
Hingga sore hari aku masih memikirkan akan datang menemui Arka atau tidak, aku takut bertemu dengannya. Lukaku belum sembuh benar, aku takut usahaku untuk merelakan dia menjadi sia-sia, karena aku tahu aku lemah jika dihadapannya.
Hingga ketukan pintu membuyarkan lamunanku tentangnya.
"Ayo kita pulang, kak! " ajak Ernan dengan masih berdiri diambang pintu.
Dengan cepat aku mengusap wajah lalu menyambar tas yang berada di atas meja.
Diperjalanan pulang suasana sunyi karena tak ada yang bersuara. Ernan fokus mengemudi sedangkan aku bingung memikirkan ajakan Arka.
Aku tak memberitahu Ernan jika Arka mengajak aku bertemu malam ini, sebab aku takut Ernan akan emosi dan justru Ernan yang akan menemui Arka untuk memaki dia.
Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuh diatas tempat tidur lalu memejamkan mata sambil menekan kening yang agak terasa sakit dengan jari telunjuk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21:45, namun aku masih tetap berdiam diri diatas tempat tidur dengan masih memikirkan untuk apa Arka mengajak aku bertemu.
Apakah dia hanya ingin mengucapkan kata maaf karena sudah menyuruh aku menunggunya kembali namun ternyata dia justru menikah dengan wanita lain, atau apalagi alasannya mengajak aku bertemu.
Terdengar suara pesan masuk dari ponselku yang masih berada didalam tas, dengan cepat aku meraih tas lalu mengambil ponsel itu.
Pesan itu dari Arka.
💬Citra, aku menunggumu disini.
Segera aku berdiri dan melempar ponsel keatas tempat tidur lalu beranjak pergi kekamar mandi, mungkin dengan membersihkan badan bisa membuat pikiran tenang, pikirku.
Cukup lama aku berada didalam kamar mandi, jelas dengan pikiran yang masih tertuju pada sahabat sejak kecilku itu.
Sudah terlalu berlarut-larut aku memendam perasaan dan menahan sakit hati ini, namun entah mengapa aku masih saja terjebak didalamnya.
Samar-samar aku mendengar suara gaduh dari luar, dengan cepat aku mengambil handuk dan bergegas keluar dari kamar menuju tempat suara.
__ADS_1
Sesampainya didepan rumah, aku menyaksikan kejadian yang membuat aku syok bukan main. Ernan memukul Arka tepat diwajahnya hingga membuat Arka terhuyung. Entah apa yang sudah aku lewatkan hingga kejadian ini bisa terjadi.
"Bajingan lo kak, bisa bisanya lo memberikan harapan palsu pada kak Citra. " ucap Ernan memaki Arka, sedangkan Arka hanya diam tak melawan atau mempertahankan diri.
"Sudah Ernan, CUKUP! " teriak mama yang sudah menangis histeris akibat melihat apa yang baru saja dilakukan anak laki-lakinya.
Sedangkan aku hanya terdiam menyaksikan semua yang terjadi.
Akhirnya Ernan berhenti lalu bergegas pergi masuk kedalam kamar, melewati tempat aku berdiri namun tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Citra. " ucap Arka ketika melihat aku, dengan memegangi bibirnya yang terluka.
Sedangkan aku tetap berdiam diri bak patung, seolah tak percaya bisa melihat Arka lagi.
Mama meminta maaf atas apa yang telah dilakukan Ernan, dan mengajak Arka masuk kedalam rumah.
Aku mengikuti mereka dibelakang, lalu mama mempersilahkan Arka untuk duduk.
"Citra, apakah kamu tidak mau memakai baju agar terlihat lebih sopan sayang. " ucap mama menatapku yang dibarengi dengan Arka.
Dengan cepat aku berlari menuju kamar dan langsung menutup pintu.
Segera aku berpakaian lalu kembali keruang tamu dimana mama dan Arka berada.
Dengan pelan aku berjalan lalu duduk disamping mama. Dan dengan perasaan malu tentunya akibat kebodohanku yang dengan santainya keluar hanya memakai handuk.
Mama mulai membuka suara dengan bertanya kepada Arka tentang apa tujuannya datang kemari malam malam.
Arka menjawab dengan cepat bahwa tujuannya datang kemari untuk bertemu denganku, dia ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya.
Deg!
__ADS_1
Hatiku menjadi tak karuan setelah mendengar ucapan Arka, alih alih penasaran dengan penjelasannya, justru aku malah merasa takut kenyataannya tak sesuai dengan keinginanku, dan justru malah membuat hatiku semakin hancur.
"Baiklah, kalian selesaikan semuanya dengan baik, tante tinggal dulu. " ucap mama dengan berdiri lalu meninggalkan ruang tamu.
Suasana menjadi hening, rasa canggung menyelimuti, sedangkan aku hanya tertunduk tanpa berani melihat kearah Arka.
"Apa kabar? " tanyanya dengan pelan, namun masih terdengar jelas di telingaku.
Lama aku terdiam, aku harus mengatasi rasa gugup bercampur takut sebelum menjawab pertanyaannya.
Dengan menghembuskan nafas kasar, aku mulai membuka mulut.
"Seperti yang kau lihat. " jawabku dengan secuil nyali mendongakkan sedikit kepala untuk melihat dia.
Tanpa bertanya hal lain, Arka mengajakku untuk pergi keluar dari rumah agar bisa menjelaskan semuanya.
Akupun mengiyakan ajakkannya, lalu kami beranjak keluar rumah.
Arka membawaku kesebuah taman yang hanya ada beberapa orang disana, dan dia menyuruhku duduk dikursi.
Namun entah kebetulan atau bagaimana, sebelum dia menjelaskan apapun, ponselnya berdering. Dia pun meminta ijin untuk mengangkat telpon terlebih dulu.
Aku tak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya dengan orang dibalik telpon, yang bisa kudengar hanya dia yang mengiyakan ucapan orang itu.
Dia kembali dengan raut wajah yang kesal, dan mengajak aku pulang karena dia berkata ada hal mendesak yang mengharuskan dia untuk kembali kerumah.
***
Mohon maaf karena tidak bisa up setiap hari. Tapi aku janji kisah perjalanan cinta Citra dan Arka bakalan tetap berlanjut.
Untuk para pembaca aku sangat sangat berterimakasih karena meskipun jarang up tapi tetap ada yang setia menunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Follow juga ig author : @menulis_di @lisdiana38
Komentar kalian itu moodbooster banget buat aku, terimakasih untuk semua 💕