Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 50


__ADS_3

# Pov Arka


Pagi itu aku menjemput sahabatku, Si tuan putri. Setiap hari kami memang selalu berangkat kesekolah berdua, dan hampir setiap pagi juga aku membangunkan dia dari tidurnya. Aku tak mengerti apa yang selalu dia lakukan dimalam hari hingga membuatnya susah untuk bangun pagi. Sedangkan aku, tak pernah sekali pun terlambat bangun atau pun terlambat mengerjakan tugas-tugasku.


Jika ada penghargaan untuk orang termalas sedunia, mungkin Cina lah juara utamanya. Tapi meskipun begitu, aku sangat menyayanginya.


Setelah membangunkan Si tuan putri, aku kembali kebawah untuk menemani Ernan yang sedang sarapan.


Ketika Cina akan memulai ritual sarapan, dengan sengaja aku mengajaknya untuk berangkat, yang jelas saja wajahnya menjadi cemberut, aku sangat gemas melihatnya yang seperti itu.


Dan setelah perdebatan itu, akhirnya kami berangkat kesekolah. Disekolah aku menjalani aktifitas seperti biasa, tidak sombong tapi aku ini adalah salah satu murid berprestasi disekolah, tapi itu tak terlalu mengesankan menurutku.


Siang hari ketika aku dan Cina berada dikantin, ada perempuan bernama Cindy menghampiri kami, aku tahu dia sengaja mencari perhatianku, aku juga tahu jika dia menginginkan aku untuk menjadi pacarnya, tapi aku tak berminat. Aku selalu risih jika ada perempuan yang mengejar-ngejar untuk bisa dekat denganku, tapi itu tidak berlaku untuk Si Cina ku, aku bahkan sangat senang jika dia mau menempel padaku, sayangnya Cina bukan tipe perempuan seperti itu.

__ADS_1


Sepulang dari sekolah aku menuruti keinginan Cina untuk pergi ke mall, aku yakin dia ingin kesana hanya untuk membeli serangkaian alat make up, baju atau hanya sekedar makan, karena memang begitu kebiasaannya. Tapi dia beralasan ingin membeli buku, aku pun hanya mengikuti keinginannya, karena berdebat pun percuma.


Setelah selesai membeli apa yang diinginkan Cina, aku mengantar Cina pulang kerumah.


Malam hari setelah aku selesai makan, aku kembali kekamar, namun seperti biasa aku merasa rindu terhadap Cina ku itu, aku baru teringat jika Cina mengajakku untuk belajar bersama dirumahnya. Tanpa berpikir panjang aku menyabet jaket yang berada diatas kursi, lalu menuju rumah Cina.


Ketika berada didepan pagar, om satpam langsung membukakan pagar agar aku bisa masuk. Sesampainya didepan pintu, aku mengetuk pintu dengan pelan. Tak lama pintu terbuka dan terlihat mbo Lilis berdiri.


Terdengar suara yang sangat aku kenali menanyakan siapa yang datang kepada mbo Lilis.


Aku ijin kepada om dan tante untuk menyusul Citra kekamarnya, setelah disetujui akhirnya aku naik keatas.


Tanpa mengetuk pintu, aku langsung membukanya. Cina terlihat kaget, namun justru itu yang kuharapkan. Aku bergegas masuk dan mengambil sebuah novel yang sedang dia pegang. Itulah dia, bukannya belajar justru malah senang membaca atau menonton kisah-kisah romantis.

__ADS_1


Dia merengek padaku untuk mengembalikan novel itu, namun aku dengan sengaja justru mengerjainya. Karena Cina yang tidak mau diam dan melompat-lompat mencoba mengambil novel, akhirnya dia terpeleset dan menyebabkan kami berdua terjatuh. Cina menindih tubuhku, kami sangat dekat hingga aku bisa merasakan aroma wangi dari tubuhnya. Karena terbawa suasana dan memang saat seperti yang selalu aku bayangkan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibir Cina, awalnya aku ragu, namun karena tidak ada penolakan darinya, akhirnya aku mulai meny*sap bibir mungilnya itu, manis, wangi dan membuat darah ditubuhku memanas.


Tapi saat aku mulai terpacu dengan gairah, ada suara ketukan pintu yang membuat aku dengan terpaksa menghentikan permainan yang baru saja ku mulai. Aku melihat rona merah dipipinya, mungkin dia malu karena ini kali pertama kejadian ini terjadi antara kami.


Setelah mbo Lilis keluar dari kamar, aku melihat kearahnya yang hanya terdiam sejak tadi, aku berpikir apakah mungkin dia marah. Aku pun meminta maaf atas kelakuanku yang mungkin membuatnya tidak nyaman. Jawaban singkat darinya yang membuat aku berpikir dia pasti marah padaku.


Kurang ajar sekali kamu Arka, karena nafsu bodohmu membuat Cina menjadi dingin padamu. Aku mengatakan pada diri sendiri didalam hati.


Cukup lama kami terdiam, tak tahu harus berkata dan berbuat apa. Hingga aku memutuskan untuk pulang karena terlalu bingung harus berkata apalagi padanya.


Sampai dilantai bawah, aku berpamitan pada om dan tante, lalu pulang kerumah.


Pagi hari saat akan berangkat menjemput Cina, aku mengalami kebingungan. Aku takut untuk bertemu dengannya, tak siap menghadapi sikap dinginnya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tak menjemputnya dan langsung menuju kesekolah sendirian. Mungkin dia perlu waktu untuk sendiri, pikirku.

__ADS_1


Hingga jam pelajaran hampir dimulai, aku tak melihat Cina berada disekolah, apakah mungkin dia sakit, atau dia tak mau melihatku. Pikiran pikiran itu membuat hatiku tak karuan.


Hingga pada saat aku melihat kearah kelasnya, aku melihat dia berada didepan pintu kelas. Saat aku memperhatikannya, dia pun melihat kearahku, karena terkejut, aku lalu mengalihkan pandangan pada teman-temanku.


__ADS_2