
3 tahun kemudian.
Aku sudah menyelesaikan kuliahku beberapa bulan yang lalu. Sekarang aku disibukkan dengan hanya mengurus restoran, sedangkan Mama sekarang hanya di rumah mengurus aneka tanaman bunga yang kini sudah memiliki stand didepan rumah. Ernan, dia sudah kembali dari LA, dia sekarang sedang kuliah mengambil jurusan Kedokteran di kota ini, karena tidak ingin jauh lagi dengan Mama dan aku katanya. Aku sangat bangga padanya, dia lulus dengan nilai di atas rata-rata sewaktu di LA.
Opa meninggal setelah 2 tahun kepergian Papa, seminggu setelah Opa, Oma menyusul. Aku cukup terpukul ketika itu, namun aku sadar, usia mereka memang sudah tak muda lagi, sebulan sebelum berpulang, Opa dan Oma mengalami sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit. Akhirnya rumah Opa dan Oma yang berada di LA dijual karena tidak ada yang menempati.
Kasus kecelakaan yang menimpa Papa waktu itu, 1 tahun yang lalu baru selesai diusut, ternyata itu murni kecelakaan karena rem Si penabrak blong.
Hubunganku dan Arka masih seperti dulu, Arka masih sering ke rumahku, meski hanya untuk makan atau sekedar mengantarkan kue dari tante Mei. Hubungannya dengan Rika masih tetap berlanjut, mereka tetap sering bersama, dan Rika selalu membagikan momen kebersamaan itu melalui sosial media. Dan kalian tahu? Aku hanya menjadi penonton dari balik layar ponsel. Miris sekali memang, mencintai sahabat sendiri bukanlah hal yang menyenangkan, jika hanya salah satu sisi yang merasakan.
Sedangkan Raya, dia sebentar lagi akan menikah dengan Putra. Ah sungguh mereka adalah pasangan yang serasi, sejak dulu aku tidak pernah mendengar keluhan Raya tentang hubungannya dengan Putra. Yang ku tahu, Putra adalah lelaki yang sangat menjunjung tinggi dan sangat menghargai kaum wanita.
Cindy pun tak mau kalah, dia sudah bertunangan dengan Fandy, entah kapan akan menikah, namun kabarnya akan segera menyusul Raya dan Putra. Aku senang melihat teman-temanku menemukan kebahagiaan masing-masing.
Pagi hari ini aku sudah berada di ruangan kesayanganku, tempat yang kadang membuat aku pusing jika setiap kali melihat pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan restoran. Tapi aku sangat mencintai pekerjaan ini, ini adalah peninggalan dari Almarhum Papa.
Tok tok tok....
"Iya masuk!" teriakku
"Maaf Nyonya, tamu yang anda tunggu sudah datang, mereka sedang berada diluar." ucap sekretaris ku.
"Persilahkan mereka masuk Ray!" ucapku
Rayen Prasetya, apakah kalian ingat? Ya, dia adalah orang yang pernah kulihat bersama dengan Rika di cafe, orang yang pernah berkelahi di restoran, dan orang yang pernah melamar kerja sebagai karyawan di restoran ini.
Dia sekarang menjadi sekretaris pribadiku. Dulu saat dia bekerja di restoran, aku sering pulang malam sendirian dari restoran. Dan dia sering mengantarkan aku pulang ke rumah dengan cara mengikuti aku dari belakang. Karena katanya, sekarang rawan kejahatan. Lama kelamaan aku merasa aman jika ada dia, jadi aku berinisiatif untuk menjadikannya bodyguard sekaligus sekretaris ku, dan dia menyetujui.
Aku pernah bertanya soal Rika kepada Rayen, dia menjawab dia dulu orang bayaran Rika, dia disuruh memata-matai aku dan keluargaku. Bahkan Rika sempat menyuruh Rayen untuk menghabisi ku jika aku tetap berdekatan dengan Arka, namun Rayen tak mau. Sungguh kasihan, sebegitu takutnya dia kehilangan Arka.
