
Aku sangat terkejut melihat sosok tinggi dan berbadan tegak yang sedang berdiri di hadapanku.
"Apa kabar Cin?" tanya Arka dengan mata yang sedari tadi menatap mataku.
"Mengapa kamu ada disini?" tanyaku dengan jantung yang berdegup kencang ketika menatap matanya. Sehingga aku pun tak sadar dengan ucapan ku yang mengatakan kamu kepada Arka, karena selama ini aku tidak pernah seperti itu.
Aku melihat dia tersenyum dan dengan tiba-tiba dia mengangkat tubuhku ala bridal style lalu dibawanya ke atas tempat tidur. Aku sempat menolak dan menurunkan aku, namun dia tidak menanggapi permintaanku.
"Apa yang kamu lakukan Ar?" tanyaku dengan nada tinggi ketika dia sudah menurunkan aku tepat di atas tempat tidur.
"Hei, mengapa kamu sangat marah, aku hanya ingin membuat kamu tidak kelelahan jika harus berjalan lagi." jawabnya santai.
Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tepat disebelah ku.
"Kenapa kamu bisa ada disini Ar?" tanyaku lagi.
Dia tak menjawab, justru dia menatapku lagi, dengan tatapan yang aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Sudahlah, cepat tidur!" titahnya dengan badan yang sekarang membelakangi aku.
Aku heran dengan sikapnya, apa maksud dia? Tiba-tiba ada di kamarku, tiba-tiba menyuruh tidur dan memalingkan badan.
Akhirnya aku tertidur karena masih merasa mengantuk.
Aku terbangun ketika cahaya sang matahari mulai membuat aku terganggu dengan sinarnya yang tepat mengenai wajahku.
Pelan-pelan aku membuka mata, aku terkejut ketika melihat cahaya terang dari balik kaca yang tak tertutupi gorden.
Aku baru ingat jika aku tidur bersama Arka, namun saat aku melihat kesamping, aku tak menemukan dia, kemana dia. Aku mencari ke dalam kamar mandi, namun tak kutemukan juga. Apakah dia sudah pergi? gumam ku.
Saat aku melihat jam di ponselku, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11.23 siang, hah, bisa bisanya aku bangun tengah hari begini.
Dengan segera aku membersihkan diri dan mandi, setelah itu aku mengemasi barang-barang dan keluar menuju parkiran.
__ADS_1
Setelah sampai di dalam mobil, aku mengambil ponsel dari dalam tas, dan mencoba menghubungi Cindy. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, namun nomornya tidak aktif.
Saat aku membuka aplikasi chat, ternyata dia ada mengirimkan sebuah pesan.
💬Kamu pulang kenapa nggak bilang-bilang sama aku sih Cit, kan kita bisa bareng.
💬Aku baru keluar dari hotel nih sama Fandy.
Pesan itu dikirim jam 09.00
Pulang kata dia, siapa yang mengatakan bahwa aku sudah pulang kepada Cindy. Aku sempat bingung, namun aku tak mau ambil pusing. Dengan segera aku melajukan mobil menuju rumah.
Sesampainya di rumah, aku melihat mama yang sedang sibuk melayani pembeli.
"Ma, Citra pulang." ucapku dengan mencium tangan dan pipi mama.
"Sayang, tadi Arka mampir kesini sebelum berangkat ke Belanda. Oh iya, dia menitipkan surat ini untuk kamu." ucap mama dengan memberikan sebuah amplop berwarna putih.
"Dan Rayen tadi kesini, dia pikir kamu sudah pulang dari acara pernikahan Raya. Nanti kalau ada waktu, temui dia di restoran ya sayang, katanya ada yang mau disampaikan." ucap mama lagi.
Dia mampir kesini untuk berpamitan pada mama karena ingin kembali ke Belanda, tapi dia tidak berpamitan padaku, padahal jelas-jelas semalam aku bersama dia.
Setelah memasuki kamar, aku menaruh barang-barang ke sembarang tempat, lalu membuka surat itu.
Tunggu aku pulang Cin.
Aku tak mengerti apa maksudnya dengan menyuruh aku untuk menunggu dia pulang, sedangkan aku tau kalau dia di sana bersama dengan kekasihnya.
Aku tak mau memikirkan masalah ini berlarut-larut, sebab ini bukan kali pertama Arka meninggalkan aku. Dengan segera aku berganti pakaian dan berangkat ke restoran. Rayen ingin menyampaikan sesuatu, itu yang membuat aku penasaran.
Tapi sebelumnya, aku menghubungi Rayen terlebih dulu, aku menanyakan dia sedang berada dimana, setelah tau keberadaannya, aku berpamitan kepada mama, aku berangkat menuju restoran. Jarak yang tak jauh, membuat aku cepat sampai di restoran.
Saat mobil sudah terparkir, dengan cepat Rayen membukakan pintu mobil. Rupanya dia sudah menunggu kedatanganku.
__ADS_1
Aku mengajaknya masuk ke dalam ruangan ku.
"Kata mama, ada yang ingin kamu sampaikan padaku Ray?" tanyaku langsung ketika kami sudah duduk.
"Iya Tuput, sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa saya ingin mengundurkan diri." jawabnya.
Aku terkejut ketika mendengar ucapannya, sepengetahuanku, selama ini tidak ada masalah, mengapa dia ingin mengundurkan diri.
"Memangnya ada apa Ray?" tanyaku.
"Saya akan menikah Tuput, ditempat nenek saya, dan kemungkinan besar saya akan tinggal di sana." jelasnya.
"Menikah, apakah kau sedang tidak bercanda?" tanyaku tak percaya.
"Iya Tuput." jawabnya tegas.
"Tapi mengapa secepat ini, setahuku kau kan tidak memiliki kekasih." ucapku masih tidak percaya bahwa dia akan menikah.
"Nenek saya yang memilihkan calon untuk saya, karena nenek ingin saya tinggal bersama beliau." jelasnya.
"Memangnya dimana rumah nenekmu Ray?" tanyaku.
"Sangat jauh dari kota ini Tuput, nenek tinggal di desa." jawabnya.
"Benarkah, lalu kapan kamu akan pergi ke rumah nenek?" tanyaku lagi.
"Besok, jadi hari ini hari terakhir saya bekerja. Maaf jika terlalu mendadak, karena nenek saya pun malam tadi baru mengabari." ucapnya dengan raut wajah tegang.
Dengan berat hati aku mengiyakan keinginan Rayen. Apapun itu, keinginan keluarga apalagi orang tua, harus kita penuhi selagi kita mampu.
"Baiklah Ray jika itu sudah menjadi pilihanmu, aku mengizinkan kamu pergi." ucapku dengan tersenyum.
"Terimakasih Tuput, jaga diri Tuput dengan baik ya, nanti jika ada waktu, saya akan kesini untuk mengenalkan istri saya kepada Tuput dan Nyonya mama." ucapnya.
__ADS_1
"Iya Ray, tapi maaf, mungkin aku tak bisa hadir di acara pernikahanmu." ucapku kepadanya.
"Tak apa Tuput, karena jaraknya jauh, juga pasti pekerjaan di restoran akan tidak terurus jika Tuput menghadiri pernikahan saya, karena memakan waktu yang lama jika ingin sampai di rumah nenek saya. Lagipula tidak ada resepsi, hanya pernikahan biasa Tuput." jelas Rayen.