
Mbok Lilis mulai menceritakan semua padaku. Awalnya Mama memanggil Mbok Lilis untuk membawakan buah beserta pisau untuk mengupas buah ke kamar, Mbok Lilis tidak menduga jika Mama akan melakukan hal buruk, jadi beliau menuruti keinginan Mama. Setelah mengantarkan buah, Mbok Lilis kembali ke dapur mengambilkan makan malam untuk Mama. Tapi saat Beliau membuka pintu kamar beliau kaget melihat Mama yang berusaha menyayat urat nadi tangannya, lalu Mbok Lilis berlari dan berteriak mencoba mengambil pisau dari tangan Mama. Beruntung tangan Mama belum sempat terluka.
Cobaan apalagi ini Tuhan, belum kering luka akibat sepeninggal Papa dan kepergian Arka yang entah kemana, mengapa engkau hadirkan lagi cobaan baru.
Aku memutuskan untuk tidur menemani Mama malam ini, aku takut Mama berbuat nekat lagi. Ku pandangi wajah Mama lekat-lekat, aku seperti tak melihat adanya semangat hidup lagi di wajah itu, mata yang selalu terlihat bengkak akibat menangis sepanjang waktu. Mengapa seperti ini Ma? Mengapa Mama tidak bisa mengikhlaskan kepergian Papa dengan seikhlas-ikhlas nya.
Sekarang yang menjadi prioritasku adalah kesehatan Mama, Ernan selesai sekolah dan meneruskan keperguruan tinggi terbaik. Aku tidak mau berlarut-larut memikirkan keberadaan Arka yang hilang seperti ditelan bumi. Tapi aku terpikir untuk mendatangi rumahnya besok, sekedar ingin mengetahui mungkin untuk yang terakhir kali, karena aku pernah memberanikan diri menghubunginya, namun tidak bisa.
Pagi aku terbangun dan kembali ke kamarku untuk membersihkan diri, sekilas aku berbalik badan melihat Mama, kulihat Mama masih tertidur.
Setelah selesai aku mandi dan mengenakan pakaian lengkap, aku turun menuju dapur untuk melihat apakah Mbok Lilis sudah menyiapkan sarapan.
"Selamat Pagi Mbok" ucapku saat melihat Mbok Lilis sedang meletakkan piring di meja makan.
Aku mengisi piring dengan nasi dan lauk juga sayur, lalu aku menuju kamar Mama. Saat aku masuk, aku melihat Mama tidak ada di atas tempat tidur, aku panik dan meletakkan piring di atas meja lalu mencari Mama. Tapi belum sempat aku membuka mulut untuk memanggil Mama, aku mendengar suara dari dalam kamar mandi, aku bernafas lega, aku berpikir itu pasti Mama.
Cukup lama aku menunggu, akhirnya Mama keluar dari kamar mandi, aku tersenyum melihat Mama yang sedikit lebih fresh dari pada malam tadi. Aku mengambilkan pakaian Mama di dalam lemari, setelah selesai aku menyisir rambut Mama di depan cermin.
"Ma, sarapan dulu, aku suapi ya" ucapku.
Mama mengangguk dan aku mulai menyuapi, Mbok Lilis masuk membawa air putih dan susu di atas nampan.
Setelah selesai dengan tugasku, aku baru sarapan di meja makan. Mungkin ini akan menjadi tugas wajib setiap hari sebelum aku melakukan aktifitas di luar rumah.
Hari ini jadwalku untuk ke Kampus, aku mengendarai mobil dengan pelan menuju Kampus.
Saat bertemu Raya dan Cindy, aku menceritakan kejadian Mama sewaktu di rumah tadi malam. Cindy menyarankan ku untuk membawa Mama ke Psikolog, awalnya aku menolak karena aku berpikir hanya Orang dengan masalah kejiwaan yang dibawa ke sana. Namun, Raya menjelaskan jika banyak orang yang memiliki masalah dan menjadikan orang itu susah tidur atau apalah itu dibawa ketempat itu, tidak semata-mata hanya orang yang memiliki masalah kejiwaan saja.
