
Aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah ketika selesai menemani Raya. Saat aku memasuki rumah, tercium aroma masakan yang membuat perutku semakin meminta untuk diisi, dengan cepat aku berjalan menuju dapur. Aku melihat mbok Lilis sedang sibuk memasak.
"Mbok, apakah masih lama selesainya?" tanyaku.
"Eh non Citra, mengagetkan mbok saja, hehe. Ini non sebentar lagi sudah mateng kok." ucap mbok Lilis
Aku hanya tertawa mendengarnya, padahal bukan maksudku mengagetkan beliau. Lalu aku menunggu dimeja makan.
Kulihat Ernan berjalan mendekat kearah ku, "Nih, dari kak Arka," ucapnya dengan menyodorkan ponsel.
Aku sempat bingung, mengapa dia menghubungi Ernan, jika ada urusan denganku, harusnya dia bisa langsung menghubungiku. Aku menerima ponsel Ernan lalu kubawa pergi ke kamar.
Percakapan ditelpon.
"Halo, ada apa Ar?"
"Apa kabar Cin?" tanya nya
"Baik, kamu?" aku balik bertanya.
"Baik, bahkan lebih baik sekarang." jawabnya
"Mengapa harus menelpon ke nomor Ernan?" tanyaku lagi.
"Oh itu, tadi...
Apa masih lama? Aku sudah bosan.
Belum sempat Arka menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sambungan terputus setelah aku mendengar suara wanita itu.
Aku membuang nafas dengan kasar, apa maksud dia menghubungi aku, hanya untuk bertanya kabar, atau hanya untuk memberitahu bahwa kabarnya jauh lebih baik sekarang setelah pergi ke Belanda bersama Rika.
Dengan kesal aku kembali ke meja makan, mengembalikan ponsel Ernan lalu duduk kembali di kursi.
"Nan, mengapa Arab menelpon kamu tadi?" tanyaku kepada Ernan yang sedang menikmati makanannya.
"Membahas soal game!" jawabnya.
__ADS_1
Aku merasa semakin kesal setelah tau alasan dia menanyakan kabarku lewat ponsel Ernan, mungkin jika tak membahas game, dia tidak mungkin menanyakan kabarku.
......................
Sebulan, dua bulan, hingga tiga bulan telah berlalu, hari ini Raya dan Putra akan menikah. Dan saat pagi buta, aku sudah disibukkan dengan segala keperluan Raya, bukan hanya aku, tetapi Cindy juga. Bahkan untuk mengurus keperluanku saja pun aku tak sempat.
Acara pernikahan dan resepsi digelar di hotel, jadi sejak kemarin sore kami sudah berada di hotel. Ijab Qobul akan dilangsungkan pagi jam 09.00 nanti, sedangkan resepsinya akan dimulai pada malam hari.
Tepat pukul 08.30 Raya akhirnya siap, dengan diwarnai drama Raya yang takut terlihat tidak cantik, takut ini dan itu. Dia menggunakan kebaya modern berwarna putih tulang dengan rok batik hitam bercorak untuk dipakai saat Ijab Qobul. Dia sangat cantik dengan make up sederhana yang terlihat natural. Sedangkan aku dan Cindy memakai kebaya berwarna coksu dengan rok batik yang coraknya hampir mirip dengan yang dipakai Raya.
Saat kami sedang bercanda didalam kamar yang ditempati pengantin, mama Raya masuk memberitahu bahwa keluarga Putra sudah datang. Akhirnya kami semua menuju tempat Ijab Qobul. Padahal bukan aku yang akan menikah, tapi aku merasa gugup.
Acara Ijab Qobul diadakan diruang terbuka, tepat di atap hotel berlantai 20 itu. Setelah sampai, sudah berkumpul banyak orang di sana, kebanyakan dari mereka adalah keluarga, karena memang hanya keluarga dan beberapa tetangga yang diundang saat acara pernikahan. Tangan Raya semakin dingin saat aku memegangi dia.
"Jangan sampai pingsan Ray, nanti nggak jadi malam pertama, repot deh aku nggak jadi ngintip." celetuk Cindy
"Ngapain pakai acara ngintip Cin, kita ikut aja masuk kedalam kamar mereka." ucapku dengan tertawa, menghilangkan ketegangan pada Raya.
"Apa sih, aku nggak mau ya kalo sampai ada yang ganggu, apalagi kalian berdua!" ucap Raya dengan cemberut.
