Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 27


__ADS_3

"Selamat Pagi Dok" sapa ku.


Dokter Susi menjelaskan jika Mama sudah tidak apa-apa, bisa dibilang sudah kembali seperti dulu. Wajar saja sikap Mama seperti itu kemarin, sebab Mama terlalu terpukul atas kepergian Papa. Ujar Dokter Susi


Dokter Susi izin untuk ke kamar Mama. Setelah itu aku kembali ke kamarku untuk melanjutkan kegiatan beres-beres ku tadi.


Cinaaaaaa... Cinaaaaa.....


Aku terkejut saat mendengar suara orang memanggilku dari luar. Apakah itu Arka? Apakah Arka benar-benar kembali? Aku buru-buru membuka pintu untuk melihat siapakah yang datang.


Saat aku membuka....


Dorrrr.....


Aku merasa kecewa ternyata yang datang adalah Raya dan Cindy. Bahkan aku tidak bisa membedakan suara mereka.


"Lagi ngapain kamu Cit?" Cindy bertanya dengan melenggang masuk ke dalam kamar.


"Kan pindahnya masih seminggu lagi, kenapa sudah beres-beres sih Cit?" tanya Raya


"Nggak papa lah, biar nanti nggak repot-repot banget." Jawabku dengan kembali melipat baju-baju dan memasukkannya ke dalam koper.


"Kamu mau pindah kemana sih Cit? jangan jauh-jauh ya, supaya kita masih bisa tetap sering main-main ke rumah kamu." titah Raya

__ADS_1


Hah, ini gue kenapa nggak pinter sih akhir-akhir ini. Gue sama sekali nggak mikir mau pindah kemana, bahkan ingat saja enggak untuk membeli rumah.


"Gampang lah itu nanti." Jawabku kepada mereka


Siang hari, aku mengajak Raya dan Cindy menemaniku untuk datang ke kantor Polisi. Polisi menjelaskan semuanya kepadaku. Dua Pria itu berkelahi karena persoalan hutang yang sudah lama tidak dibayar. Aku bertanya pada Pak Polisi siapakah nama salah satu Pria yang pernah kulihat bersama Rika waktu itu. Namanya adalah Rayen, dia adalah Si penagih hutang.


Sebenarnya aku masih penasaran dengan Si Rayen itu, tapi biar nanti aku mencari tahu sendiri saja tentang dia.


"Kita ke Restoran Citra aja yuk, aku laper." ajak Raya


Lalu kami berangkat menuju Restoran, beberapa puluh menit kemudian kami sampai. Mereka berdua langsung memesan makanan, sedangkan aku pergi ke ruangan ku.


Tok tok tok.. Citra..


"Iya masuk!" teriakku.


"Apa ini Kak?" tanyaku dengan membuka Map.


"Kamu kemarin minta aku buat cari Karyawan baru kan, itu ada beberapa lamaran." Jelas Kak Sari


"Oh, iya Kak aku lupa.. Hehe" ucapku.


Aku teringat dengan rumah baru, mungkin Kak Sari bisa membantu pikirku.

__ADS_1


"Oh ya Kak, apakah Kakak bisa mencarikan rumah baru untukku dan Mama. Terserah di mana saja asal jaraknya tidak terlalu jauh dengan Restoran."


"Oke, nanti ku kabari. Tenang saja, aku banyak punya kenalan yang bisa membantu dalam hal itu." Ucapnya


"Kak Sari memang terbaik, selalu bisa diandalkan. Pantas saja Mama dan Papa sangat sayang dengan Kakak." Ucapku dengan tertawa.


"Dan sekarang sudah tambah satu orang lagi yang menyayangiku." Kata Kak Sari, lalu kami berdua tertawa.


Setelah Kak Sari keluar dari ruangan ku, aku disibukkan dengan membaca beberapa surat lamaran karyawan baru, tapi ada satu nama yang menarik perhatianku, "Rayen Prasetya" benarkah Si penagih hutang itu melamar kerja di sini? Rayen?


Aku mencari foto di dalam Map itu, dan aku mendapatkannya. Ya, benar, dia adalah orang yang waktu itu bersama dengan Rika di Cafe.


Tiba-tiba aku mendengar ponselku berbunyi. Ku buka pesan itu, pesan dari Raya yang mengatakan aku harus segera menemuinya.


💬Citra, cepat ke sini. Kamu pasti tidak menyangka dengan apa yang ada di sini.


Aku merapikan beberapa surat lalu pergi keluar menemui Raya dan Cindy.


Kulihat di meja yang ditempati Raya dan Cindy tidak hanya ada mereka berdua, tetapi ada beberapa orang yang membelakangi aku dari tempatku berdiri.


Aku mendekati mereka dan berkata, "benar-benar ya, jadi kamu nyuruh aku kesini cuma buat melihat kalian makan berpasang-pasangaa.....


Belum selesai aku berucap, aku dikagetkan dengan penampakan seseorang yang tiba-tiba berbalik badan melihat kearah ku.

__ADS_1


Apakah ini benar-benar dia? Apakah ini nyata?


Aku melihat Arka, tatapan kami bertemu, tubuhku menjadi kaku.


__ADS_2