Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 29


__ADS_3

Aku kembali disibukkan dengan pekerjaan. Tapi baru setengah jam, aku sudah mulai jenuh. Entahlah, Arka kembali muncul di dalam pikiranku. Bahkan kemarin aku belum sempat meminta nomor barunya, bagaimana bisa aku menghubungi.


Siang hari saat aku ingin makan, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Alasan utama adalah karena aku rindu dengan Mama, dan dengan masakannya tentunya.


Aku memarkirkan mobil. Mobil siapa ini, batinku ketika melihat ada mobil asing berada di depan rumah. Lalu aku masuk ke dalam rumah dan mencari apakah ada tamu, ternyata ruang tamu kosong. Aku ke dapur, tapi lagi-lagi dapur kosong. Aku ke kamar Mama, saat aku membuka pintu, aku tidak melihat Mama ada di dalam. Aku kembali ke belakang, ke kamar Mbok Lilis, kulihat pintu tidak tertutup, setelah aku berada di depan pintu, ternyata Mbok Lilis sedang tidur.


Lalu mobil siapa yang di depan tadi, pikirku. Aku naik ke lantai atas menuju kamar. Saat aku membuka pintu, aku dikagetkan dengan adanya orang yang sedang tidur tengkurap di atas tempat tidurku.


Aku mendekati orang itu. Sepertinya aku kenal, batinku.


Arka? Sedang apa dia di sini, dia tidur di kamarku tanpa sepengetahuanku dan tanpa seizin ku?


Aku berjalan menuju kamar mandi, dan dengan sengaja aku membanting pintu agar membangunkan Si Arab itu, pikirku.


Dan benar saja, setelah aku keluar dari dalam kamar mandi, aku melihat Arka sudah duduk ditepi tempat tidur.


"Cina, kamu kok udah di dalam, kapan kamu masuk?" tanya nya tanpa adanya rasa bersalah karena masuk kamarku tanpa sepengetahuanku.


"Lo ngapain di sini?" tanyaku.


"Apakah pertanyaan itu penting?" dia balik bertanya.


"Tidak penting." jawabku singkat


"Oke baiklah, tak perlu ku jawab kalau begitu" ucapnya.


"Benar-benar menyebalkan orang ini." ucapku dengan berjalan kearah pintu untuk keluar dari kamar.


Namun tiba-tiba langkahku ditahan olehnya. "Kamu mau ke mana Cin?"


"Makan, lapar." jawabku


"Tidak bisa, kamu harus duduk dulu" katanya dengan menarik tanganku kearah tempat tidur.

__ADS_1


Aku duduk di atas tempat tidur lalu dia jongkok di bawah tepat dihadapan ku. Aku tidak tau apa yang akan dilakukannya. Sikap dan tingkahnya memang tidak pernah bisa ditebak.


"Lo dengerin ucapan gue Cin, kemarin gue pergi tanpa kabar karena tiba-tiba Kakek sakit parah, dan dua hari setelah Om Han berpulang, Kakek gue juga pulang. Diperjalanan saat menuju rumah Kakek gue mengalami sedikit masalah, gue tabrakan sama orang dan sempat terjadi perkelahian, nah saat itu hp gue hancur karena diinjak oleh orang itu. Gue nggak kepikiran buat cari hp baru karena terlalu memikirkan Kakek. Sebelum Kakek berpulang, Kakek selalu minta gue buat nemenin dia, nggak boleh pergi jauh-jauh dari dia. Maaf Cin, gue nggak bisa menemani elo disaat terpuruk lo." ucapnya dengan air mata yang menetes.


Baru kali ini aku melihat Arka menangis, aku bahkan tak tega melihatnya. Ku usap air mata yang ada di pipinya, "sudah Ar, tidak perlu dibahas lagi, semuanya sudah berlalu. Maafkan aku tidak ada di sisimu saat Kakek berpulang." ucapku


Arka memelukku dengan posisi tetap berada di bawah, aku balas memeluk dia, menepuk pundaknya dan berkata semua sudah berlalu Ar, Kakek sudah tenang di sana.