Aku dan Cindy tertawa, lalu mengantarkan Raya untuk duduk didepan om Iyan. Karena yang akan menikahkan Raya adalah om Iyan, papanya.
"Yang kuat sayang, jangan memikirkan hal macam-macam." bisik mama yang duduk di sampingku dengan mengusap air mata di pipiku.
Sah........
Ucap semua orang yang berada di sana, akhirnya Raya resmi menjadi istri orang, resmi menjadi nyonya Putra. Lalu pak penghulu membaca do'a, dan selanjutnya acara makan makan untuk semua tamu, sedangkan kami sibuk mengabadikan momen bersama.
Siang hari, Raya kembali ke kamarnya. Tentunya sekarang tidak lagi bersama aku dan Cindy, melainkan bersama dengan suaminya. Dia harus beristirahat agar nanti malam kuat untuk berdiri saat resepsi.
Sedangkan aku dan Cindy kembali ke kamar masing-masing, untuk beristirahat juga karena merasa lelah.
Baru saja aku terlelap, tapi saat aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Akhirnya dengan rasa malas aku menuju kamar mandi lalu membersihkan diri. Saat aku sudah selesai, Cindy datang untuk mengajakku ke kamar Raya.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya Putra membukakan pintu kamar.
"Ngapain sih kalian, lama banget bukain nya. Jangan-jangan..." ucap Cindy saat pintu terbuka, lalu masuk kedalam.
__ADS_1
"Baru bangun." jawab Putra dari belakang mengikuti langkah Cindy.
Beberapa jam berlalu, Raya sedang dihias oleh dua orang perias terkenal di kota ini.
Tepat pada jam 20.00 Raya sudah siap dengan balutan gaun berhias permata berwarna maroon, dengan mahkota di atas kepala. Sedangkan Putra memakai tuxedo hitam. Keduanya terlihat begitu cocok dan serasi.
Acara pun dimulai, tamu mulai berdatangan, dari tamu undangan dari om Iyan, sampai tamu dari kedua mempelai. Aku, Cindy dan Fandy sedang duduk menikmati minuman dengan melihat pengantin yang sibuk bersalaman dengan para tamu.
"Boleh ikut gabung?" tanya seseorang dari belakangku.
Sontak kami bertiga langsung menoleh ke sumber suara. Betapa kagetnya aku saat melihat dia. Arka berada tepat dibelakang ku, dengan Rika yang menempel disampingnya. Aku sempat tak percaya dia ada disini, sebab Raya berkata jika Arka tidak bisa datang karena sibuk. Dan aku pun tak menanyakan langsung kepada Arka karena sejak saat Arka menanyakan kabarku lewat ponsel Ernan, kami tak pernah berhubungan lagi.
Fandy mempersilahkan mereka berdua untuk duduk, dan mereka berbincang bincang, sedangkan aku diam tak tahu harus bersikap bagaimana.
Aku sudah berusaha membuang rasa cintaku terhadap Arka selama dia tidak ada, namun semuanya hancur saat melihat Arka berada di hadapanku saat ini. Hatiku menjadi tak karuan, gelisah, gugup, dan takut bercampur menjadi satu. Untuk sesaat pandangan mata kami bertemu, namun Rika segera mengalihkan perhatian dan pandangan Arka kepadanya. Karena merasa sudah sangat sesak di dada, aku memutuskan untuk ke toilet.
"Cin, aku ke toilet dulu ya!" ucapku kepada Cindy.
"Mau aku antar Cit?" Cindy menawarkan.
"Tidak perlu, aku sendiri saja." jawabku
lalu aku pergi menjauh dari mereka, saat sampai di toilet, aku mulai meneteskan air mata, entah untuk apa, namun aku sangat ingin sekali menangis.
Cukup lama aku berada didalam, dan pada saat aku keluar, aku melihat Rika sedang bercermin membelakangi aku.
"Apa kabar Citra? Apa masih terluka?" tanya nya dengan angkuh.
Awalnya aku tak mau menghiraukan, aku berniat pergi keluar dari sana, namun Rika kembali berucap.
"Sepertinya lo belum bisa move on ya, kasihan. Padahal gue dan Arka sudah sangat bahagia. Gue jadi nggak tega melihatnya." ucapnya lagi dengan nada mengejek.
******
Hasil kebangun tengah malam nih, bisa setor satu episode 😊
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote nya kakak, biar author semangat lanjutin nulisnya 🙏
__ADS_1
Aku sayang kelen ❤