembari melangkah pergi. Mamanya itu tegas dan cuek. Tapi Papanya, cerewet dan perhatian. Mungkin keperibadian mereka tertukar, entahlah yang pasti Davara senang bisa lahir dari keluarganya ini.


Baru membuka gerbang, ia sudah dikagetkan dengan kehadiran ketiga sahabatnya. Davara mengelus dada, kapan sih mereka tidak membuat ia kaget setiap pagi?


"Udah gue bilang berkali-kali, kalau mau nungguin tuh kasih kabar. Jadinya pas gue buka gerbang nggak akan kaget." omelnya.


"Lo nya aja yang kagetan, setiap pagi kita rutin nungguin disini, harusnya lo udah biasa." tutur Anne diangguki Leo.


Abyza dengan segara mengamit lengan Davara, menariknya pergi bersama. Tanpa membiarkan gadis itu membalas ucapan Anne. Tidak apa juga sih, Davara menang banyak jadinya.


Anne mendengkus sedang Leo tersenyum penuh arti. Lalu, mengikuti jejak Abyza. Ia menarik lengan Anne agar berjalan beriringan dengan nya.


Ya Tuhan, jantung gue! Pekik Anne kelewat senang dalam hati.


See You next part dari Davara, Anne, Abyza dan Leo😘

__ADS_1


__ADS_2