Orang yang kukira selama ini pergi menjauhiku, ternyata dia sedang berada dalam masa yang hampir sama denganku. Maafkan aku karena sempat berpikiran buruk tentangmu Ar.


Ternyata itu alasan Arka hilang beberapa waktu. Aku tidak pernah menyangka jika kenyataan sebenarnya adalah seperti ini, yang selalu ada di pikiranku adalah Arka menjauhiku karena muak dengan sikapku.


Arka melepaskan pelukan dan memberi jarak untuk kami berdua. Apakah kamu tau Ar? Aku sangat rindu denganmu. Ucapku dalam hati saat menatap wajahnya.


"Jangan benci aku Cin," ucapnya dengan menjatuhkan kepalanya di pahaku.


Mengapa dia jadi rapuh begini, apakah kemarin juga dia seperti ini, lalu siapa yang menemaninya sewaktu tidak bersamaku. Apakah Rika?


Aku mengusap kepalanya, aku tidak menyangka Arka akan seperti ini, selama ini aku melihatnya tak pernah mengeluh ataupun bersedih atas apapun yang terjadi.


Aku mencubit lengannya, "gue kan tadi udah bilang kalo gue lapar, malah ditahan pas gue mau keluar kamar." ucapku dengan malu


Arka mencubit hidungku lalu memegang tanganku dan mengajakku pergi keluar dari kamar untuk makan. Aku tersenyum, terimakasih karena sudah mau kembali Ar. Ucapku di dalam hati.


Kami turun dan menuju meja makan, beruntungnya Mbok Lilis sudah menyiapkan makan siang di atas meja. Kami makan berdua dengan tenang dan sesekali Arka meminta aku untuk menyuapinya.


Saat dipertengahan makan, Mama datang dengan membawa banyak belanjaan ditangannya, rupanya Mama tadi pergi ke pasar, pantas saja tidak ada di rumah.


Setelah aku dan Arka mencium tangan Mama, Mama pergi ke dapur untuk menaruh semua belanjaannya.


"Ma, ayo makan bareng!" teriak Arka


"Apa sih lo Ar, itu Mama gue bukan Mama lo!" protes ku.

__ADS_1


"Kenapa sih nggak mau banget bagi-bagi" ucapnya.


"Tante Mei dan juga om Han sekarang berada di mana Ar?" tanyaku


"Ada di rumah, kemarin juga di rumah Kakek lama. Tapi sekarang sudah balik lagi kok."


"Lalu kuliah lo gimana Ar selama lo di rumah Kakek?" tanyaku


"Aku kuliah dari sana, kuliah online." jawabnya


Setelah selesai makan, aku jadi malas kembali ke Restoran, akhirnya aku memutuskan untuk tetap di rumah bersama dengan Mama dan Arka.


Malam harinya Arka baru berpamitan untuk pulang, itupun karena aku yang menyuruhnya, awalnya dia berniat untuk tidur di sini malam ini. Haih ada-ada saja memang kelakuannya.


"Yasudah, aku pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik." ucapnya sambil mentoel keningku.


"Apa deh lo, orang gue di rumah. Ngapain jaga diri" protes ku dengan mengusap kening.


"Kamu kira di rumah ini aman? Kamu kira tidak ada hantu?" katanya


"Mulai deh ngawur nya, udah ah sana cepat pulang, ditungguin tuh di rumah sama tante Mei" ucapku.


"Eemm.. Jangan marah ya Cin" ucapnya yang membuat aku bingung.


Aku mengernyitkan kening, "apa maksudnya sih?" tanyaku


Tiba-tiba dia mencium keningku dan berlari kearah mobilnya. Aku tersenyum, memang dasar! Ucapku melihat dia berlari.


Setelah mobilnya keluar melewati pagar, aku masuk dan menutup pintu. Aku kaget karena Mama sudah berada dibelakang ku.


"Mama, Mama sejak kapan di sini?" tanyaku


"Sejak melihat kejadian Tuan Putri dicium oleh Pangerannya" ucap Mama dengan tertawa dan berlalu pergi ke kamar.

__ADS_1


Aku sangat malu, ini semua gara-gara Arka. Ucapku dengan menaiki tangga menuju kamar.


__ADS_2