Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 42


__ADS_3

Mungkin sudah saatnya aku harus mengikhlaskan Arka, mungkin dia memang bukan untukku, mungkin kami hanya ditakdirkan menjadi sahabat. Aku berbicara pada diri sendiri ketika berada dibalik jendela kaca kamarku.


Lagi lagi air mata membasahi pipi, hatiku kembali sakit saat ingat akan kenyataan yang terjadi.


Aku tertidur dengan ingatan yang masih tertuju pada Arka. Pagi hari aku terbangun dengan badan yang lemas, rasanya aku tak siap menjalani hari ini dan hari hari berikutnya.


Setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian lengkap, aku memoles wajah dengan make up agar tak terlalu terlihat wajah dan mata yang membengkak akibat menangis sepanjang malam.


Dengan malas aku keluar dari kamar menuju meja makan. Setelah mendudukkan diri di kursi, tiba-tiba kepalaku terasa sakit dan badanku terhuyung kedepan.


"Kak Cit, ada apa denganmu? " tanya Ernan yang baru keluar dari kamar dan langsung berlari ke arahku.


"Ah, tidak apa Er, aku hanya merasa sedikit sakit. " jawabku dengan memegang kepala yang memang masih terasa sakit.


"Sudahlah kak, lebih baik kakak istirahat saja, jangan pergi ke restoran hari ini! " ucapnya dengan khawatir.


"Aku merasa bosan berdiam diri di rumah saja, aku harus mencari kesibukan. " jawabku dengan meringis menahan sakit.


Dengan spontan Ernan mengangkat tubuhku lalu dia berjalan menuju kamarku, aku berteriak agar dia segera menurunkanku sambil memukul-mukul lengannya namun tak dihiraukannya. Diletakkannya aku diatas tempat tidur.

__ADS_1


"Diam ditempat! " ucapnya dengan nada mengancam.


"Hari ini kakak istirahat dirumah, tidak boleh pergi kemanapun karena itu berbahaya untuk kakak, pikiranmu masih kalut dan hatimu masih berantakan. " ucapnya dengan mata memicing, lalu keluar dari kamar.


Sedangkan aku hanya bisa melongo mendengar ucapannya.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuklah mama membawa makanan untuk sarapanku.


"Ma, ada apa dengan Ernan, kenapa dia begitu cerewet. " rengekku kepada mama.


Mama tersenyum dan meletakkan nampan diatas nakas, lalu duduk disebelahku.


Akhirnya aku hanya berdiam diri dikamar, tidak melakukan hal apapun, padahal itu justru membuatku semakin teringat akan Arka.


Seminggu setelahnya aku baru diperbolehkan kembali beraktifitas oleh Ernan, meskipun aku harus tetap dalam pengawasannya.


Aku berangkat menuju restoran hari ini, dengan diantar Ernan tentunya.


"Jangan telat makan kak! " ucapnya ketika aku turun dari mobil.

__ADS_1


"Hmm. " jawabku dengan malas.


Siang hari diruangan....


Dering telpon membuat aku terbangun dari tidurku. Sejak pagi tadi aku memang tidak mengerjakan apapun karena pekerjaan sudah di handle oleh kak Sari, alhasil itu membuat aku mengantuk karena hanya berdiam diri.


Dengan mata masih buram dan setengah sadar aku menerima panggilan itu.


Panggilan telpon.


"Halo! " ucapku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Citra, apakah kita bisa bertemu malam ini, ada hal yang harus aku bicarakan. " ucap seseorang dibalik telpon.


"Baiklah, kirimkan saja lokasinya. " jawabku dengan tanpa berpikir panjang dan langsung mematikan sambungan telpon, lalu aku kembali tertidur.


Tak berselang lama ponselku berbunyi, aku kembali terbangun dan pergi kekamar mandi untuk mencuci muka agar rasa kantuk hilang.


Aku kembali duduk di kursi dan dengan cepat memeriksa ponsel. Betapa terkejutnya aku setelah membaca pesan dari seseorang, seseorang itu mengirimkan lokasi restoran yang jaraknya tak jauh dari tempatku berada.

__ADS_1


Ya, orang itu memang Arka. Aku baru tersadar jika yang menghubungi aku tadi adalah Arka. Mengapa aku tak mengenali suaranya. Ucapku dengan masih tak percaya.


__ADS_2