
Setelah kepergian Arka, aku dengan segera berpakaian, aku membuka pintu ingin keluar dari kamar, namun aku terkejut saat melihat Arka yang berada tepat didepan pintu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Ayo ikut aku!" ajaknya dengan menarik tanganku dan berjalan menuju luar rumah.
Aku hanya menurut dengannya, ada rasa takut dalam benakku, entah karena apa. Sesampainya diluar, Arka membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk. Aku tetap menuruti keinginannya, setelah menutup pintu, dia segera masuk kedalam, lalu melajukan mobil entah kemana.
Didalam mobil, aku hanya diam dengan tatapan melihat kearah depan, Arka pun tak berbicara apapun, suasana didalam mobil hening. Cukup lama kami berada dijalan, mungkin sekitar 2 sampai 3 jam, dan aku tak tahu sekarang berada dimana, yang jelas kami melewati jalanan sunyi, hanya ada beberapa pengendara yang melewati jalan itu. Sampai akhirnya Arka menghentikan mobilnya.
Dia tetap diam, aku pun melakukan hal yang sama, lama kelamaan aku baru sadar sedang berada dimana. Ya, tak jauh dari mobil, aku melihat air, dan suara itu, suara deburan ombak yang sangat aku kenali. Arka membawa aku ke pantai? Tapi untuk apa?
"Apa kamu tidak mau keluar?" tanya nya dengan tatapan tetap lurus ke depan.
Tanpa menjawab, aku langsung membuka pintu lalu keluar dari dalam mobil. Semilir angin menusuk ke pori-pori tubuh saat aku berada diluar, karena aku memang hanya menggunakan pakaian rumahan dengan baju pendek dan celana panjang.
Aku duduk di atas kap mobil depan, ku hirup nafas dalam dalam, lama juga aku tak menikmati hal ini.
__ADS_1
Arka duduk di sampingku, aku tak menghiraukannya. Aku sibuk dengan acara menghirup oksigen yang ada di sana.
"Ternyata benar, untuk bahagia tak harus mewah. Tapi hanya kamu yang memiliki sifat aneh seperti ini!" ucap Arka.
Aku tetap asik dengan acara menghirup lalu membuang oksigen, aku merasa sangat nyaman dan sangat tenang, entah karena aku lama tak melakukan hal ini di tempat favorit, atau aku berada disini bersama orang yang ku sayang.
Lama kelamaan aku tak tahan dengan rasa dingin yang menerpa tubuhku, aku sempat bersin beberapa kali. Sepertinya Arka mengerti dengan apa yang kurasakan, Arka masuk kedalam mobil, lalu kembali duduk dan memberikan jaket untukku. Aku menerima jaket itu dan langsung kupakai di badanku.
"Apa alasan lo ngajak gue kesini Ar?" tanyaku dengan menatap keatas, banyak bintang bertebaran di atas sana, sungguh sempurna malam ini.
"Kamu cantik." ucapnya
Hey, apakah aku bermimpi atau sedang mengkhayal? Dia baru saja mengucapkan apa? Jika ini hanya mimpi, tolong jangan biarkan aku terbangun. Jika ini hanya khayalan, tolong jadikan ini nyata.
Aku langsung memalingkan wajah, karena merasa sudah semakin berat mengambil nafas, dan pasti wajahku ini memerah karena malu karena ucapannya.
__ADS_1
"Nggak nyambung banget sumpah, gue tadi nanya apa coba?" ujar ku dengan mengusap wajah untuk menghilangkan rasa malu dan gugup.
"Aku hanya rindu saat saat berdua dengan Si Tuan Putriku ini," jawabnya dengan mentoel keningku.
"Aduh, kebiasaan banget ni orang!" ujar ku dengan memukul pelan lengannya.
"Aw sakit," rengek nya.
"Apa deh Ar, kaya anak kecil." sahutku dengan menggelitiki perutnya.
Dan kami pun menghabiskan malam hanya berdua ditempat itu. Bercerita tentang indahnya masa lalu kami, kenakalan kami, kejahilan Arka sejak kecil, dan banyak cerita lain.
Malam ini akan menjadi malam terindah untukku. Meski jauh dari kata ramai, jauh dari kata mewah, namun aku akan selalu mengingat saat saat seperti ini. Benar ucapan Arka, hal sesederhana ini bisa membuat aku bahagia.
Terimakasih Tuhan, karena sudah mempertemukan aku dengan dia, terimakasih waktu, karena masih membuat kami dekat sampai saat ini, terimakasih Arka, karena mu aku merasa hidupku menjadi lebih berwarna.
__ADS_1
Jangan pernah pergi dari hidupku Ar, aku mencintaimu, meski kau tak pernah tahu itu. Ucapku didalam hati dengan tersenyum ketika melihat dia tertawa menceritakan masa kecilnya.