Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MSS >> Bagian Dua


__ADS_3

"Astaga Aby!! Lo ngagetin gue ****." kesal Davara membuat Abyza menyunggingkan senyuman tidak bersalah nya.


"Salah gue?"


"Yaiyalah, lo main nongol aja lagian. Kalau gue jantungan, bisa-bisa lo dipenjara karena ngebuat anak orang mati mendadak."


"Lebay, lo nya aja yang ngelamun sampe nggak nyadar gue hadir. Makanya jangan mentang-mentang punya otak, terus lo gunain buat mikirin apapun sampe bikin otak lo error gitu."


"Otak gue error?" tanya Davara menganga tidak percaya. Abyza mengangguk sembari tersenyum mengejek. "Sana pergi, bikin darah gue naik tinggi aja." Mendorong bahu Abyza menjauh.


"Biasa aja mak lampir. Lagian gak lo suruh juga gue mah emang mau pergi, nyamperin si Farah sebelum bel masuk berbunyi." tutur Abyza tanpa tahu seseorang terluka mendengar penuturan nya.


"Yaudah sana ke tempat cacing kepanasan itu." ucap Davara ketus.


"Oke, bye."


Davara melongo, melihat kepergian Abyza dengan marah, tapi ia tidak berhak untuk marah bukan? Memang ia siapanya Abyza? Ia sangat tahu dimana posisinya bagi Abyza. Tapu apakah Tuhan tidak menciptakan kepekaan untuk seorang Abyzasena Gavinski.


"Apa dia seengak peka itu?" gumamnya lirih.


"Tuhan, kenapa harus jatuhin rasa gue ke orang yang nggak peduli macam Aby sih? Risiko nya berat, tapi gue gak bisa berenti suka dia. Arghh, sialan!"


Itu benar. Sudah berulang kali Davara mencoba mengeyahkan rasanya. Menimbun dalam rasa suka kepada teman yang menemaninya dari kecil itu. Namun, bagaimana pun cara nya, pada akhirnya usaha melupakannya akan sia-sia.


Dan untuk menarik perhatian lelaki itu, bukan lah hal yang mudah. Bukan karena ia tidak mampu, bahkan ia tidak pernah mencoba untuk menarik perhatian Abyza. Namun, karena ia tidak ingin nanti jika usahanya gagal, hubungan mereka berantakan.

__ADS_1


Alhasil, ia hanya menyimpan rasanya sendirian tanpa berbagi cerita kepada orang lain, termasuk kepada Anne dan Leo.


Mereka. Davara, Anne, Leo, Abyza sudah sangat lama berteman. Hubungan mereka sudah bisa dikatakan sahabatan bukan?


Mereka tinggal di lingkungan perumahan yang sama, sekolah yang sama, tempat permainan sama. Dari kecil mereka sudah sering kemana-mana bersama. Tertawa, menangis bersama. Entah sejak kapan, rasa baru itu muncul dalam hati Davara untuk Abyza. Bukan hanya mereka berdua, bahkan rasa baru juga muncul dalam hati Anne untuk Leo. Entah lah, kedua gadis itu hanya berharap hubungan mereka berempat tidak akan menjadi rumit karena perasaan pribadi mereka.



Menelusuri gang sempit yang lumayan sepi jika sore hari, keempat bersahabat itu dengan sengaja memperlambat laju kaki mereka.


Jarak antara sekolahan dan komplek perumahan mereka tidak begitu jauh, hanya memerlukan waktu sekitar setengah jam jalan kali jika berjalan dengan normal. Namun, jika kecepatan langkah menyamai siput seperti mereka, butuh waktu lebih lama dari waktu normalnya.


"Mampir ke warung dulu gak?" tanya Leo menunjuk sebuah warung depan gang.


"Nggak ngabisin waktu lagi. Gue udah rindu kasur pengin segera melepas rindu." jawab Anne membuat yang mendengar serasa ingin mengeluarkan ayat-ayat ruqiyah. iya, untuk meruqiyah Anne, gang sempit juga sepi berkemungkinan ada penunggunya siapa tau si 'dia' naksir sama Anne terus nempelin kan nggak bisa dibiarin.


"Tumben lo punya rasa empati terhadap sesama." celetuk Anne. Davara tertawa keras, di antara mereka Davara lah yang paling susah untuk menahan senyuman terlebih tertawaan.


"Kayak lo kan Anne?" ucapan Abyza begitu terdengar mejebalkan di rungu Anne, kontan saja ia menginjakan kaki Abyza yang terlindungi oleh sepatu. Coba saja kalau pemuda itu tidak memakai sepatu, mungkin sekarang sudah terdengar suara pekikan yang luar biasa memekakan telinga.


Davara semakin tergelak ditemani gelak yang berasal dari Leo.


"Udah dong ngelucu nya, perut gue sakit."


"****, siapa yang lagi ngelucu? Coba deh bedain yang mana ngelucu yang mana bukan. Lo bukan bayi lagi Ara." Anne yang semakin kesal, membuat Davara dan Leo yang tadinya sudah berhenti tertawa kembali mentertawakan gadis bermata sipit itu.

__ADS_1


"Tapi muka dia kayak bayi, gak kayak lo yang mirip nini-nini(nenek-nenek)"


Rasanya Davara baru saja dilambungkan, padahal yang di ucapkan Abyza biasa-biasa saja. Tapi, kenapa efek nya maha dahsyat bagi hatinya didalam sana. Pipinya beresemu, ia berdehem untuk menormalkan degupan jantung nya dan menyembunyikan sikap salah tingkah nya.


Anne memberenggut. "Kayak muka lo cakep aja By, muka kayak sampah aja belagu."


"Anak gadis nggak boleh bicara kasar sama anak cowok, nggak baik nanti di sumpah jadi kenyataan gimana. Bahaya."


"Bodo amat, nggak peduli."


"Udah sih nggak perlu dilanjut, gue pengin makan. Mampir dulu ya." sela Leo.


"Yaudah dari pada induk cacing mati kelaparan, kita ikut nemenin asal lo traktir gimana Le?" Anne bersorak senang, sangat amat sangat menhetujui usulan Davara.


"Pokonya kalau lo nggak teraktir, kita nggak mau mampir. Lo aja sendiri." Anne sangat bersemangat ingin membuat Leo sengsara rupanya.


"Gue gak punya duit gede elah."


"Terserah sih, kalau mau aja."


"Yaudah deh gak u—"


"Lama jadi makan nggak nih? Gue yang teraktir." seru Abyza yang ternyata sudah berjalan terlebih dahulu menuju ke warung makan.


Davara, Anne, Leo tentu saja bersorak gembira. Kapan lagi mereka makan gratis dan perlu kalian tahu. Makanan di warung makan depan gang menuju komplek perumahan mereka itu cukup...mengenyangkan.

__ADS_1



Yang penting kita bersama, hal yang sederhana pun terasa bermakna.


__ADS_2