Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 31


__ADS_3

Pagi ini aku akan berangkat ke kampus, lalu siang harinya berniat ke rumah Arka untuk menemui tante Mei. Selesai sarapan, aku berpamitan dengan Mama, lalu berangkat.


"Kak, ada apa malam tadi menghubungi? Tapi aku telpon balik nomor kakak tidak aktif." tanyaku pada kak Riza saat sedang di kantin bersama dengan Raya dan Cindy juga.


"Ah tidak apa-apa Cit, hanya ingin bertanya kabar saja, takutnya kamu ada apa-apa." jawab kak Riza.


"Cieee masih aja perhatian sepasang mantan kekasih ini, kenapa nggak balikan aja sih?" ucap Cindy.


"Iya nih, lagian juga biar bisa saling melengkapi kan" lanjut Raya.


Aku tak menghiraukan ucapan mereka berdua, tapi kak Riza seperti menelan ucapan Raya dan Cindy, aku takut kak Riza mengajak aku menjalin hubungan lagi, aku belum siap menjalin hubungan dengan siapapun lagi.


Setelah selesai jam pelajaran, aku mengemudikan mobil menuju rumah Arka. Tak berapa lama aku sudah sampai. Aku mengetuk pintu lalu pintu terbuka.


Tante Mei menyambut ku dengan senyum, lalu aku mencium tangan tante Mei. Aku dan tante Mei masuk ke dalam rumah menuju meja makan, ternyata tante Mei sedang makan siang.


Tante Mei mempersilahkan aku untuk makan bersama-sama. "Ayo duduk sayang!" titah tante Mei.


"Gue kira lo nggak jadi datang Cin." ucap Arka


"Gue kan kangen juga sama tante Mei" jawabku.


"Sama gue juga kan?" tanya nya membuat aku salah tingkah.


"Apa sih lo!" ucapku.


"Rika, gimana kabar kamu?" tanyaku agar menghilangkan rasa gugup, pasalnya Rika menatap aku dengan tatapan tidak suka setelah mendengar pertanyaan Arka padaku tadi.


"Baik." jawabnya singkat

__ADS_1


Kami semua makan tanpa bersuara, aku semakin tidak nyaman dengan tatapan Rika. Dan lagi kenapa dia ada disini? Apakah setiap hari dia kesini?


Selesai makan, tante Mei mengajak aku dan Rika keruang keluarga, sedangkan Arka pergi ke kamarnya. Kami mengobrol sambil tertawa membahas masa kecil Arka, aku sempat larut dalam obrolan itu, namun tak sengaja aku melihat raut muka Rika yang berubah. Sebegitu tak sukanya dia jika aku membahas tentang Arka.


Tante Mei mengatakan jika Rika sekarang tinggal disini, karena supaya lebih enak saja berangkat ke kampus dengan Arka, dari pada Arka bolak balik mengantar jemput dia di apartment. Aku terkejut mendengarnya, jadi Arka dan Rika tinggal dalam satu rumah? Pikiranku sudah melayang-layang membayangkan yang tidak tidak.


Ditengah obrolan, tante Mei permisi ingin ke toilet. Tinggal lah aku dan Rika yang berada diruang keluarga.


"Pasti lo kaget ya, setelah tau gue tidur di rumah Arka" ucap Rika dengan senyum puasnya.


"Lo bisa bayangin kan gue sama Arka bertemu setiap hari? dan lo harus tau, hampir setiap malam Arka selalu datang ke kamar gue, gue sampai kewalahan menuruti keinginannya." tambahnya dengan senyum licik.


Aku geram mendengar ucapan Rika, entah mengapa hatiku terasa sakit membayangkan ucapan Rika.


Aku benar-benar tak habis pikir dengan Rika, mengapa dia berucap seperti itu. Dan bisa bisanya Arka tidak memberitahu aku jika Rika sekarang tidur di rumahnya. Dan lagi, apa tadi katanya? Hampir setiap malam Arka ke kamar Rika?


