
Happy Reading 💛
Maaf jika dalam cerita atau penulisan tak membuat para pembaca berkesan 👐
**********
Dengan cepat aku keluar dari toilet tanpa menanggapi ucapan Rika. Sebenarnya aku tak bisa untuk membuka mulut, terasa kaku, dan hatiku ngilu.
Benarkah aku tak bisa melupakan dia, benarkah dia sudah bahagia dengan kekasihnya. Pertanyaan-pertanyaan itu mulai menghantui pikiranku.
Aku kembali ke meja dimana Cindy dan Fandy berada. Dari jauh aku sudah bisa melihat mereka, terutama melihat Arka yang sedang tertawa entah membahas apa dengan Fandy, aku sangat merindukan tawa itu, wajah itu, suara itu.
Dengan pelan aku berjalan, hingga akhirnya sampai. Aku langsung duduk tanpa mengucapkan satu kata apapun.
"Lama banget Cit?" tanya Cindy dengan melihat kearah ku.
"Aku sakit perut, makanya lama." jawabku dengan memalingkan wajah karena takut Cindy akan menyadari jika mataku bengkak akibat menangis.
Sedangkan Arka tak menghiraukan aku, dia masih tetap asik berbincang dengan Fandy.
Tak lama setelah itu, Rika datang dan langsung duduk kembali di samping Arka.
Waktu berjalan sangat lama, aku sudah tak tahan melihat Rika yang selalu berada disisi Arka.
Para tamu undangan mulai berlalu pulang, acara sudah hampir selesai, karena hari sudah mendekati tengah malam, Raya dan Putra menghampiri kami. Dengan cepat Rika memberi ucapan selamat kepada kedua pengantin, padahal mereka tak pernah bertemu sebelumnya.
__ADS_1
"Kaget nggak kamu Cit, ada Arka datang?" bisik Raya ke telingaku setelah duduk.
Aku melirik kearahnya, "Kamu bilang dia nggak bisa datang kan?" tanyaku dengan berbisik.
"Tapi kamu suka kan ada dia?" tanya Raya menggoda aku dengan tersenyum.
Akhirnya acara selesai, kami mulai meninggalkan tempat resepsi. Malam ini aku, Cindy dan Fandy sengaja ingin mengerjai pengantin baru. Kami berniat untuk mengganggu waktu malam pertama pengantin.
Setelah membersihkan diri, kami bertiga menuju kamar Raya dan Putra dengan membawa bantal serta selimut masing-masing. Cindy mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada respon. Karena merasa kesal tidak dihiraukan, akhirnya Cindy menggedor-gedor pintu itu, tak berapa lama setelah itu, pintu terbuka.
"Berisik banget sih!" ucap Raya ketika pintu sudah terbuka.
"Kamu lama bukanya, apa kita mengganggu kamu dan Putra?" tanya Cindy dengan tawa yang ditahan.
"Menurut kamu gimana, udah tau pakai nanya." ucap Raya dengan cemberut.
"Hey tunggu, mau ngapain kalian, hey!" ucap Raya ketika kami bertiga mulai memasuki kamar.
Aku dan Cindy hanya tertawa mendengarnya.
"Si Putra mana ya Cit?" tanya Cindy ketika sudah berada didalam, sebab tidak ada orang di tempat tidur.
"Entahlah." jawabku dengan menaikan bahu.
Aku dan Cindy duduk di atas tempat tidur, sedangkan Fandy duduk di sofa. Keluarlah Putra dari balik pintu kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Setelah dia sadar akan keberadaan kami di sana, dia berbalik badan kembali kedalam kamar mandi.
__ADS_1
"Kalian mau ngapain sih kesini?" tanya Raya dengan cemberut.
"Mau ikut tidur disini lah." jawab kami bersamaan.
Raya semakin memajukan bibirnya. Terdengar suara Putra dari dalam kamar mandi meminta Raya untuk mengambilkan pakaian untuknya.
Setelah Putra keluar, kami berlima berada di atas tempat tidur dengan posisi duduk, untung saja ukuran tempat tidur ini besar, sehingga cukup untuk kami.
"Jadi, bagaimana cara kita bisa tidur jika begini?" tanya Putra dengan menggaruk kepala.
"Kami para wanita tidur disini, di atas tempat tidur, kalian berdua tidur di sofa," jawab Cindy sambil melihat kearah sofa yang letaknya tak jauh dari kami.
"Ngawur aja, nggak deh enggak, kalian keluar aja kenapa si, aku capek ni mau istirahat." ucap Raya.
"Ya sudah ayo kita istirahat." ajak Cindy dengan mulai merebahkan badannya dan memejamkan mata.
Akhirnya pengantin baru itu mengalah, Putra dan Fandy mulai beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa, sedangkan kami bertiga tetap berada di atas tempat tidur.
Kami mulai memejamkan mata, padahal awalnya kami bertiga tidak ingin tidur sampai pagi hari nanti, namun aktivitas yang kami lakukan hari ini benar-benar menguras tenaga.
Jam 04.00 dini hari, Fandy membangunkan Cindy dan juga aku, dia mengajak keluar dan melanjutkan tidur di kamar masing-masing, karena merasa tidak enak tidur di sofa.
Dengan pelan kami bertiga keluar dari kamar, meninggalkan pengantin baru yang sedang tidur terpisah itu.
Ketika aku memasuki kamar, aku heran karena kamar gelap, lampu mati dan suhu di kamar menjadi sangat dingin, padahal aku sangat ingat ketika meninggalkan kamar, lampu menyala terang dan suhu ruangan juga stabil.
__ADS_1
Dengan pelan aku berjalan memasuki kamar dan mencari-cari letak saklar lampu, namun ketika tanganku hampir menyentuh saklar, tiba-tiba saklar itu berbunyi dan lampu menyala.