__ADS_1
Aku memikirkan ucapan Raya, mungkin tidak ada salahnya mendatangkan Psikolog ke rumah, karena tidak memungkinkan jika Mama dibawa keluar rumah dalam kondisi seperti sekarang.
Selesai dengan pelajaran Kampus, aku mengemudikan mobil menuju rumah Arka. Setelah sampai di depan pagar, Pak Satpam menyapaku dan memberitahu jika keluarga Arka tidak sedang berada di rumah.
"Kemana ya Pak? Dan sejak kapan perginya?" tanyaku.
"Sudah sekitar seminggu yang lalu Non, katanya ada urusan tapi saya tidak di beritahu pergi kemana dan sampai kapan." Jawab Pak Satpam
Akhirnya aku pergi dari rumah Arka, sebelumnya aku sudah berpamitan kepada Pak Satpam. Aku pulang ke rumah, pelan aku membuka pintu kamar Mama, aku melihat Mama sedang tidur. Pelan pelan aku menutup pintu kembali dan menuju ke kamarku.
Aku teringat dengan ucapan Raya tadi sewaktu di Kampus, aku menelpon Raya meminta tolong agar mencarikan Psikolog untuk datang ke rumah.
Hari masih cukup siang, lebih baik aku membersihkan diri dan bersiap-siap untuk ke Restoran. Pikirku
Setelah beberapa saat aku sudah siap dan menuruni tangga berniat untuk makan, aku melihat makanan sudah disiapkan oleh Mbok Lilis.
Selesai makan, aku berpamitan kepada Mbok Lilis lalu pergi ke Restoran. Seperti biasa karyawan menyapa dengan ramah, aku balas dengan senyuman, aku menuju ruangan Kak Sari dan mengetuk pintu setelah sampai, setelah ada suara menyuruh masuk, aku membuka pintu dan melihat Kak Sari sedang makan siang.
"Kak, maaf ganggu acara makannya" ucapku tak enak.
"Eh iya tidak apa-apa Cit, kamu sudah makan? Yuk makan bareng!" kata Kak Sari.
Aku menolak karena aku sudah makan, lalu aku permisi untuk pergi keruangan kerja Mama dan Papa yang sekarang menjadi ruangan ku.
Setelah duduk, aku melihat foto Papa dan Mama yang berada di atas meja, aku mengusap foto mereka dengan jariku.
Papa, aku rindu. Apakah Papa tau keadaan Mama sekarang, Mama masih sangat terpukul Pa dengan kepergian Papa. Aku harap Papa tenang ya di sana. Ucapku dengan air mata yang mengalir.
__ADS_1
Aku meletakkan kembali foto itu dan mulai mengecek biaya pengeluaran dan pemasukan Restoran. Meskipun tidak besar, namun Restoran sudah mulai ada kemajuan. Aku bersyukur bisa mengelolanya dengan baik.
Hp ku berdering, rupanya Raya yang memanggil.
"Halo ada apa Ray?" tanyaku setelah menerima panggilan.
"Oh oke, terimakasih ya" ucapku.
Raya memberitahu jika sudah mendapatkan Psikolog dan besok akan datang ke rumah. Syukurlah, semoga keadaan Mama cepat membaik.
Tak lama hp ku berdering kembali..
Kak Riza menelpon menanyakan kabarku dan Mama, memang beberapa hari sekali Kak Riza selalu menanyakan hal itu. Karena kami akhir-akhir ini jarang bertemu sebab jam kelas yang berbeda dan aku jarang berada di Kampus.
Kak Riza, sosok yang dari awal tak pernah kuharap kan justru dia lah yang selalu perduli denganku. Entah mengapa aku jadi sering membanding-bandingkan Kak Riza dengan Arka.
Arka, sebenarnya kamu di mana, apa tidak merasakan sakit seperti yang aku rasakan semenjak kita jauh. Mengapa persahabatan kita menjadi seperti ini.
Citra... Citra....
Kak Sari menyadarkan ku dari lamunan.
"Kamu lagi mikirin apa sih Cit? Bu Monic baik-baik saja kan?" tanya Kak Sari.
"Mama kurang baik kabarnya Kak" ucapku.
Lalu aku menceritakan semuanya pada Kak Sari sampai hari mulai gelap.
__ADS_1