Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 24


__ADS_3

Ketika mobil sampai di rumah, sudah ada Raya dan keluarganya yang menunggu kedatangan kami, termasuk Kak Riza. Rupanya Kak Sari yang mengabari Om Iyan jika kami semua akan pulang.


Setelah aku turun, Raya mendekat dan langsung memelukku, aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya.


"Sabar Cit, semua yang di Ciptakan-Nya pasti akan kembali pada-Nya" ucap Raya.


Sedangkan Kak Riza, dia tidak henti-hentinya berucap agar aku tetap kuat dan tegar menghadapi semua ini. Bahkan dia masih bisa bersikap sebaik ini, padahal aku sudah menyakiti perasaan dan hatinya.


Aku tidak melihat Arka, kemana dia? Tidak mungkin dia tidak tau kabar duka ini. Apakah dia tidak perduli lagi denganku?


Apakah dia muak denganku.


Sebab semenjak aku menjauhinya, aku tidak pernah membalas pesan-pesan darinya, aku tidak pernah menerima panggilan dan jika dia ke rumah, aku selalu beralasan ingin sendiri dulu. Apa mungkin dia bosan menungguku?


Keluarga besar satu persatu mulai berdatangan. Papa akan di makamkan besok pagi, karena kemungkinan malam ini Ernan baru tiba di rumah.


Pagi jam 08.00 Jenazah Papa sudah sampai di Pemakaman Umum. Saat proses pemakaman, Mama sudah mulai terlihat lebih tenang dari pada tadi malam, namun Mama tetap tak henti-hentinya menangis.


Bahkan Arka tidak datang mengantarkan Papa ke peristirahatan yang terakhir, aku benar-benar tidak tau dia ada di mana, kata Raya rumah Arka sepi tidak terlihat ada Orang sama sekali.


Setelah selesai mendo'akan Papa, kami semua pulang ke rumah. Keluarga dari jauh pun mulai mengemasi barang-barang karena akan pulang ke rumah masing-masing.


Malam hari..

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin sekali menghubungi Arka, tapi aku tidak punya nyali. Aku takut dia akan mengabaikan ku seperti saat kemarin aku mengabaikannya.


"Cit, apa kamu mau aku yang menghubungi Arka?" tanya Cindy, malam ini Raya dan Cindy tidur di rumahku.


"Tidak Cin, biar aja, mungkin dia lagi sibuk." Ucapku.


Beberapa hari setelah kepergian Papa, suasana rumah tak lagi sama. Ernan yang akan kembali ke LA bersama Opa dan Oma untuk melanjutkan studi nya, Mama yang sampai saat ini pendiam dan masih mengunci diri di kamar, bahkan untuk makan pun makanan harus diantar ke kamar, Arka yang sampai sekarang tidak tau berada di mana.


Pagi ini aku memutuskan untuk ke Restoran, karena bagaimanapun hanya itu sumber penghasilan keluarga kami. Aku tidak bisa lagi bergantung pada siapapun, akulah yang harus membiayai kehidupan keluargaku.


Karena kesibukanku mengurus Restoran, aku jadi jarang ada waktu untuk sekedar bersantai atau makan di luar dengan teman-temanku. Bahkan untuk kuliah pun dalam seminggu aku hanya masuk tiga hari saja. Waktuku hanya ku habiskan di Restoran dan di rumah untuk menjaga Mama.


Beruntungnya aku memiliki teman yang mengerti dengan keadaanku, Raya dan Cindy sering mengunjungi aku ke rumah.


"Iya Cit, hati-hati ya!" ucap Kak Sari.


Saat diperjalanan, aku melewati warung mie ayam yang dulu sewaktu SMA aku dan Arka sering makan di sana.


Tanpa berpikir aku berbelok dan berhenti di depan warung itu. Saat aku masuk, Mang Amin Si pemilik warung menghampiriku dan bertanya bagaimana kabarku, aku senang beliau masih ingat denganku.


Aku memesan satu porsi mie ayam dan minuman kesukaanku di warung itu, yaitu es jeruk. Saat makanan dan minuman datang, sekilas aku teringat dengan Arka, dengan ucapan Arka yang kadang nyeleneh. Aku tersenyum, jujur aku rindu masa-masa itu.


Aku menitikkan air mata saat mengingatnya, yang mungkin sudah tidak akan bisa terulang lagi, bahkan sekarang aku pun tidak tau Arka berada di mana.

__ADS_1


Mang Amin duduk di hadapanku, dan bertanya kenapa hanya sendiri, kenapa Mas Arab tidak ikut? Aku tersenyum mendengarnya, Mang Amin masih ingat saja panggilanku kepada Arka.


Aku menjawab Arka sibuk kuliah sekarang, itu yang membuat kami jarang bertemu, tidak seperti dulu.


Mang Amin bercerita, beberapa bulan yang lalu Arka pernah kesini bersama dengan perempuan dan kemungkinan itu pacarnya, Mang Amin tidak berani menanyakan kabarku kepada Arka karena takut perempuan itu salah paham. Ucap Mang Amin.


Arka kesini bersama Rika, mengapa dia tidak pernah mengajakku.


Setelah menghabiskan makanan, aku membayar dan berpamitan kepada Mang Amin.


Sesampainya aku di rumah, saat aku membuka pintu, terdengar suara Mbok Lilis berteriak memanggil-manggil namaku. Dengan cepat aku mencari keberadaannya, kulihat pintu kamar Mama terbuka, aku langsung masuk kedalam.


Aku terkejut saat melihat Mbok Lilis memegangi tangan Mama yang sedang memegang pisau. Aku mencoba mendekati Mama dan mengambil pisau itu, namun cengkraman Mama begitu kuat.


"Mama, lepas ya Ma pisaunya," ucapku lembut.


Aku memeluk Mama yang mulai melemah dan segera mengambil pisau dari tangannya. Ini pertama kalinya Mama melakukan hal ini, aku sangat takut mengapa Mama menjadi seperti ini.


Berangsur-angsur Mama mulai tenang, aku menyuapi Mama dengan telaten, setelah selesai makan, Mama berbaring dan memejamkan Mata. Aku menemani Mama sampai beliau benar-benar tertidur.


Setelah kurasa Mama sudah tertidur, aku keluar dan menuju ke dapur di tempat Mbok Lilis berada. Aku mencuci piring, dan bertanya pada Mbok Lilis yang sedang menyiapkan makan malam.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Mama tadi Mbok?" tanyaku.

__ADS_1


__ADS_2