Mencintai Sahabat Sendiri

Mencintai Sahabat Sendiri
MenSahSen Episode 40


__ADS_3

Aku menjalani hari-hari seperti biasa, saat siang aku sibuk dengan restoran, saat malam aku sibuk terbayang-bayang dengan Arka. Aku sempat mencoba menghubunginya, namun bukan suara Arka yang kudengar, melainkan Rika, dan lagi-lagi penghinaan yang kudapatkan darinya.


Sedangkan Riza, masih tetap bersikeras untuk meluluhkan hatiku, namun hasilnya sama saja, aku tak bisa mencintainya.


Siang hari di cafe.


"Cit, cobalah untuk membuka hatimu sedikit saja untukku." ucap Riza dengan wajah memelas dan tangan yang menggenggam tanganku.


"Maaf Za, aku sudah mencoba, namun aku tetap tidak bisa. Sekarang sudah saatnya kamu mencari seseorang yang bisa mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus." ucapku dengan pelan melepas genggaman tangan Riza.


"Sudah selama ini, tapi kamu masih tetap tidak bisa menerimaku Cit, apa masalahnya, apa kurang ku?" tanya Riza.


Aku menghirup nafas dalam-dalam.


"Tidak ada, hanya saja aku memang tidak bisa." jawabku dengan tertunduk.


"Kamu tidak pernah bisa menerimaku karena Arka kan Cit?" tanyanya dengan memicingkan mata.


"Maksud kamu apa?" tanyaku panik karena Riza tahu tentang perasaanku kepada Arka.


"Tidak perlu ditutup-tutupi lagi Citra, aku tahu sejak dulu jika kau mencintai Arka, sahabatmu itu." ucapnya dengan nada tak bersahabat.


"Maaf, tapi aku tak bisa membohongi perasaanku, Za." ucapku dengan masih tertunduk.


"Sadar Citra, sadar. Dia itu sudah memiliki kekasih, sejak dulu kau pun tahu itu!" ucap Riza dengan nada yang mulai meninggi, sehingga para orang yang berada di cafe itu mulai melihat kearah kami.


Aku meneteskan air mata, kata-kata Riza bagaikan tamparan keras untukku. Benar ucapannya, memang Arka sudah memiliki kekasih, dan aku pun tahu hal itu sejak dulu, namun aku yang bodoh ini masih saja mencintainya.


"Maafkan aku, Za." ucapku pelan, lalu keluar dari cafe.

__ADS_1


Aku menghentikan taksi yang lewat di depan cafe. Diperjalanan, tak henti-hentinya aku menangis dan merutuki kebodohan ku. Bagaimana bisa aku masih mencintai Arka yang jelas-jelas sudah bahagia dengan kekasihnya, dan dengan bodohnya aku menyia-nyiakan seseorang yang sejak dulu selalu ada menemaniku.


......................


3 tahun berlalu.


Aku mendengar kabar jika Arka sudah menyelesaikan S2 nya, namun aku tak tahu kabar pastinya.


Pagi ini aku dan mama sibuk memasak, karena sekarang mbok Lilis sudah tidak bekerja di rumah kami.


"Dua malaikat sedang sibuk nih kelihatannya." ucap seseorang yang mengagetkan aku dan mama.


"Mending bantuin deh!" ucapku dengan tangan tetap memainkan pisau untuk memotong sosis.


"Oh iya kak, apa kakak tahu jika kak Arka sudah kembali ke Indonesia?" tanya Ernan dengan berjalan menuju kearah ku, berdiri diantara aku dan mama.


"Sepertinya sudah ada yang tidak perduli lagi dengan sahabat masa kecilnya." ucap Ernan dengan menyenggol lenganku.


"Apa si ini orang, pergi aja deh." ucapku.


"Tuh kan ma, memang agak aneh Si Tuan Putri ini, tadi dia sendiri yang menyuruh adiknya untuk membantu, tapi sekarang adiknya malah diusir." ucapnya kepada mama.


"Coba sekali-kali Nayma kamu suruh memeriksa dia Nan, siapa tahu ada masalah karena terlalu lama sendiri." ucap mama menggoda.


Nayma adalah pacar Ernan, dia adalah dokter psikolog.


"Mama sama aja seperti Ernan." ucapku kesal, lalu pergi meninggalkan dapur.


Aku mendengar mama dan Ernan tertawa setelah kepergian ku.

__ADS_1


Mama dan Ernan memang tahu tentang perasaanku kepada Arka, sebab itu mereka sering sekali membuat aku malu.


Saat aku berjalan menuju kamar, terdengar ketukan dari luar pintu. Aku berjalan lalu membukanya. Terlihat laki-laki muda berbadan tegap dan memakai jaz berwarna abu-abu, sedang berdiri di depan pintu.


"Maaf, mau mencari siapa ya?" tanyaku.


"Apa benar, anda nona Citra Ilyas?" tanya laki-laki itu dengan wajah datar.


"Iya, saya sendiri." jawabku.


"Ini, ada undangan untuk anda, nona." ucap laki-laki itu dengan memberikan satu lembar undangan pernikahan.


Aku menerima undangan itu, lalu laki-laki itu pergi meninggalkan rumahku. Tanpa membaca undangan itu, aku bergegas menuju kamar.


Ku taruh undangan itu di atas meja rias, dan aku pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa belas menit, aku keluar dari kamar mandi, lalu memakai pakaian. Tanpa memakai make up atau sekedar menyisir rambut, aku keluar menuju meja makan untuk sarapan.


"Siapa yang datang kak?" tanya Ernan yang sedang menikmati nasi goreng.


"Entahlah, dia hanya memberikan undangan." jawabku dengan mengambil nasi.


"Dari siapa?" tanyanya lagi.


"Entahlah, aku belum membaca undangan itu." jawabku dengan mulai menyuap nasi.


"Mengapa belum membaca?" tanyanya lagi.


"Berhenti bertanya, Ernan!" ucapku, lalu menyuap nasi yang sempat tertunda.


Dia kembali tertawa melihat aku yang sudah mulai naik darah.

__ADS_1


__ADS_2