Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 21


__ADS_3

Tok tok tok...


Aku membuka pintu kamar, tenyata Arka yang datang, raut wajahnya panik dan keringat bercucuran diwajahnya, dia memberitahu aku jika Papa mengalami kecelakaan diperjalanan saat menuju Kota M. Tubuhku lemas seperti tak mempunyai tulang, tenagaku tiba-tiba lenyap entah kemana, air mata keluar dengan sendirinya, bahkan untuk berbicara saja pun rasanya tak mampu. Arka menarik tanganku dan menyuruhku masuk kedalam mobil, aku hanya menurut apa yang diperintahkan nya. Bahkan Mbok Lilis yang bertanya kami ingin pergi kemana pun tak ku hiraukan.


Arka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, aku hanya diam duduk disebelahnya dengan tatapan kosong, entah mengapa kejadian demi kejadian terjadi akhir-akhir ini, lebih tepatnya kejadian yang tak di inginkan.


Pelan pelan aku membuka mulut, "Ar, kenapa bisa terjadi?" ucapku dengan gemetar dan bulir-bulir air mulai turun lagi membasahi pipi.


Arka diam tak menjawab, dia tetap fokus mengendarai mobilnya. Cukup lama perjalanan kami karena Papa berada di rumah sakit dipertengahan Kotaku dan Kota M.


Malam hari kami baru sampai di Rumah Sakit, kami menaiki lift menuju lantai 4. Di depan ruangan itu aku melihat Kak Sari dan beberapa Orang yang tak kukenal sedang duduk termenung.


Aku dan Arka menghampiri Mereka, setelah melihatku Kak Sari langsung memelukku dengan erat. Aku semakin tidak bisa berpikir jernih, dengan cepat aku masuk kedalam ruangan. Aku merasa nyawaku hampir hilang saat melihat Papa sedang terbaring dengan banyaknya selang yang menempel di badannya dan Mama yang sedang duduk menangis disebelah Papa.


Dengan pelan aku melangkah mendekati Mereka. "Mama" aku berucap pelan dengan semampunya tenagaku. Mama berdiri dan langsung memeluk aku, tangisan Mama pecah di dalam pelukanku.


Jangan tanyakan bagaimana perasaanku, jika pun bisa memilih, aku lebih memilih aku yang menggantikan posisi Papa berada di sana.


Aku berusaha tegar dan kuat di hadapan Mama, karena saat ini Mama sedang sangat rapuh dan aku tidak ingin membuat Mama semakin rapuh jika aku memperlihatkan kelemahan ku.


"Mama tidak mau jika harus kehilangan Papa!" ucap Mama dengan sesegukan.


Aku mencoba menenangkan Mama dengan memberikan ucapan-ucapan yang mungkin bisa membuat Mama sedikit tenang.

__ADS_1


Aku mendekati Papa, ku pegang dan kucium tangannya. "Cepatlah sadar Pa, kasian Mama dan aku" ucapku.


Arka memegang pundak ku dan berkata "lebih baik kita biarkan Om Han istirahat dulu."


Akhirnya aku dan Arka keluar dari ruangan, tapi Mama masih berada didalam untuk menemani Papa. Setelah berada diluar aku mengeluarkan rasa kerapuhan ku dengan cara menangis sejadi-jadinya.


Arka menenangkan, memeluk aku dan mengusap-usap kepalaku. "Kenapa Ar, kenapa ini bisa terjadi?" ucapku dengan memukul-mukul dada Arka.


"Semua akan baik-baik saja, lo harus kuat!" ucapnya.


Setelah aku merasa sedikit lebih tenang, aku bertanya kepada Kak Sari bagaimana kejadian sebenarnya, bagaimana bisa Papa kecelakaan dan sampai separah itu.


Flashback On


Setelah Papa mengantarkan Ernan ke Bandara, Papa ditelpon oleh Manager Restoran di Kota M bahwa ada beberapa masalah yang terjadi dengan tanah yang Papa beli untuk Restoran, sehingga Papa dimohon untuk bisa menyelesaikan masalah itu.


Beruntung Pak Supir sempat berlari mencari tempat perlindungan, Pak Supir sempat meneriaki Papa menyuruh agar keluar dari dalam mobil dan berlari menjauh namun kejadian itu terjadi begitu cepat hingga Papa tidak bisa menghindari.


Flashback Off


Aku kembali menangis membayangkan kejadian yang baru menimpa Papa. Aku jadi menghubung hubungkan kejadian ini dengan ancaman Rika, tapi apakah mungkin dia berani berbuat nekat seperti ini.


Seorang Dokter Laki-laki paruh baya di iringi Dua Perawat masuk keruangan Papa.

__ADS_1


Tak berapa lama Dokter pun keluar. "Dok, Papa saya bagaimana?" tanyaku.


"Maaf dengan siapa ini?" tanya Dokter paruh baya itu.


"Saya anaknya Dok!" jawabku.


Dokter mengajak aku keruangan nya, setelah kami duduk, Dokter mulai menjelaskan keadaan Papa. Tak sampai hati aku mendengar, dalam waktu dekat Papa harus di operasi karena terjadi penggumpalan darah diotak, itulah yang menyebabkan Papa belum sadar sampai sekarang, Papa koma.


Aku meminta Dokter melakukan yang terbaik untuk Papa, bagaimanapun Papa harus baik-baik saja dan bisa sehat seperti sedia kala.


Saat aku keluar dari ruangan Dokter, Arka sudah menungguku dan bertanya apa yang di katakan Dokter tadi, aku menceritakan semuanya pada Arka. Arka dan aku keruangan Papa untuk mengajak Mama istirahat di Hotel yang berada di seberang Rumah Sakit agar Mama bisa tidur dengan nyenyak dan supaya Mama tidak sakit karena tidur di ruangan Papa, sudah pasti dingin dan tidak nyaman.


Setelah sampai di depan pintu, aku membuka dengan pelan, aku melihat Mama sudah tertidur dengan posisi duduk menelungkup kan tangan di ranjang untuk menjadikannya bantal.


Aku membangunkan Mama, aku mengajak Mama namun Mama tidak mau. Mama ingin tetap berada di sini menemani Papa. Akhirnya Arka keluar untuk membelikan selimut dan juga makanan untuk Mama, karena Mama belum makan sejak datang tadi.


Sebenarnya aku pun berat meninggalkan Papa, namun Arka berucap jangan sampai aku sakit nanti siapa yang akan menguatkan Mama.


Aku dan Arka tidur di Hotel, dengan kamar yang berbeda tentunya. Saat aku masuk kedalam kamar, aku melihat ada koper di samping tempat tidur, ternyata isinya semua perlengkapan mandi dan beberapa pakaian.


Aku yakin pasti Arka yang menyiapkan semua ini.


Akhirnya aku menuju kamar mandi dan membersihkan diri.

__ADS_1


Selesai mandi dan memakai baju lengkap, ada suara ketukan pintu. Aku berjalan dan membuka pintu, ternyata itu petugas Hotel yang memberikan makanan.


Sebenarnya aku tidak nafsu makan namun Arka menghubungiku melalui Video Call menyuruhku untuk makan, terpaksa aku menurutinya.


__ADS_2