Diperjalanan pulang, aku menangis didalam mobil, ucapan Rika masih terngiang-ngiang di telingaku hingga ke pikiranku. Bisa bisanya Arka melakukan hal itu.


********


Hari ini aku dan Mama beserta Mbok Lilis akan pindah dari rumah kami dulu, pagi pagi sekali kami sudah mengeluarkan barang-barang yang akan kami bawa ke rumah baru. Aku mengesampingkan pikiranku kepada Arka, aku harus fokus dengan rumah baru dulu, walaupun sebenarnya tetap saja Arka masih sangat sering muncul dipikiran.


Cukup banyak memang barang yang kami bawa, sehingga kami harus menyewa 4 mobil pickup beserta supirnya.


Setelah semua sudah siap, kami berangkat menuju rumah baru. Cukup berat aku meninggalkan rumah masa kecilku, terlalu banyak kenangan yang sudah kami lalui di sana, khususnya bersama Papa.


1 jam kemudian kami sampai didepan pagar rumah berukuran minimalis berwarna biru langit, namun halaman rumah itu cukup luas, jauh lebih luas dari rumah kami yang dulu. Ternyata kak Sari sudah menunggu kedatangan kami. Setelah pagar dibuka, semua mobil masuk.


"Gimana Bu, apakah ibu suka?" tanya kak Sari kepada Mama.

__ADS_1


"Iya Sar, halamannya luas dan banyak pepohonan, aku akan menanam berbagai macam bunga di halaman nantinya." jawab Mama dengan tersenyum dan terus melihat ke sekeliling rumah.


"Mari Bu, masuk" ajak kak Sari.


Kami berempat masuk ke dalam rumah, sedangkan pak supir pickup sibuk menurunkan barang-barang.


Kak Sari menunjukkan semua ruangan yang ada di rumah ini, ada empat buah kamar, termasuk kamar yang berada dibelakang. Setiap kamar memiliki kamar mandi didalamnya, kecuali kamar yang berada dibelakang.


Aku memilih kamar yang letaknya agak jauh dari ruang tamu. Aku membuka pintu ruangan itu, ruangan yang lebih kecil dibanding kamarku yang dulu, ruangannya masih kosong, lalu aku keluar meminta pak supir mengangkat kan barang-barang ku kedalam kamar.


Siang hari semua barang sudah masuk, aku akan sibuk merapikan perabotan rumah dan kamar dalam waktu beberapa hari ke depan, pikirku.


"Ma, jangan terlalu kelelahan, nanti Mama sakit" ucapku kepada Mama yang sejak tadi sibuk merapikan peralatan dapur bersama dengan kak Sari. Sedangkan mbok Lilis mungkin sedang membereskan kamar Ernan.


"Tidak sayang, Mama tidak apa-apa, justru Mama sangat senang." jawab Mama


Setelah mendengar ucapan Mama, aku berlalu pergi menuju kamar baruku. Aku merasa lelah sehingga aku tertidur hingga sore hari.


Malam harinya aku terbangun karena mendengar suara ramai dari luar kamar. Aku bergegas mandi lalu keluar melihat ada apa diluar.


Ternyata Raya beserta keluarganya datang, aku menghampiri mereka. "Om, tante, sama Raya udah dari tadi ya?" tanyaku.


"Ya iyalah, kamu semedi mulu didalam kamar!" jawab Raya lalu semua orang tertawa.


.......


Hari ini aku tidak berniat pergi kemanapun, aku hanya ingin berdiam diri dikamar. Bahkan setelah aku pulang dari rumah tante Mei, Arka tidak ada menghubungi aku. Sebenarnya aku ingin tau kabarnya, tapi rasa kecewaku atas kelakuannya lebih besar dari pada rasa ingin tau ku tentang keadaannya.


Mengapa jadi begini? jika bisa memilih, aku lebih memilih untuk tak memiliki perasaan apa-apa padanya. Cukuplah aku menjadi sahabatnya dan dia menjadi sahabatku. Tapi aku tak memiliki kendali atas itu. Hilangkan perasaan ini jika memang dia bukan untukku. Tolong...

__ADS_1


__ADS_2