
Beberapa minggu berlalu sejak kembalinya Arka ke Belanda.
Ditengah kegundahan hati memikirkan isi surat dari Arka, Riza kembali hadir didalam hidupku, dia datang bak malaikat yang membawa setumpuk kasih sayang untukku. Tak henti-hentinya dia berkata ingin menjalin hubungan yang serius denganku, namun aku selalu menolak dengan alasan yang masih tak ingin berkomitmen. Tapi bukan Riza namanya jika berhenti untuk berjuang, dia tetap mengejar dan memberikan perhatian kepadaku, berharap aku akan luluh.
Pagi ini, saat aku sedang berada di restoran, tiba-tiba Riza datang membawakan makan siang untukku, padahal dia tahu aku memiliki restoran, otomatis aku tidak akan kelaparan.
"Makan dulu Cit, nanti disambung lagi kerjaannya." ucap Riza ketika sampai di ruangan ku.
"Iya sebentar lagi, tanggung." jawabku dengan mata yang tetap mengarah ke laptop.
"Makan sebentar saja, habis itu langsung kerja lagi, yuk!" ajaknya, dengan mengelus pucuk kepalaku.
Akhirnya aku menuruti keinginannya, kami berdua duduk di sofa yang masih berada di ruangan ku.
"Kamu kan sibuk, kenapa malah kesini?" tanyaku dengan mulai menyuap nasi goreng seafood, rupanya dia masih ingat dengan makanan kesukaanku.
"Pekerjaanku bisa diurus sekretaris, yang terpenting ngurusin kamu dulu, biar nggak sakit karena sering menunda-nunda untuk makan." jawabnya dengan memencet hidungku.
Kami menghabiskan makanan berdua, dengan bercerita tentang pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Riza berpamitan untuk kembali kekantor karena ada pekerjaan yang harus diurus.
Sebenarnya Riza adalah sosok yang hampir sempurna untuk seukuran manusia, namun entah mengapa aku tak pernah bisa mencintainya. Justru aku terjebak oleh cinta sahabatku sendiri, aku merasa jatuh terlalu dalam, hingga tak bisa keluar lagi. Padahal aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk berhenti mencintainya, namun setiap kali aku berusaha, dia justru kembali datang di hadapanku.
Bahkan semenjak dia kembali ke Belanda, dia tak memberiku kabar atau menanyakan kabarku. Lagi lagi aku hanya bisa melihatnya lewat sosial media.
Sudah cukup lama aku tak ke rumah om Han dan tante Mei, entah bagaimana kabar mereka. Sepulang dari restoran nanti, aku berniat mengunjungi mereka, semoga saja mereka berada di rumah.
"Kak Sar, aku pulang duluan ya," pamit ku kepada kak Sari yang sedang berbicara pada karyawan.
"Oh oke Cit, hati-hati ya!" ucapnya dengan melambaikan tangan.
Aku berhenti sejenak ketika sampai dipinggir jalan tepat didepan pagar, aku kembali teringat dengan kenangan itu, aku kembali teringat dengan almarhum papa, aku kembali teringat dengan Arka yang sering kesini, aku teringat dengan aku dan Arka yang setiap hari melewati pagar ini ketika akan berangkat dan pulang dari sekolah.
Tanpa terasa air mata menggenang di pelupuk mata, kenangan indah yang tak mungkin bisa diulang kembali. Papa yang sudah tenang di sana, Arka yang sudah tak lagi seperti dulu.
Keadaan sangat cepat bisa berubah, kita harus menikmati dan mensyukuri setiap kejadian yang terjadi dalam hidup kita.
Aku kembali menjalankan mobil menuju rumah tante Mei. Saat sampai didepan pagar, security datang menghampiri aku dan mengatakan bahwa orang rumah sedang tidak ada, karena sedang ke Belanda menjenguk Arka dan Rika.
__ADS_1
Dengan kecewa aku pergi dari rumah itu. Aku memutuskan untuk mampir ke rumah Raya yang masih satu komplek dengan rumah tante Mei.
Di rumah Raya, hanya ada mamanya dan ART, sedangkan papa Raya sedang keluar bersama teman lamanya. Kata mamanya Raya, Raya sekarang tinggal di rumah Putra, dan kemungkinan akan keluar negeri bersama Putra, karena Putra mengurus perusahaan yang ada di sana.
Cukup lama aku berada di rumah Raya, akhirnya aku berpamitan untuk pulang karena hari sudah malam.
Ketika aku tiba di rumah, sudah ada Riza yang duduk didepan rumah. Aku turun dari mobil dan menghampirinya.
"Riza, sudah lama disini?" tanyaku.
"Tidak, baru saja sampai. Kamu dari mana Cit, kok baru pulang?" tanyanya dengan berdiri dari duduknya.
Aku mengajak Riza masuk kedalam rumah. Sebenarnya aku lelah dan ingin beristirahat, namun aku juga tak enak jika meninggalkan Riza.
Saat Riza sedang berbicara dengan mama, aku izin ke kamar untuk membersihkan diri. Sesampainya di kamar, aku menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur. Tak sadar aku tertidur hingga mama mengetuk pintu, dan berkata jika Riza ingin pulang.
"Maaf, aku ketiduran." ucapku ketika kembali ke ruang tamu dengan pakaian yang masih sama.
"Tidak apa-apa Cit, kamu pasti lelah. Lebih baik kamu mandi, makan, lalu beristirahat." ucap Riza.
__ADS_1
Selesai berpamitan, aku mengantarkan Riza sampai didepan pintu. Setelah Riza pergi, aku kembali masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, lalu kembali tidur tanpa makan malam terlebih dulu.