Rayen masuk dengan diikuti 2 orang, mereka adalah calon investor untuk restoran, mereka ingin restoran ku membuka cabang di beberapa kota, seperti saat dikelola Papa dan Mama dulu. Aku sangat senang dengan tawaran itu.
__ADS_1
Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya kedua orang itu pamit untuk pergi. Dan aku melanjutkan pekerjaanku.
Malam hari aku baru pulang bersama Rayen, setiap pagi Rayen memang ke rumah untuk menjemput ku, kami berangkat berdua, sedangkan motornya ditinggal di rumahku.
"Kak Ray, ayo makan dulu! Mama sudah masak banyak." teriak Ernan dari pintu setelah melihat kami datang.
"Ayo Ray!" ucapku
"Iya Nyonya." jawabnya
"Rayen Prasetya, bukankah aku sudah sering mengatakan ini, jangan panggil aku Nyonya! Panggil saja Citra" tegas ku.
"Bagaimana bisa Nyonya, Nyonya ini atasanku" ucapnya tak mau kalah.
"Haih terserah kau saja!" jawabku dengan berlalu pergi meninggalkan dia.
Saat aku menuju meja makan, ternyata ada Arka di sana. "Astaga, lo numpang makan lagi Ar?" tanyaku sambil duduk di kursi.
"Sudah sudah, kenapa jadi berdebat begini sih sayang, memang Mama yang menyuruh Arka datang kesini. Ray, ayo cepat duduk, mari kita makan!" ucap Mama.
Kami semua makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara. Setelah selesai makan, Rayen pamit untuk pulang.
"Iya pulang saja." ucap Arka kepada Rayen
"Hati-hati dijalan ya Ray!" ucapku.
"Cihh sama bodyguard aja perhatian" celetuk Arka.
Aku masuk menyusul Mama dan Ernan yang sedang berada diruang tamu. Arka mengikuti aku, lalu aku berdiri dan pergi ke kamar. Dia juga masih tetap mengikuti aku.
"Lo kenapa sih Ar?" tegas ku karena tak mengerti maksud dan tujuannya mengikuti kemana aku melangkah.
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu dekat deh sama Si Raymon itu" ucapnya dengan tak tau malu.
"Udah mulai lagi anehnya, dia sekretaris gue, ya wajarlah kalo gue dekat sama dia, lagian apa masalahnya coba?" tanyaku karena tak habis pikir dengan ucapannya.
"Y-ya aku nggak suka aja sama dia" jawabnya
Aku berlalu pergi ke kamar mandi, malas jika berdebat dengan dia lagi.
Setelah selesai mandi, aku keluar dengan hanya menggunakan handuk. Aku mengira Arka sudah pergi dari kamar.
"Lo seksi juga ternyata ya" ucapnya yang mengagetkanku, pasalnya dia sedang berada di atas tempat tidur dengan menghadap kearah ku.
"Lo ngapain masih disini? Keluar sana!" teriakku.
"Ya kalo gue masih mau disini emangnya kenapa?" tanya nya dengan berjalan mendekat kearah ku.
"Lo jangan macam-macam ya Ar, atau gue teriak!" ancam ku.
"Teriak saja kalau bisa!" ucapnya dengan badan yang semakin dekat denganku.
"Lo nggak nurut apa kata gue ya Cin, gue nggak suka lo dekat sama Ray sekretaris lo itu!" bisik nya ditelinga ku.
Baru kali ini aku merasa takut saat didekatnya, apa yang akan dia lakukan setelah ini, gumam ku.
"Gue nggak suka lo dekat sama Ray, sama Riza dulu, atau sama laki-laki manapun!" bisik nya lagi.
Aku merinding dibuatnya, apa maksud ucapannya, mengapa dia tak suka aku dekat dengan lelaki?
Aku memberanikan diri membuka mulut, "tapi apa alasannya?" ucapku pelan.
"Lo nggak perlu tau alasannya, yang jelas gue nggak suka!" ucapnya lalu pergi keluar dari kamar.
__ADS_1
Semakin aneh saja sikapnya, bagaimana bisa dia mengatur hidupku.